Sore itu hujan di akhir Agustus, di sebuah rumah peristirahatan milik Lady Blemley. Para tamu yang berkumpul di sekeliling meja teh merasa bosan, sampai seorang tamu yang biasa-biasa saja bernama Cornelius Appin mengumumkan sesuatu yang menakjubkan. Ia telah menemukan cara untuk mengajari binatang berbicara bahasa manusia.
Semua orang tertawa. "Dan binatang apa yang telah Anda ajari?" tanya Sir Wilfrid Blemley.
"Kucing Anda, Tobermory," jawab Appin dengan tenang. "Saya telah berhasil dengan dia. Ia sekarang bisa berbicara dengan fasih."
Sir Wilfrid dengan skeptis pergi mencari kucing itu. Beberapa menit kemudian ia kembali dengan wajah pucat pasi. "Astaga, itu benar! Saya menemukannya di ruang merokok, dan saya bilang, 'Ayo, Toby, jangan buat kami menunggu,' dan ia menjawab dengan suara yang sangat alami bahwa ia akan datang kalau ia sudah siap!"
Tobermory masuk ke ruangan dengan langkah santai dan duduk di dekat meja teh. Semua tamu terdiam dan gugup.
"Mau susu, Tobermory?" tanya Lady Blemley dengan suara tegang.
"Boleh saja," jawab Tobermory dengan acuh tak acuh.
Mavis Pellington, seorang tamu yang tak terlalu pintar, bertanya, "Apa pendapatmu tentang kecerdasan manusia?"
"Kecerdasan siapa, secara khusus?" tanya Tobermory dengan dingin.
"Oh, misalnya kecerdasanku," kata Mavis sambil tertawa gugup.
"Anda membuat saya dalam posisi yang canggung," jawab Tobermory. "Ketika Lady Blemley menyarankan agar Anda diundang ke sini, Sir Wilfrid protes bahwa Anda perempuan paling bodoh yang ia kenal. Lady Blemley menjawab bahwa justru kurangnya kecerdasan Anda itulah alasan Anda diundang, karena Anda satu-satunya orang yang cukup bodoh untuk mau membeli mobil tua mereka."
Ruangan itu hening. Lady Blemley memerah. Mavis ternganga.
Para tamu mulai panik. Tobermory, seperti semua kucing, suka berjalan-jalan di mana saja: di atas genteng, di balkon, di bawah jendela kamar tidur. Ia pasti telah mendengar dan melihat segala macam hal yang tak pantas. Dan sekarang ia bisa menceritakannya.
Seorang tamu lain, Major Barfield, mencoba mengalihkan pembicaraan. "Bagaimana kabar kucing betinamu yang berbulu belang di kandang?"
"Kita tak membicarakan urusan seperti itu di depan umum," kata Tobermory dingin. "Dari yang saya perhatikan selama tinggal di rumah ini, saya kira Anda juga tak suka kalau urusan pribadi Anda dibicarakan."
Kepanikan menyebar di antara para tamu. Setiap orang teringat akan rahasia-rahasia mereka sendiri. Tobermory bercerita dengan santai tentang apa yang dibicarakan Nyonya Cornett tentang tamu-tamu lain, dan tentang apa yang dilakukan seorang tamu di kamarnya tengah malam.
Tiba-tiba Tobermory melihat kucing jantan dari rumah pendeta di halaman. Ia langsung melompat keluar jendela dan menghilang.
Para tamu berkumpul dan berunding dengan cemas. Mereka sepakat Tobermory harus dilenyapkan sebelum ia sempat membocorkan lebih banyak rahasia. Sir Wilfrid menyiapkan racun di piring makan malam Tobermory. Mereka juga marah kepada Appin, dan mengancam akan menyingkirkannya juga.
Tetapi Tobermory tak pernah kembali untuk makan malam. Esok paginya, tukang kebun menemukan jasad Tobermory di semak-semak. Ia terbunuh dalam perkelahian dengan kucing jantan besar dari rumah pendeta.
Beberapa minggu kemudian, surat kabar memberitakan bahwa seekor gajah di kebun binatang Dresden, yang biasanya jinak, tiba-tiba mengamuk dan membunuh seorang lelaki Inggris yang sedang menggodanya. Nama lelaki itu dikabarkan bernama Oppin atau Eppelin. Para tamu Lady Blemley membaca berita itu dan mengangguk. Mereka tahu siapa lelaki itu, dan mereka menduga ia sedang mencoba mengajari gajah itu kata kerja bahasa Jerman.
"Kalau ia sedang mengajarinya kata kerja bahasa Jerman yang tak beraturan," kata seorang tamu, "ia pantas mendapatkannya."