Atas permintaan seorang teman dari Timur, aku mengunjungi Simon Wheeler, seorang lelaki tua yang ramah dan banyak bicara, di sebuah kedai tua di kamp tambang Angel's. Temanku memintaku menanyakan kabar seseorang bernama Pendeta Leonidas W. Smiley. Belakangan aku curiga bahwa Leonidas W. Smiley itu tak pernah ada, dan temanku hanya ingin menjebakku mendengarkan cerita Wheeler yang tak ada habisnya tentang seseorang bernama Jim Smiley.
Simon Wheeler memojokkanku di dekat perapian dan mulai bercerita dengan suara datar dan wajah serius. Ia tak pernah tersenyum, tak pernah mengerutkan kening, dan tampaknya tak pernah menyadari bahwa ceritanya lucu.
"Ada seorang lelaki di sini bernama Jim Smiley, sekitar tahun empat puluh sembilan," katanya. "Ia orang paling aneh yang pernah ada, karena ia selalu bertaruh pada apa saja yang bisa dipertaruhkan. Kalau ada pacuan kuda, ia bertaruh. Kalau ada adu anjing, ia bertaruh. Kalau ada dua burung hinggap di pagar, ia bertaruh burung mana yang terbang lebih dulu. Bahkan kalau ia melihat kumbang berjalan, ia akan bertaruh berapa lama kumbang itu sampai ke tujuannya, dan akan mengikutinya sampai ke Meksiko untuk tahu hasilnya."
Jim Smiley punya seekor kuda betina tua yang tampak sakit-sakitan dan lamban, tetapi di detik-detik terakhir pacuan selalu menang. Ia juga punya anjing kecil bernama Andrew Jackson yang tampak tak berguna, tetapi selalu menang adu anjing dengan cara menggigit kaki belakang lawannya dan tak mau melepaskan. Sampai suatu hari ia bertemu anjing yang tak punya kaki belakang.
"Dan ia punya tikus, kucing jantan, dan macam-macam lagi," lanjut Wheeler, "sampai kau tak bisa beristirahat. Suatu hari ia menangkap seekor katak dan membawanya pulang. Ia bilang akan mendidiknya. Selama tiga bulan ia tak melakukan apa-apa selain duduk di halaman belakang, mengajari katak itu melompat. Dan ia benar-benar berhasil. Ia cukup menyentuh punggung katak itu sedikit, dan katak itu langsung melompat berputar di udara seperti donat, jatuh tegak di atas kakinya seperti kucing. Ia juga melatihnya menangkap lalat. Katak itu bisa menangkap lalat dari jarak berapa pun. Namanya Dan'l Webster."
Menurut Wheeler, katak itu rendah hati dan sederhana, meski berbakat luar biasa. Jim Smiley membawanya ke mana-mana di dalam kotak kecil dan memenangkan banyak uang dengannya.
Suatu hari, seorang pendatang asing melihat kotak itu. "Apa isinya?" tanyanya.
"Seekor katak," jawab Smiley. "Katak ini bisa melompat lebih jauh dari katak mana pun di Calaveras County."
Orang asing itu mengamati katak itu lama sekali. "Aku tak melihat ada yang istimewa dari katak ini," katanya.
"Aku berani bertaruh empat puluh dolar!"
"Aku ini orang asing, dan aku tak punya katak. Tapi kalau aku punya, aku berani bertaruh."
"Tak masalah," kata Smiley. "Pegang kotakku, akan kucarikan katak untukmu." Orang asing itu menunggu sementara Smiley pergi ke rawa.
Sambil menunggu, orang asing itu membuka mulut Dan'l, mengambil sesendok teh butiran peluru timah, dan menjejalkannya ke tenggorokan katak itu sampai penuh hingga ke dagu. Lalu ia mengembalikan katak itu ke kotaknya.
Smiley kembali dengan seekor katak. Mereka meletakkan kedua katak itu berdampingan. "Satu, dua, tiga, lompat!" Orang asing itu mendorong kataknya, dan kataknya melompat dengan gesit. Smiley menyentuh punggung Dan'l. Tapi Dan'l hanya mengangkat bahunya seperti orang Prancis, dan tak bergeming. Ia tertancap di tanah seperti landasan besi.
Smiley sangat terkejut dan kesal, tetapi tentu saja tak tahu apa yang terjadi. Orang asing itu mengambil uangnya dan pergi. Di ambang pintu ia menoleh dan berkata, "Aku tak melihat ada yang istimewa dari katak ini."
Smiley berdiri menggaruk-garuk kepala, memandangi Dan'l lama sekali. "Aneh," katanya, "katak ini kelihatan gemuk sekali." Ia mengangkat Dan'l dan mendapati beratnya luar biasa. Ia membalik katak itu, dan Dan'l memuntahkan dua genggam peluru. Smiley langsung berlari mengejar orang asing itu, tetapi tak pernah menangkapnya.
Tepat saat itu, Simon Wheeler dipanggil seseorang dari halaman depan. "Duduklah di sini, jangan ke mana-mana," katanya padaku. "Aku akan kembali sebentar."
Tetapi aku tak berharap riwayat Jim Smiley yang giat itu akan memberiku informasi apa pun tentang Pendeta Leonidas W. Smiley. Maka aku pun pergi. Di pintu, Wheeler yang kembali mencegatku. "Nah, Smiley itu punya seekor sapi kuning bermata satu yang tak punya ekor, hanya potongan pendek seperti pisang, dan..."
Aku tak punya waktu dan tak punya minat mendengar kisah sapi yang malang itu. Aku pun pamit.