Pada suatu masa, Sultan Harun Ar-Rasyid sedang ingin menguji kecerdikan Abu Nawas. Sudah terlalu sering Abu Nawas lolos dari berbagai jebakan, sehingga Sultan penasaran apakah kali ini ia bisa menjebaknya.
Sultan memerintahkan agar dipasang sebuah pengumuman di ujung jembatan yang menuju ke istana. Bunyinya: "Dilarang keras melewati jembatan ini. Siapa yang melanggar akan dihukum."
Lalu Sultan mengutus pengawal untuk memanggil Abu Nawas. "Sultan ingin bertemu denganmu sekarang juga di istana," kata pengawal itu. Satu-satunya jalan menuju istana dari rumah Abu Nawas adalah melewati jembatan tersebut.
Abu Nawas berangkat. Di ujung jembatan, ia membaca pengumuman itu dengan saksama. Ia mengusap-usap janggutnya sebentar, lalu tersenyum. Tanpa ragu ia berjalan melewati jembatan itu dan tiba di istana.
Sultan sudah menunggu dengan senyum puas. "Abu Nawas, bukankah kau sudah membaca pengumuman di ujung jembatan?"
"Sudah, Paduka."
"Dan apa bunyinya?"
"Dilarang keras melewati jembatan ini, Paduka."
"Lalu mengapa kau melanggarnya? Kau tahu hukumannya, bukan?"
Abu Nawas membungkuk hormat. "Ampun, Paduka. Hamba sama sekali tidak melanggar. Pengumuman itu melarang orang melewati jembatan. Karena itu hamba tidak melewatinya. Hamba berjalan di tengah-tengahnya."
Para menteri yang hadir menahan tawa. Sultan terdiam, lalu tertawa terbahak-bahak hingga harus memegangi perutnya. "Kau menang lagi, Abu Nawas!" katanya. "Lewat, lewat, kau bilang bukan lewat, tapi di tengah. Baiklah, pulanglah dengan hadiah dariku."
Abu Nawas pulang membawa sekantong dinar. Ketika melewati jembatan lagi, ia mengangguk sopan kepada pengumuman itu, lalu berjalan tepat di tengah-tengahnya.
Kisah-kisah Abu Nawas dituturkan dari Baghdad hingga Nusantara. Di balik kelucuannya, ada pelajaran bahwa kata-kata harus dipahami dengan cermat, dan bahwa kecerdikan yang santun bisa meluluhkan bahkan hati seorang penguasa.