c
cerpen.web.id suara & bisikan sastra
Kembali
Ukuran Teks:
Humor

Abu Nawas dan Jembatan Sultan

CR
Cerita Rakyat Asia

Diterbitkan 8 September 2026 • 2 Menit Baca

Pada suatu masa, Sultan Harun Ar-Rasyid sedang ingin menguji kecerdikan Abu Nawas. Sudah terlalu sering Abu Nawas lolos dari berbagai jebakan, sehingga Sultan penasaran apakah kali ini ia bisa menjebaknya.

Sultan memerintahkan agar dipasang sebuah pengumuman di ujung jembatan yang menuju ke istana. Bunyinya: "Dilarang keras melewati jembatan ini. Siapa yang melanggar akan dihukum."

Lalu Sultan mengutus pengawal untuk memanggil Abu Nawas. "Sultan ingin bertemu denganmu sekarang juga di istana," kata pengawal itu. Satu-satunya jalan menuju istana dari rumah Abu Nawas adalah melewati jembatan tersebut.

Abu Nawas berangkat. Di ujung jembatan, ia membaca pengumuman itu dengan saksama. Ia mengusap-usap janggutnya sebentar, lalu tersenyum. Tanpa ragu ia berjalan melewati jembatan itu dan tiba di istana.

Sultan sudah menunggu dengan senyum puas. "Abu Nawas, bukankah kau sudah membaca pengumuman di ujung jembatan?"

"Sudah, Paduka."

"Dan apa bunyinya?"

"Dilarang keras melewati jembatan ini, Paduka."

"Lalu mengapa kau melanggarnya? Kau tahu hukumannya, bukan?"

Abu Nawas membungkuk hormat. "Ampun, Paduka. Hamba sama sekali tidak melanggar. Pengumuman itu melarang orang melewati jembatan. Karena itu hamba tidak melewatinya. Hamba berjalan di tengah-tengahnya."

Para menteri yang hadir menahan tawa. Sultan terdiam, lalu tertawa terbahak-bahak hingga harus memegangi perutnya. "Kau menang lagi, Abu Nawas!" katanya. "Lewat, lewat, kau bilang bukan lewat, tapi di tengah. Baiklah, pulanglah dengan hadiah dariku."

Abu Nawas pulang membawa sekantong dinar. Ketika melewati jembatan lagi, ia mengangguk sopan kepada pengumuman itu, lalu berjalan tepat di tengah-tengahnya.

Kisah-kisah Abu Nawas dituturkan dari Baghdad hingga Nusantara. Di balik kelucuannya, ada pelajaran bahwa kata-kata harus dipahami dengan cermat, dan bahwa kecerdikan yang santun bisa meluluhkan bahkan hati seorang penguasa.

Keterangan Salinan

Salinan adaptasi bebas dalam bahasa Indonesia oleh Redaksi cerpen.web.id dari cerita rakyat “Abu Nawas dan Larangan Menyeberangi Jembatan” (kisah jenaka Abu Nawas, Baghdad). Karya aslinya berstatus domain publik. Seluruh penghargaan atas cerita ini tetap milik para penutur aslinya.

CR

Tentang Penulis: Cerita Rakyat Asia

Dongeng dan legenda turun-temurun dari berbagai negeri di Asia.

Lihat Semua Karya Cerita Rakyat Asia →

Tanggapan Pembaca (0)

Cerpen Lain di Humor

HRD
Humor 2 Menit Baca

HRD

Suatu hari, si Doel, ingin meminta tambahan gaji.. dikarenakan dia merasa pekerjaan2 yang dilakukannya sangat-lah berat. Maka dia mengirim lampiran pada manajer HRd.. berikut pesan-nya... Bersama deng...

Hans yang Beruntung
Humor 3 Menit Baca

Hans yang Beruntung

Hans telah bekerja pada majikannya selama tujuh tahun. Suatu hari ia berkata, "Tuan, masa kerja saya sudah selesai. Saya ingin pulang menemui ibu saya. Berikanlah upah saya." Majikannya memb...