Seekor keledai menemukan kulit singa yang ditinggalkan oleh para pemburu di tepi hutan. Kulit itu masih utuh, lengkap dengan surai yang lebat dan kepala yang gagah.
"Aha!" pikir keledai. "Selama ini semua binatang meremehkanku. Mereka menganggapku bodoh dan lemah. Sekarang aku akan menunjukkan siapa aku sebenarnya!"
Ia mengenakan kulit singa itu dan berjalan dengan gagah ke tengah hutan. Hasilnya luar biasa. Begitu melihatnya, kelinci-kelinci lari tunggang-langgang. Rusa-rusa melompat ketakutan. Babi hutan bersembunyi di semak-semak. Bahkan beruang pun memilih menghindar.
Keledai sangat menikmati kekuasaan barunya. Ia berjalan ke sana kemari, dan ke mana pun ia pergi, binatang-binatang lari ketakutan. "Hebat sekali rasanya menjadi raja hutan!" pikirnya bangga.
Lalu ia bertemu seekor rubah. Rubah itu terkejut melihat "singa" di hadapannya, dan bersiap untuk kabur. Tetapi keledai merasa ini saatnya menunjukkan kehebatannya sepenuhnya. Ia ingin mengaum seperti singa untuk membuat rubah itu gemetar.
Ia mengangkat kepalanya tinggi-tinggi, menarik napas panjang, dan mengeluarkan suara sekeras-kerasnya: "Hi-hoooo! Hi-hoooo!"
Rubah yang tadinya hendak lari langsung berhenti. Ia menoleh, mengamati "singa" itu dari ujung kepala sampai ujung kaki, lalu tertawa terbahak-bahak hingga harus memegangi perutnya.
"Oh, Keledai, Keledai!" katanya sambil terus tertawa. "Aku pun mungkin akan takut padamu, seandainya kau tak membuka mulutmu. Kulitmu boleh singa, tapi suaramu tetap suara keledai!"
Binatang-binatang lain yang mendengar suara itu keluar dari persembunyian. Mereka mengepung keledai dan ikut menertawakannya. Kulit singa itu pun ditarik lepas, dan keledai berdiri di tengah hutan dengan wajah malu.
Fabel Aesop ini mengajarkan bahwa kita bisa menyamar dengan penampilan, tetapi sifat asli akan terungkap ketika kita membuka mulut. Lebih baik menjadi diri sendiri daripada berpura-pura menjadi orang lain.