Siang itu panas sekali, dan gerbong kereta api terasa pengap. Stasiun berikutnya masih sejam lagi. Di dalam gerbong duduk seorang perempuan yang mengawasi tiga orang anak kecil: dua anak perempuan dan seorang anak laki-laki. Ia adalah bibi mereka. Di sudut seberang duduk seorang lelaki bujangan yang tak dikenal, dan wajahnya menunjukkan bahwa ia tak senang dengan kebisingan anak-anak itu.
Anak-anak itu gelisah dan cerewet. Mereka terus bertanya kepada bibinya dengan pertanyaan yang tak ada habisnya. "Kenapa domba-domba itu digiring keluar dari lapangan?" "Kenapa rumput di lapangan sebelah lebih bagus?" Bibi mereka menjawab dengan jawaban yang tak memuaskan, dan anak-anak terus bertanya "Kenapa?"
Akhirnya sang bibi memutuskan bercerita untuk menenangkan mereka. Ceritanya tentang seorang gadis kecil yang sangat baik hati. Karena kebaikannya, semua orang menyukainya. Suatu hari gadis itu hampir diserang oleh seekor banteng yang mengamuk, tetapi ia diselamatkan oleh banyak orang yang mengagumi kebaikannya.
"Kalau ia tidak baik, apakah mereka tak akan menyelamatkannya?" tanya anak perempuan yang lebih besar.
"Ceritanya jelek sekali," kata anak perempuan yang lebih kecil dengan tegas.
"Aku tak mendengarkan setelah bagian awal, karena ceritanya bodoh," kata si anak laki-laki.
Lelaki bujangan di sudut tiba-tiba berkata, "Sepertinya Anda tak berhasil sebagai pendongeng." Sang bibi tersinggung. "Sangat sulit bercerita yang bisa dipahami dan disukai anak-anak," katanya dingin.
"Saya tak setuju," kata lelaki itu. "Boleh saya coba?"
Anak-anak menatapnya dengan penasaran.
"Dahulu kala," lelaki itu memulai, "ada seorang gadis kecil bernama Bertha, yang luar biasa baik hatinya."
Anak-anak langsung kecewa. Semua cerita selalu tentang anak yang baik.
"Ia selalu melakukan apa yang disuruh, selalu jujur, selalu menjaga pakaiannya tetap bersih, makan puding susu seperti makan kue, belajar dengan tekun, dan sangat sopan."
"Apakah ia cantik?" tanya anak perempuan yang lebih besar.
"Tidak secantik kalian," kata lelaki itu, "tapi ia sangat, sangat baik."
Ada nada dalam cerita itu yang mulai menarik perhatian mereka. Kata "sangat baik" diucapkan dengan cara yang aneh.
"Ia begitu baik," lanjut lelaki itu, "sehingga ia memenangkan beberapa medali untuk kebaikannya. Ia selalu memakainya di bajunya. Ada medali untuk kepatuhan, medali untuk ketepatan waktu, dan medali untuk tingkah laku yang baik. Medali-medali itu berdentingan setiap kali ia berjalan. Tak ada anak lain di kota itu yang punya tiga medali, jadi semua orang tahu ia anak yang luar biasa baik."
"Pangeran di negeri itu sangat terkesan pada kebaikannya. Ia mengizinkan Bertha berjalan-jalan di taman istananya sekali seminggu. Taman itu sangat indah, dan di sana tak ada bunga, karena babi-babi milik pangeran sudah memakan semuanya."
Anak-anak terpesona. "Kenapa tak ada bunga?"
"Karena babi-babi itu memakannya," ulang lelaki itu. "Pangeran lebih suka babi daripada bunga."
"Suatu hari, ketika Bertha berjalan-jalan di taman, seekor serigala besar datang ke taman itu untuk mencari seekor babi kecil yang gemuk untuk makan malamnya. Ia melihat Bertha, dengan pakaian putih bersihnya yang berkilau dan medalinya. Bertha lari ketakutan dan bersembunyi di balik semak-semak myrtle yang lebat. Serigala itu mengendus-endus mencarinya, tapi bau semak myrtle itu terlalu kuat, dan serigala tak bisa menemukannya."
"Bertha gemetar ketakutan. Dan karena gemetar, medali kepatuhannya berdenting dengan medali tingkah laku baiknya dan medali ketepatan waktunya. Serigala itu mendengar dentingan itu, langsung menerjang ke semak-semak, menyeret Bertha keluar, dan memakannya sampai habis. Yang tersisa hanya sepatunya, sobekan bajunya, dan ketiga medali kebaikannya."
"Apakah babi-babi kecilnya juga dimakan?"
"Tidak. Semuanya selamat."
"Ceritanya dimulai dengan jelek," kata anak perempuan kecil, "tapi akhirnya bagus sekali."
"Itu cerita paling bagus yang pernah kudengar," kata anak perempuan yang lebih besar dengan yakin.
"Satu-satunya cerita yang bagus," kata si anak laki-laki.
"Cerita yang sangat tidak pantas untuk anak-anak kecil!" kata sang bibi dengan marah. "Anda telah merusak pendidikan yang saya tanamkan bertahun-tahun!"
"Bagaimanapun juga," kata lelaki bujangan itu sambil mengambil barang-barangnya ketika kereta berhenti, "saya berhasil membuat mereka diam selama sepuluh menit. Itu lebih dari yang bisa Anda lakukan."