Aku pulang ke kampung halamanku setelah dua puluh tahun merantau, menempuh perjalanan sejauh dua ribu li di tengah musim dingin yang menggigit. Aku pulang untuk menjual rumah tua keluarga kami dan membawa ibuku pindah ke kota tempatku bekerja.
Ketika perahuku mendekati desa, langit kelabu dan angin dingin berembus masuk ke dalam perahu. Dari celah atap perahu, aku melihat desa-desa yang sunyi dan suram di bawah langit yang pucat, tanpa tanda-tanda kehidupan. Hatiku terasa berat. Inikah kampung halaman yang kukenang selama dua puluh tahun?
Ibuku menyambutku dengan gembira, meski ada kesedihan di matanya. Kami membicarakan tentang pindahan. Ia menyebut sebuah nama: "Runtu sering menanyakanmu. Ia ingin sekali bertemu denganmu."
Runtu! Seketika sebuah gambaran indah terlintas di benakku: bulan purnama keemasan di langit biru tua, dan di bawahnya sebidang ladang semangka di tepi laut. Di tengah ladang itu berdiri seorang anak lelaki berumur sebelas atau dua belas tahun, berkalung perak, memegang garpu besi, menusuk seekor musang yang berusaha melarikan diri di antara semangka-semangka.
Itulah Runtu. Tiga puluh tahun yang lalu, ketika aku masih kecil, keluargaku masih kaya. Suatu tahun ada upacara besar, dan ayah Runtu, seorang buruh tani, membawa Runtu untuk membantu. Kami menjadi sahabat. Runtu mengajariku menangkap burung di salju, menceritakan tentang kerang warna-warni di pantai, tentang ikan yang bisa melompat, dan tentang menjaga semangka dari musang di malam hari. Dunianya penuh keajaiban yang tak pernah kukenal. Ketika ia pulang, aku menangis, dan ia bersembunyi di dapur dan menangis juga.
Beberapa hari kemudian, Runtu datang. Aku langsung berdiri menyambutnya. Tetapi aku terkejut. Runtu yang dulu kukenal kini sudah menjadi lelaki tua sebelum waktunya. Wajahnya kelabu dan penuh kerutan dalam, matanya merah bengkak seperti ayahnya dulu, karena angin laut. Ia memakai topi bulu yang compang-camping dan jaket kapas tipis. Tangannya kasar dan pecah-pecah seperti kulit pohon pinus.
"Ah, Kak Runtu, kau sudah datang," kataku dengan gembira, tetapi kata-kata selanjutnya tersangkut di tenggorokanku. Aku ingin bercerita tentang burung, kerang, dan musang, tetapi semuanya seperti terhalang oleh sesuatu.
Runtu berdiri di sana. Wajahnya menunjukkan rasa gembira bercampur sedih. Bibirnya bergerak, tetapi tak ada suara. Akhirnya, dengan sikap hormat, ia berkata dengan jelas:
"Tuan!"
Aku merasa gemetar. Aku tahu, sebuah tembok yang tebal dan menyedihkan telah tumbuh di antara kami. Aku tak bisa berkata apa-apa.
Runtu menceritakan kehidupannya yang sulit: anak-anaknya banyak, panen gagal, pajak tinggi, tentara dan pejabat memeras rakyat. Semuanya membuatnya seperti patung kayu. Ketika kami berangkat, ia mengambil beberapa barang yang kami tinggalkan, termasuk sepasang tempat lilin dan sebuah pedupaan untuk sembahyang. Ia masih percaya pada dewa-dewa untuk memberinya harapan.
Di atas perahu yang membawaku pergi, aku melihat keponakanku, Hong'er, dan anak Runtu, Shuisheng, sudah bersahabat akrab dalam waktu singkat, seperti aku dan Runtu dulu. Aku berharap mereka tak akan terpisahkan oleh tembok seperti kami. Aku berharap mereka akan memiliki kehidupan baru, kehidupan yang belum pernah kami alami.
Aku teringat pedupaan yang diambil Runtu, dan aku menertawakannya dalam hati karena ia masih menyembah berhala. Tetapi bukankah harapanku sendiri juga semacam berhala yang kubuat sendiri?
Ketika hari mulai gelap, di hadapanku terbentang ladang hijau di tepi laut, dan di atasnya, bulan purnama keemasan di langit biru tua. Aku berpikir: harapan itu tak bisa dikatakan ada, atau tak ada. Harapan itu seperti jalan setapak di pedesaan. Awalnya tak ada jalan. Tetapi ketika banyak orang berjalan melewatinya, jalan itu pun tercipta.