Suara alat tenun berderak-derak di depan pintu. Mulan duduk menenun, tetapi pikirannya melayang jauh. Sesekali ia berhenti dan menghela napas panjang.
"Apa yang kau pikirkan, anakku?" tanya ibunya.
"Semalam aku melihat pengumuman wajib militer," jawab Mulan. "Khan sedang mengumpulkan pasukan untuk melawan penyerbu dari utara. Dua belas gulungan daftar nama, dan di setiap gulungan ada nama Ayah."
Ayah Mulan sudah tua dan sering sakit. Ia tak punya anak laki-laki dewasa yang bisa menggantikannya. Adik laki-laki Mulan masih terlalu kecil. Bila ayahnya berangkat, ia mungkin tak akan pernah kembali.
Malam itu Mulan mengambil keputusan besar. Ia memotong rambutnya, mengenakan baju zirah ayahnya, dan pergi ke pasar. Di pasar timur ia membeli seekor kuda yang gagah. Di pasar barat ia membeli pelana. Di pasar selatan ia membeli tali kekang. Di pasar utara ia membeli cambuk panjang.
Pagi-pagi buta, sebelum orang tuanya bangun, ia berangkat. Menjelang malam ia sudah berkemah di tepi Sungai Kuning. Ia tak lagi mendengar suara ayah dan ibunya memanggil namanya, hanya gemuruh air sungai. Esok harinya ia tiba di Pegunungan Hitam, dan yang terdengar hanya ringkik kuda-kuda musuh di kejauhan.
Mulan bergabung dengan pasukan sebagai prajurit laki-laki. Ia menempuh ribuan mil, melintasi gunung dan padang pasir. Angin utara yang dingin membawa suara lonceng jaga malam, dan cahaya bulan berkilau di baju zirahnya. Ia bertempur dalam banyak pertempuran. Banyak jenderal gugur. Tetapi Mulan bertahan, dan keberanian serta kecerdasannya membuatnya naik pangkat.
Dua belas tahun berlalu. Perang akhirnya usai, dan para prajurit yang selamat pulang dengan kemenangan. Kaisar memanggil para pahlawan ke istana dan ingin menganugerahi Mulan jabatan tinggi serta harta berlimpah.
Tetapi Mulan menolak. "Hamba tak menginginkan jabatan maupun harta," katanya. "Hamba hanya mohon diberi seekor unta yang cepat, agar hamba bisa segera pulang ke kampung halaman."
Kabar kepulangannya sampai ke desanya. Ayah dan ibunya yang sudah renta berjalan tertatih-tatih ke gerbang kota untuk menyambutnya. Kakak perempuannya berdandan di depan pintu. Adik laki-lakinya, yang kini sudah dewasa, mengasah pisau untuk menyembelih babi dan domba sebagai pesta.
Mulan masuk ke kamarnya yang lama. Ia melepas baju zirahnya dan mengenakan pakaian perempuan yang dulu. Ia menata rambutnya di depan jendela dan memakai bedak di depan cermin. Lalu ia keluar menemui kawan-kawan seperjuangannya yang ikut mengantarnya pulang.
Kawan-kawannya terpana. Dua belas tahun mereka bertempur bersama, tidur di tenda yang sama, dan tak seorang pun menyadari bahwa Mulan adalah perempuan.
Mulan tersenyum. "Kelinci jantan suka menendang-nendangkan kakinya, dan kelinci betina suka menyipitkan matanya. Tetapi bila keduanya berlari berdampingan, siapa yang bisa membedakan mana yang jantan dan mana yang betina?"
Balada Mulan dinyanyikan di Tiongkok selama lebih dari seribu tahun. Ia dikenang sebagai lambang bakti kepada orang tua dan keberanian yang tak mengenal batas, bahwa kasih seorang anak kepada ayahnya bisa mengalahkan ketakutan terbesar sekalipun.