Di Padang Tarok, Minangkabau, hiduplah seorang gadis bernama Sabai Nan Aluih. Namanya berarti Sabai yang halus, dan memang begitulah perangainya: lembut, sopan, dan penuh sopan santun. Ia tinggal bersama ayahnya, Rajo Babanding, ibunya, dan adik laki-lakinya, Mangkutak Alam, yang manja dan penakut.
Kecantikan Sabai terdengar hingga ke nagari-nagari lain. Seorang saudagar kaya dari Situjuh bernama Rajo nan Panjang datang melamarnya. Usianya jauh lebih tua, dan ia terkenal kasar serta sombong. Rajo Babanding menolak lamaran itu dengan halus.
Rajo nan Panjang merasa terhina. Ia menantang Rajo Babanding bertarung di sebuah padang yang sepi. Rajo Babanding yang terhormat menerima tantangan itu dan datang seorang diri, sesuai adat. Tetapi Rajo nan Panjang licik. Ia membawa pengikutnya yang bersembunyi, termasuk seorang penembak jitu bernama Palimo Bungkuak. Ketika Rajo Babanding sedang bertarung, Palimo Bungkuak menembaknya dari balik semak. Rajo Babanding tewas.
Seorang penggembala melihat kejadian itu dan berlari mengabari keluarga Rajo Babanding. Ibu Sabai menjerit. Mangkutak Alam, satu-satunya lelaki di rumah itu, justru bersembunyi ketakutan dan tak berani berbuat apa-apa.
Sabai Nan Aluih, gadis yang selama ini lembut dan pendiam, bangkit. Ia mengambil senapan milik ayahnya, menyingsingkan kain, dan berangkat seorang diri ke padang tempat ayahnya terbunuh. Ibunya berusaha mencegah, tetapi Sabai berkata, "Bila anak laki-laki tak berani, biarlah anak perempuan yang menegakkan kehormatan keluarga."
Di padang itu, Rajo nan Panjang dan pengikutnya masih berada di sana, tertawa-tawa merayakan kemenangan licik mereka. Melihat Sabai datang, Rajo nan Panjang mengejek, "Apakah kau datang untuk menerima lamaranku, gadis cantik?"
Sabai menatapnya dengan mata yang menyala. "Aku datang untuk menuntut darah ayahku." Ia mengangkat senapannya dan menembak Rajo nan Panjang tepat di dada. Para pengikutnya lari tunggang-langgang.
Sabai menemukan jasad ayahnya dan menangis memeluknya. Ia membawanya pulang untuk dimakamkan dengan terhormat.
Kaba Sabai Nan Aluih dituturkan dalam pertunjukan randai dan dendang di Minangkabau hingga kini. Kisah ini menunjukkan bahwa kelembutan bukanlah kelemahan, dan bahwa keberanian sejati tak mengenal perbedaan antara lelaki dan perempuan.