c
cerpen.web.id suara & bisikan sastra
Kembali
Ukuran Teks:
Keluarga

Sabai Nan Aluih

CR
Cerita Rakyat Nusantara

Diterbitkan 1 Juli 2026 • 2 Menit Baca

Di Padang Tarok, Minangkabau, hiduplah seorang gadis bernama Sabai Nan Aluih. Namanya berarti Sabai yang halus, dan memang begitulah perangainya: lembut, sopan, dan penuh sopan santun. Ia tinggal bersama ayahnya, Rajo Babanding, ibunya, dan adik laki-lakinya, Mangkutak Alam, yang manja dan penakut.

Kecantikan Sabai terdengar hingga ke nagari-nagari lain. Seorang saudagar kaya dari Situjuh bernama Rajo nan Panjang datang melamarnya. Usianya jauh lebih tua, dan ia terkenal kasar serta sombong. Rajo Babanding menolak lamaran itu dengan halus.

Rajo nan Panjang merasa terhina. Ia menantang Rajo Babanding bertarung di sebuah padang yang sepi. Rajo Babanding yang terhormat menerima tantangan itu dan datang seorang diri, sesuai adat. Tetapi Rajo nan Panjang licik. Ia membawa pengikutnya yang bersembunyi, termasuk seorang penembak jitu bernama Palimo Bungkuak. Ketika Rajo Babanding sedang bertarung, Palimo Bungkuak menembaknya dari balik semak. Rajo Babanding tewas.

Seorang penggembala melihat kejadian itu dan berlari mengabari keluarga Rajo Babanding. Ibu Sabai menjerit. Mangkutak Alam, satu-satunya lelaki di rumah itu, justru bersembunyi ketakutan dan tak berani berbuat apa-apa.

Sabai Nan Aluih, gadis yang selama ini lembut dan pendiam, bangkit. Ia mengambil senapan milik ayahnya, menyingsingkan kain, dan berangkat seorang diri ke padang tempat ayahnya terbunuh. Ibunya berusaha mencegah, tetapi Sabai berkata, "Bila anak laki-laki tak berani, biarlah anak perempuan yang menegakkan kehormatan keluarga."

Di padang itu, Rajo nan Panjang dan pengikutnya masih berada di sana, tertawa-tawa merayakan kemenangan licik mereka. Melihat Sabai datang, Rajo nan Panjang mengejek, "Apakah kau datang untuk menerima lamaranku, gadis cantik?"

Sabai menatapnya dengan mata yang menyala. "Aku datang untuk menuntut darah ayahku." Ia mengangkat senapannya dan menembak Rajo nan Panjang tepat di dada. Para pengikutnya lari tunggang-langgang.

Sabai menemukan jasad ayahnya dan menangis memeluknya. Ia membawanya pulang untuk dimakamkan dengan terhormat.

Kaba Sabai Nan Aluih dituturkan dalam pertunjukan randai dan dendang di Minangkabau hingga kini. Kisah ini menunjukkan bahwa kelembutan bukanlah kelemahan, dan bahwa keberanian sejati tak mengenal perbedaan antara lelaki dan perempuan.

Keterangan Salinan

Salinan adaptasi bebas dalam bahasa Indonesia oleh Redaksi cerpen.web.id dari cerita rakyat “Kaba Sabai Nan Aluih” (Sumatra Barat). Karya aslinya berstatus domain publik. Seluruh penghargaan atas cerita ini tetap milik para penutur aslinya.

CR

Tentang Penulis: Cerita Rakyat Nusantara

Kisah-kisah turun-temurun dari berbagai daerah di Indonesia, diceritakan ulang oleh redaksi.

Lihat Semua Karya Cerita Rakyat Nusantara →

Tanggapan Pembaca (0)

Cerpen Lain di Keluarga

Kabuliwala
Keluarga 5 Menit Baca

Kabuliwala

Putriku yang berumur lima tahun, Mini, tak bisa diam barang semenit pun. Ia terus berceloteh sejak bangun tidur sampai tertidur lagi. Ibunya sering kesal dan menyuruhnya diam, tetapi aku tak sanggup....

Harta Karun di Ladang Anggur
Keluarga 2 Menit Baca

Harta Karun di Ladang Anggur

Seorang petani tua yang rajin merasa ajalnya sudah dekat. Ia memiliki sebidang ladang anggur yang luas, hasil kerja kerasnya seumur hidup. Ia juga memiliki tiga orang putra yang sudah dewasa, tetapi m...

Don't Hate me Mom!
Keluarga 5 Menit Baca

Don't Hate me Mom!

SEBUAH KISAH IRONIS DI IRLANDIA UTARA YANG TELAH DITERJEMAHKAN KEDALAM BAHASA INDONESIA SAYA IBU TERBURUK DIDUNIA INI Oh, Tuhan, ijinkan aku menceritakan hal ini.., sebelum ajal menjemputku... 20 tahu...