Di sebuah desa yang tenang, tinggallah seekor tikus di lubang kecil di bawah pohon ek. Rumahnya sederhana, makanannya pun sederhana: biji-bijian, kacang, dan akar-akaran dari ladang. Tetapi ia hidup bahagia.
Suatu hari sepupunya dari kota datang berkunjung. Tikus kota itu berpakaian rapi dan berbicara dengan gaya yang anggun. Tikus desa menyambutnya dengan gembira dan menghidangkan makanan terbaik yang ia punya: segenggam jelai, sepotong keju tua, dan beberapa butir kacang.
Tikus kota mencicipi makanan itu dengan wajah masam. "Sepupuku yang malang," katanya, "bagaimana kau bisa tahan hidup seperti ini? Makananmu hambar, rumahmu sempit, dan di sini sepi sekali. Ikutlah aku ke kota. Akan kutunjukkan kepadamu bagaimana rasanya hidup yang sebenarnya."
Tikus desa tergoda. Malam itu mereka berangkat ke kota. Tikus kota tinggal di sebuah rumah besar milik orang kaya. Mereka menyelinap ke ruang makan, dan mata tikus desa terbelalak. Di atas meja terhidang sisa-sisa pesta: roti lembut, kue manis, buah-buahan, dan daging panggang.
"Makanlah sepuasmu," kata tikus kota.
Baru saja tikus desa menggigit sepotong kue, pintu terbuka dengan keras. Para pelayan masuk sambil bercakap-cakap. Kedua tikus itu melompat dan bersembunyi di balik lemari dengan jantung berdebar kencang.
Ketika suasana kembali tenang, mereka keluar lagi. Tetapi baru beberapa gigitan, terdengar gonggongan anjing. Dua ekor anjing besar berlari masuk ke ruang makan. Kedua tikus itu lari tunggang-langgang dan nyaris tertangkap.
Tikus desa gemetaran di balik dinding. Ia menatap sepupunya dan berkata, "Terima kasih atas jamuanmu, Sepupu. Tapi aku akan pulang malam ini juga. Aku lebih suka makan jelai dengan tenang daripada makan kue dengan rasa takut."
Tikus desa pulang ke lubang kecilnya di bawah pohon ek. Ia makan kacangnya dengan tenang dan tidur nyenyak. Kini ia tahu, hidup sederhana yang damai lebih berharga daripada kemewahan yang penuh kecemasan.