Di tepi sebuah sungai yang lebar, hiduplah seekor kancil yang cerdik. Suatu hari, ia melihat pohon-pohon di seberang sungai sedang berbuah lebat. Buah-buahan ranum bergelantungan, dan rumput di sana tampak jauh lebih hijau. Perut kancil berbunyi.
Masalahnya, sungai itu dalam dan berarus deras. Lebih berbahaya lagi, sungai itu dihuni banyak buaya yang lapar. Kancil tak bisa berenang, dan bahkan bila bisa, ia pasti sudah menjadi santapan sebelum sampai di seberang.
Kancil berpikir keras. Lalu ia tersenyum. Ia berdiri di tepi sungai dan berseru, "Hai, para buaya! Keluarlah! Aku membawa kabar gembira dari Raja Hutan!"
Satu per satu buaya muncul ke permukaan. Pemimpin mereka, seekor buaya tua yang besar, menatap kancil dengan curiga. "Kabar apa itu, Kancil?"
"Raja Hutan akan mengadakan pesta besar," kata kancil dengan wajah serius. "Semua binatang akan mendapat bagian daging. Aku ditugasi menghitung jumlah buaya di sungai ini, supaya tak ada yang kebagian kurang."
Para buaya senang sekali. Air liur mereka menetes membayangkan pesta itu.
"Supaya aku bisa menghitung dengan benar," lanjut kancil, "berbarislah kalian dari tepi sini sampai ke seberang sana."
Para buaya segera berbaris rapi, membentuk jembatan dari punggung-punggung mereka. Kancil pun melompat ke punggung buaya pertama. "Satu!" serunya. Lalu melompat ke buaya berikutnya. "Dua! Tiga! Empat!" Begitu seterusnya, sampai ia melompat ke tepi seberang. "Dua puluh!"
Kancil berbalik dan tertawa. "Terima kasih, kawan-kawan! Sebenarnya tidak ada pesta apa-apa. Aku hanya ingin menyeberang!"
Para buaya menggeram marah dan memukul-mukulkan ekor mereka ke air, tetapi kancil sudah berlari masuk ke hutan dan menikmati buah-buahan yang ranum.
Kisah ini sangat disukai anak-anak di seluruh Nusantara. Kancil mengajarkan bahwa akal dan ketenangan dapat mengalahkan kekuatan. Namun para orang tua juga sering menambahkan: kecerdikan sebaiknya dipakai untuk menyelamatkan diri, bukan untuk merugikan orang lain.