Di tepi sebuah hutan hiduplah seorang penebang kayu yang miskin tetapi jujur. Setiap hari ia menebang kayu di hutan dan menjualnya ke pasar untuk menghidupi keluarganya. Satu-satunya harta yang ia miliki adalah sebuah kapak besi tua.
Suatu hari, ia menebang pohon di tepi sebuah sungai yang dalam. Karena lelah, genggamannya terlepas, dan kapaknya terlempar ke dalam sungai. Kapak itu tenggelam ke dasar sungai yang gelap.
Penebang kayu itu terduduk dan menangis. "Bagaimana aku bisa bekerja tanpa kapak? Bagaimana aku bisa memberi makan keluargaku?"
Tiba-tiba air sungai bergolak, dan muncullah sesosok dewa sungai. "Mengapa kau menangis?" tanyanya.
Penebang kayu menceritakan musibahnya. Dewa itu menyelam ke dalam sungai, lalu muncul kembali membawa sebuah kapak emas yang berkilauan. "Apakah ini kapakmu?"
Penebang kayu memandang kapak emas itu, lalu menggeleng. "Bukan, Tuan. Kapak saya bukan dari emas."
Dewa itu menyelam lagi dan muncul membawa kapak perak yang berkilau. "Apakah ini kapakmu?"
"Bukan, Tuan. Kapak saya juga bukan dari perak."
Dewa itu menyelam untuk ketiga kalinya dan muncul membawa sebuah kapak besi tua. "Apakah ini kapakmu?"
Wajah penebang kayu berseri-seri. "Ya, Tuan! Itu kapak saya! Terima kasih banyak!"
Dewa sungai tersenyum. "Kau sangat jujur. Karena kejujuranmu, ambillah ketiga kapak ini sebagai hadiah." Penebang kayu itu pulang dengan gembira dan menceritakan pengalamannya kepada teman-temannya.
Seorang tetangganya yang serakah mendengar cerita itu. Ia pergi ke sungai yang sama dan sengaja melemparkan kapaknya ke dalam air. Lalu ia pura-pura menangis keras-keras.
Dewa sungai muncul dan bertanya mengapa ia menangis. Setelah mendengar ceritanya, dewa itu menyelam dan muncul membawa kapak emas. "Apakah ini kapakmu?"
"Ya! Ya! Itu kapak saya!" seru si serakah dengan mata berbinar.
Dewa sungai mengerutkan dahi. "Kau berbohong," katanya. "Kau tak pantas mendapatkan apa pun." Ia menghilang ke dalam sungai bersama kapak emas itu, dan tak pernah mengembalikan kapak milik si serakah.
Si serakah pulang tanpa kapak emas, dan bahkan kehilangan kapaknya sendiri. Fabel ini mengajarkan bahwa kejujuran akan selalu dihargai, sedangkan keserakahan dan kebohongan hanya membawa kerugian.