Musim kemarau yang panjang melanda sebuah negeri. Sungai-sungai mengering, kolam-kolam retak, dan tak ada setetes hujan pun selama berbulan-bulan. Binatang-binatang kehausan dan berkeliaran mencari air.
Seekor burung gagak terbang dari satu tempat ke tempat lain. Tenggorokannya kering, dan sayapnya mulai lemas. Ia sudah terbang sejak pagi, tetapi tak menemukan setetes air pun.
Akhirnya, di halaman sebuah rumah, ia melihat sebuah kendi tanah liat. Ia hinggap di bibir kendi dan melongok ke dalam. Ada air di dasar kendi itu! Tetapi airnya sangat sedikit, dan leher kendi itu panjang dan sempit. Paruhnya tak bisa mencapai air.
Gagak mencoba memasukkan kepalanya lebih dalam, tetapi tetap tak sampai. Ia mencoba memiringkan kendi itu, tetapi kendi itu terlalu berat. Kalau ia memecahkannya, airnya akan tumpah dan meresap ke tanah yang kering.
Gagak hampir menyerah. Ia duduk di samping kendi, memandanginya dengan putus asa. Lalu matanya tertumbuk pada kerikil-kerikil kecil yang berserakan di halaman.
Tiba-tiba ia mendapat akal. Ia memungut sebutir kerikil dengan paruhnya, terbang ke bibir kendi, dan menjatuhkannya ke dalam. Plung! Ia memungut kerikil kedua, lalu ketiga, lalu keempat. Setiap kali kerikil masuk, air di dalam kendi naik sedikit.
Pekerjaan itu melelahkan. Gagak sudah sangat haus, dan setiap kerikil hanya menaikkan air sedikit sekali. Tetapi ia tak berhenti. Kerikil demi kerikil ia masukkan dengan sabar.
Akhirnya, setelah puluhan kerikil, air di dalam kendi naik hingga dekat ke bibirnya. Gagak mencelupkan paruhnya dan minum sepuas-puasnya. Air itu terasa sangat segar dan sejuk.
Setelah dahaganya hilang, gagak itu terbang tinggi dengan gembira. Ia telah membuktikan bahwa sedikit akal dan banyak kesabaran bisa mengatasi masalah yang tampaknya mustahil.
Kisah Aesop ini dikenal di seluruh dunia dengan pesannya yang abadi: kebutuhan adalah ibu dari penemuan, dan sedikit demi sedikit, lama-lama menjadi bukit.