Di sebuah rumah besar, hiduplah sekawanan tikus. Mereka tinggal di balik dinding dan di bawah lantai, dan setiap malam mereka keluar mencari sisa-sisa makanan di dapur. Hidup mereka dulu tenang, sampai pemilik rumah memelihara seekor kucing.
Kucing itu sangat pandai berburu. Ia bisa berjalan tanpa suara dan tiba-tiba muncul dari kegelapan. Setiap malam, satu atau dua tikus menjadi korbannya. Para tikus hidup dalam ketakutan. Mereka tak berani keluar mencari makan, dan banyak yang mulai kelaparan.
Suatu malam, para tikus mengadakan rapat besar di sebuah lubang di bawah lantai. Semua tikus hadir, dari yang tua hingga yang muda. "Kita harus melakukan sesuatu," kata pemimpin mereka. "Kalau tidak, kita semua akan habis dimangsa kucing itu."
Banyak usul diajukan. Ada yang ingin pindah rumah. Ada yang ingin menggali terowongan baru. Ada yang ingin menyerang kucing bersama-sama. Tetapi semua usul itu ditolak karena terlalu berbahaya atau tak masuk akal.
Lalu seekor tikus muda berdiri dengan penuh semangat. "Aku punya usul yang cemerlang! Masalah kita adalah kucing itu datang tanpa suara. Bagaimana kalau kita mengalungkan sebuah lonceng di lehernya? Setiap kali ia bergerak, lonceng itu akan berbunyi, dan kita akan tahu ia datang. Kita punya cukup waktu untuk melarikan diri!"
Semua tikus bersorak gembira. "Usul yang luar biasa!" "Kenapa tak terpikir dari dulu?" "Kita selamat!" Mereka bertepuk tangan dan memuji-muji tikus muda itu.
Di tengah sorak-sorai itu, seekor tikus tua yang sejak tadi diam mengangkat tangannya. Semua tikus terdiam.
"Usul itu memang sangat bagus," kata tikus tua itu dengan tenang. "Tapi aku punya satu pertanyaan. Siapa di antara kita yang akan mengalungkan lonceng itu di leher kucing?"
Ruangan itu mendadak sunyi. Tikus-tikus saling berpandangan. Tak seorang pun mengangkat tangan. Tikus muda yang tadi mengusulkan pun menunduk dan diam saja.
Tikus tua itu menghela napas. "Begitulah, anak-anak. Mengusulkan sesuatu itu mudah. Yang sulit adalah melaksanakannya."
Fabel ini melahirkan ungkapan terkenal "mengalungkan lonceng pada kucing", yang berarti melakukan tugas yang berbahaya. Pesannya: gagasan yang hebat tak ada artinya bila tak ada yang berani mewujudkannya.