Dahulu kala, sesosok setan jahat membuat sebuah cermin ajaib. Cermin itu membuat segala yang baik dan indah tampak jelek, dan segala yang buruk tampak lebih buruk lagi. Suatu hari cermin itu jatuh dan pecah menjadi jutaan serpihan kecil yang beterbangan ke seluruh dunia. Bila serpihan itu masuk ke mata seseorang, ia hanya bisa melihat keburukan. Bila masuk ke hatinya, hatinya berubah menjadi sebongkah es.
Di sebuah kota, dua anak bersahabat sangat akrab: Kai dan Gerda. Rumah mereka bersebelahan, dan di antara jendela loteng mereka ada pot-pot bunga mawar yang mereka rawat bersama. Mereka sering duduk di sana, membaca buku bergambar dan bernyanyi.
Suatu hari di musim dingin, sebutir serpihan cermin jahat masuk ke mata Kai, dan serpihan lain menancap di hatinya. Seketika Kai berubah. Ia menjadi kasar dan sinis. Ia mengejek bunga-bunga mawar, menertawakan nenek Gerda, dan tak lagi mau bermain dengan Gerda.
Suatu sore, Kai bermain kereta luncur di alun-alun. Sebuah kereta luncur besar berwarna putih lewat, dan Kai mengikatkan keretanya di belakang. Kereta besar itu melaju makin kencang, keluar dari kota, dan terbang ke angkasa. Pengemudinya adalah Ratu Salju, yang cantik tetapi dingin seperti es. Ia mencium Kai, dan Kai tak lagi merasakan dingin. Ia juga melupakan Gerda dan semua orang di rumah. Ratu Salju membawanya ke istananya di kutub utara.
Semua orang mengira Kai sudah mati. Tetapi Gerda tak percaya. Ketika musim semi tiba, ia memakai sepatu merah barunya dan berangkat mencari Kai.
Perjalanannya panjang. Ia sempat tinggal di rumah seorang penyihir tua yang ingin menahannya, tetapi bunga-bunga mawar di taman mengingatkannya pada Kai. Seekor burung gagak membantunya menemui seorang pangeran dan putri yang baik hati, yang memberinya kereta emas. Di hutan, ia ditangkap oleh para perampok, tetapi seorang gadis perampok kecil membebaskannya dan memberinya seekor rusa kutub untuk membawanya ke utara.
Rusa kutub itu berlari melewati padang salju hingga tiba di istana Ratu Salju. Di sana, Gerda menemukan Kai duduk sendirian di atas danau yang membeku. Tubuhnya biru kedinginan, tetapi ia tak merasakannya. Ia sedang menyusun kepingan-kepingan es, mencoba membentuk kata "Keabadian". Ratu Salju berjanji, bila ia berhasil, ia akan bebas dan mendapat sepasang sepatu seluncur.
Gerda berlari memeluk Kai dan menangis. Air matanya yang hangat jatuh ke dada Kai, menembus hatinya, dan mencairkan serpihan es di dalamnya. Kai menatap Gerda, lalu ia pun menangis. Air matanya membawa keluar serpihan cermin dari matanya. "Gerda! Gerda sayang! Di mana saja kau selama ini?"
Kepingan-kepingan es itu menari-nari gembira, lalu menyusun sendiri kata "Keabadian". Kai pun bebas. Mereka pulang bergandengan tangan. Ketika tiba di rumah, mereka menyadari bahwa mereka telah tumbuh dewasa, tetapi hati mereka tetap seperti anak-anak. Di jendela loteng, bunga-bunga mawar sedang mekar.
Kisah Andersen ini mengajarkan bahwa kasih yang tulus bisa mencairkan hati yang paling beku sekalipun.