Seekor rubah yang suka mempermainkan binatang lain mengundang seekor bangau untuk makan malam di rumahnya. "Datanglah, sahabatku," katanya dengan senyum manis. "Aku akan menyiapkan hidangan istimewa untukmu."
Bangau senang sekali diundang. Malam itu ia datang dengan perut lapar. Rubah menghidangkan sup yang harum, tetapi ia menyajikannya di atas piring ceper yang sangat dangkal.
Rubah menjilati supnya dengan mudah. Slurp, slurp! Dalam sekejap piringnya bersih. Sementara itu bangau hanya bisa mematuk-matuk piring dengan paruhnya yang panjang dan runcing. Tak setetes sup pun yang bisa ia minum.
"Ada apa, Bangau? Kau tak suka supku?" tanya Rubah pura-pura prihatin, sambil menahan tawa.
"Oh, supnya pasti enak," jawab Bangau dengan sopan. "Hanya saja aku sedang tak begitu lapar." Ia pulang dengan perut keroncongan, tetapi ia tak marah. Ia hanya berpikir.
Beberapa hari kemudian, Bangau mengundang Rubah makan malam di rumahnya. Rubah datang dengan gembira, membayangkan hidangan lezat.
Bangau menghidangkan daging cincang yang sangat harum. Tetapi ia menyajikannya di dalam dua buah kendi tinggi yang lehernya panjang dan sempit. Bangau memasukkan paruhnya yang panjang ke dalam kendi dan makan dengan lahap.
Rubah hanya bisa menjilat-jilat bibir kendi. Moncongnya terlalu besar untuk masuk ke leher kendi yang sempit. Ia mencium aroma daging yang lezat, tetapi tak bisa mencicipinya sedikit pun.
"Ada apa, Rubah? Kau tak suka masakanku?" tanya Bangau dengan wajah polos.
Rubah terdiam. Ia sadar bahwa Bangau sedang membalas perbuatannya dengan cara yang sama. Ia pulang dengan perut lapar dan wajah merah karena malu.
Sejak hari itu, Rubah tak lagi suka mempermainkan binatang lain. Fabel Aesop ini mengajarkan bahwa perbuatan buruk akan kembali kepada pelakunya, dan bahwa kita sebaiknya memperlakukan orang lain sebagaimana kita ingin diperlakukan.