Pada suatu siang yang terik, seekor rubah berjalan menyusuri tepi kebun. Perutnya keroncongan karena sejak pagi ia belum menemukan makanan. Tenggorokannya kering, dan langkahnya mulai gontai.
Tiba-tiba matanya menangkap sesuatu yang berkilau di atas sana. Setandan buah anggur ungu tergantung di sulur yang merambat pada tiang tinggi. Buahnya ranum, besar-besar, dan tampak sangat segar. Air liur rubah menetes.
"Wah, itu yang kubutuhkan!" gumamnya. "Manis dan menyegarkan."
Rubah mundur beberapa langkah, mengambil ancang-ancang, lalu melompat setinggi-tingginya. Moncongnya hampir menyentuh anggur itu, tetapi masih kurang sedikit. Ia jatuh berguling di tanah.
Ia mencoba lagi. Kali ini ia berlari lebih kencang dan melompat lebih tinggi. Tetap tidak sampai. Ia mencoba lagi, dan lagi, dan lagi. Setiap kali, anggur itu seolah bergoyang mengejeknya dari atas.
Setelah belasan kali mencoba, tubuh rubah penuh debu dan napasnya tersengal-sengal. Kakinya pegal. Ia duduk dan menatap anggur itu dengan kesal.
Seekor burung pipit yang sejak tadi memperhatikan dari dahan pohon bertanya, "Hai, Rubah! Kenapa berhenti? Anggurnya masih di sana!"
Rubah mengangkat dagunya tinggi-tinggi dan berjalan pergi dengan gaya angkuh. "Ah, aku tidak berminat lagi," katanya. "Setelah kulihat baik-baik, anggur itu pasti masih masam. Aku tak mau makan anggur masam."
Burung pipit tertawa kecil. Ia tahu anggur itu sudah matang dan manis. Rubah hanya tak mau mengakui bahwa ia gagal.
Kisah ini dikenal di seluruh dunia. Dari sinilah muncul ungkapan "anggur masam", untuk menggambarkan orang yang meremehkan sesuatu hanya karena ia tak mampu mendapatkannya. Lebih baik jujur mengakui kegagalan, lalu mencari cara lain, daripada menipu diri sendiri.