Di sebuah padang rumput yang luas, hiduplah seekor kelinci yang sangat bangga akan kecepatannya. Setiap hari ia berlari ke sana kemari sambil mengejek binatang lain. "Tak ada yang bisa mengalahkanku!" serunya. "Aku yang paling cepat di seluruh hutan!"
Suatu pagi, ia melihat seekor kura-kura berjalan pelan menuju kolam. Kelinci tertawa terpingkal-pingkal. "Hai, Kura-kura! Kalau kau berjalan secepat itu, kau baru sampai di kolam besok lusa!"
Kura-kura berhenti dan menatapnya dengan tenang. "Kalau begitu, bagaimana kalau kita berlomba?" tanyanya.
Kelinci hampir tersedak karena tertawa. "Kau? Berlomba denganku? Baiklah, supaya kau belajar tahu diri!"
Kabar itu segera menyebar. Keesokan harinya seluruh binatang berkumpul. Rubah ditunjuk sebagai juri. Garis akhir ditetapkan di pohon beringin besar di seberang bukit. "Siap... mulai!" seru Rubah.
Kelinci melesat seperti anak panah. Dalam sekejap ia sudah jauh di depan, sementara kura-kura baru melangkah beberapa jengkal. Ketika sampai di tengah jalan, kelinci menoleh. Kura-kura sama sekali tak kelihatan.
"Ah, dia masih jauh sekali," pikir kelinci. "Aku istirahat sebentar saja di bawah pohon ini. Nanti aku tinggal berlari sedikit dan tetap menang." Angin sepoi-sepoi membelai bulunya, dan tanpa sadar ia tertidur pulas.
Sementara itu kura-kura terus berjalan. Langkahnya pelan, tetapi ia tak pernah berhenti. Ia melewati kelinci yang sedang mendengkur, dan terus melangkah, selangkah demi selangkah, mendaki bukit.
Matahari mulai condong ke barat ketika kelinci terbangun. Ia melompat kaget dan berlari sekencang-kencangnya. Tetapi ketika ia tiba di puncak bukit, ia melihat sorak-sorai binatang di bawah pohon beringin. Kura-kura sudah berdiri di garis akhir.
Kelinci menunduk malu. Kura-kura tidak mengejeknya. Ia hanya berkata, "Pelan tidak apa-apa, asal tidak berhenti."
Sejak hari itu kelinci tak lagi sombong. Dan binatang-binatang di padang rumput selalu mengingat lomba itu: kesungguhan dan ketekunan bisa mengalahkan bakat yang disia-siakan.