Seekor anjing sedang berjalan pulang dengan hati gembira. Di mulutnya tergigit sepotong daging yang besar dan lezat, yang baru saja ia dapatkan dari tukang daging di pasar. Ia berniat membawanya ke tempat yang tenang agar bisa menikmatinya sendirian tanpa diganggu anjing-anjing lain.
Untuk sampai ke rumahnya, ia harus menyeberangi sebuah sungai kecil melalui jembatan kayu yang sempit. Air sungai itu tenang dan jernih seperti cermin.
Ketika sampai di tengah jembatan, anjing itu melihat ke bawah. Di permukaan air, ia melihat seekor anjing lain yang juga menggigit sepotong daging. Daging itu tampak lebih besar daripada daging miliknya!
Anjing itu tak sadar bahwa yang ia lihat hanyalah bayangannya sendiri. Ia merasa iri. "Wah, daging anjing itu lebih besar dari punyaku," pikirnya. "Kalau aku bisa merebutnya, aku akan punya dua potong daging!"
Keserakahan menguasainya. Ia ingin merebut daging dari anjing di dalam air. Ia menggeram dengan galak, lalu membuka mulutnya lebar-lebar untuk menggonggong dan menakut-nakuti anjing itu.
Begitu mulutnya terbuka, daging yang ia gigit jatuh ke dalam sungai. Plung! Daging itu tenggelam dan hanyut terbawa arus. Anjing di dalam air pun menghilang, karena permukaan air beriak.
Anjing itu terpaku di atas jembatan, memandangi sungai dengan wajah bingung. Ketika air kembali tenang, ia melihat lagi anjing di dalam air, kini dengan mulut kosong, sama seperti dirinya.
Barulah ia sadar bahwa anjing itu hanyalah bayangannya sendiri. Ia telah kehilangan daging yang sudah ia miliki, hanya karena menginginkan sesuatu yang sebenarnya tak pernah ada.
Anjing itu pulang dengan perut lapar dan hati penuh penyesalan. Sejak hari itu, ia belajar untuk bersyukur atas apa yang dimilikinya.
Fabel Aesop ini mengajarkan bahwa keserakahan membuat kita kehilangan apa yang sudah kita miliki. Orang yang selalu menginginkan lebih, sering kali berakhir tanpa memiliki apa-apa.