Phatik Chakravarti adalah pemimpin anak-anak nakal di desanya. Umurnya empat belas tahun. Suatu hari ia punya gagasan: menggulingkan sebatang kayu besar di tepi sungai, yang akan dijadikan tiang perahu. Semua anak setuju. Tetapi adiknya, Makhan, duduk di atas kayu itu dan tak mau pindah. Phatik dan kawan-kawannya menggulingkan kayu itu bersama Makhan di atasnya. Makhan jatuh dan menangis, lalu mengadu kepada ibu mereka. Seperti biasa, Phatik yang dimarahi.
Ibu mereka sudah lelah dengan kenakalan Phatik. Tepat pada saat itu, pamannya, Bishamber, datang dari Kolkata setelah bertahun-tahun di sana. Ia menawarkan untuk membawa Phatik ke Kolkata dan menyekolahkannya. Ibunya dengan lega setuju. Phatik pun senang sekali. Ia membagikan kail, layang-layang, dan kelerengnya kepada Makhan dengan murah hati.
Tetapi Kolkata tak seperti yang ia bayangkan. Bibinya tak menyukai kedatangannya. Ia sudah punya tiga anak sendiri, dan anak lelaki berumur empat belas tahun dari desa yang canggung dan tak tahu sopan santun kota hanyalah beban tambahan. Ia memperlakukan Phatik dengan dingin.
Phatik tak punya tempat di rumah itu. Di sekolah ia menjadi anak paling bodoh di kelas. Gurunya sering memukulnya. Sepupu-sepupunya malu padanya. Ia sangat merindukan rumah. Ia merindukan padang rumput luas tempat ia menerbangkan layang-layang, sungai tempat ia berenang, dan bahkan ibunya, yang dulu sering memarahinya.
Suatu hari Phatik kehilangan buku pelajarannya. Ia tak berani meminta uang untuk membeli yang baru. Gurunya memukulnya setiap hari. Sepupunya malu mengakuinya. Phatik tak tahan lagi. Ia bertanya kepada pamannya, "Paman, kapan aku boleh pulang?"
"Tunggu sampai liburan sekolah," jawab pamannya. Liburan itu masih lama, di bulan Kartik.
Suatu malam, Phatik terserang demam. Ia takut menjadi beban lagi bagi bibinya. Esok harinya, ia menghilang. Polisi dicari ke mana-mana, tetapi ia tak ditemukan. Malam berikutnya, dalam hujan deras, dua orang polisi membawa Phatik pulang, basah kuyup dan menggigil. Ia berusaha berjalan pulang ke desanya sendirian.
Demamnya makin parah. Ia menggigau sepanjang malam. "Paman, apakah liburan sudah tiba? Apakah aku boleh pulang?" Pamannya mengirim telegram kepada ibu Phatik.
Phatik terbaring dengan mata merah, terus menggigau. Ia membayangkan dirinya di atas perahu, di sungai desanya. Seperti para tukang perahu yang mengukur kedalaman air, ia bergumam, "Satu depa... belum sampai dasar. Dua depa... belum sampai dasar..."
Ibunya tiba, menangis tersedu-sedu, dan memeluknya. "Phatik, anakku sayang, sayangku!"
Phatik berhenti bergerak. Ia membuka matanya perlahan dan menatap ibunya. "Ibu," katanya lemah, "liburan sudah tiba, Ibu. Aku akan pulang."
Kisah Tagore yang lembut dan menyayat hati ini menggambarkan betapa rapuhnya hati seorang anak yang jauh dari rumah, dan betapa kerinduan pada kasih seorang ibu bisa lebih kuat dari apa pun.