Suatu hari, Angin Utara dan Matahari bertengkar tentang siapa di antara mereka yang paling kuat.
"Aku jauh lebih kuat darimu," kata Angin sambil menderu. "Aku bisa menumbangkan pohon, menggulung ombak, dan menerbangkan atap rumah."
Matahari tersenyum. "Kekuatan tidak selalu harus ditunjukkan dengan cara seperti itu," jawabnya lembut.
"Kalau begitu, buktikan!" tantang Angin.
Pada saat itu, seorang musafir sedang berjalan di jalan setapak di bawah mereka. Ia mengenakan mantel tebal. Matahari berkata, "Baiklah. Siapa yang bisa membuat musafir itu melepaskan mantelnya, dialah yang paling kuat."
Angin setuju dengan penuh percaya diri. "Itu mudah sekali. Lihat saja!"
Angin pun mulai bertiup. Mula-mula pelan, lalu makin kencang. Debu beterbangan, dedaunan berputar-putar, dan ranting-ranting patah. Musafir itu terhuyung-huyung, tetapi bukannya melepaskan mantel, ia justru menarik mantelnya lebih erat dan mengancingkannya sampai ke leher.
Angin makin marah dan bertiup sekuat tenaga. Badai menderu. Musafir itu membungkuk, memegangi mantelnya dengan kedua tangan, dan berlindung di balik batu besar. Makin kencang angin bertiup, makin erat ia berpegangan pada mantelnya. Akhirnya Angin kelelahan dan menyerah.
"Sekarang giliranku," kata Matahari.
Matahari keluar dari balik awan dan bersinar dengan hangat. Perlahan-lahan udara menjadi nyaman. Musafir itu berdiri, mengusap debu dari wajahnya, dan melanjutkan perjalanan. Ia membuka kancing mantelnya karena mulai merasa gerah.
Matahari bersinar sedikit lebih terik. Musafir itu menyeka keringat dari dahinya. Tak lama kemudian ia melepaskan mantelnya, menyampirkannya di bahu, lalu duduk beristirahat di bawah pohon yang teduh.
Angin terdiam. Ia harus mengakui kekalahannya.
Matahari berkata pelan, "Kau lihat, Angin? Kelembutan sering kali lebih kuat daripada paksaan."
Kisah ini mengajarkan bahwa bujukan yang hangat dan ramah lebih mudah menyentuh hati orang daripada kekerasan dan paksaan.