Suatu siang, Kancil sedang berjalan-jalan di hutan ketika tiba-tiba seekor harimau besar melompat di depannya. "Hmm, makan siang yang lezat," geram Harimau sambil menjilat bibirnya.
Kancil ketakutan setengah mati, tetapi ia tak menunjukkannya. Matanya melirik ke sekitar dan melihat seekor ular sanca besar melingkar di atas batu, sedang tidur. Kancil cepat-cepat berdiri di depan ular itu dengan sikap sangat serius.
"Tunggu dulu, Harimau," katanya. "Aku tak bisa kau makan sekarang. Aku sedang bertugas."
"Bertugas? Tugas apa?" tanya Harimau curiga.
"Aku ditugasi Raja Hutan menjaga ikat pinggang pusakanya ini," kata Kancil sambil menunjuk ular yang melingkar. "Ikat pinggang ini sangat sakti. Siapa pun yang memakainya akan menjadi binatang paling kuat dan paling ditakuti di seluruh hutan."
Mata Harimau berbinar. "Benarkah? Aku ingin memakainya!"
"Oh, tidak bisa," kata Kancil sambil menggeleng. "Ini milik Raja. Kalau Raja tahu aku meminjamkannya, aku bisa dihukum."
Harimau makin penasaran. "Ayolah, Kancil. Sebentar saja. Aku hanya ingin mencobanya. Kalau kau tak mau, aku makan kau sekarang juga!"
Kancil pura-pura berpikir keras. "Baiklah, baiklah. Tapi biarkan aku pergi dulu agar Raja tak tahu aku yang meminjamkannya. Setelah aku jauh, barulah kau pakai ikat pinggang itu. Lilitkan erat-erat ke pinggangmu, ya, supaya kesaktiannya meresap."
Harimau setuju. Kancil berlari secepat-cepatnya hingga tak terlihat lagi. Harimau lalu mendekati ular yang sedang tidur itu dan dengan hati-hati mencoba melilitkannya ke pinggangnya.
Ular sanca itu terbangun karena diganggu. Ia sangat marah. Dengan cepat ia melilit tubuh Harimau erat-erat, makin lama makin kencang. Harimau meronta-ronta dan mengaum kesakitan. Ia berguling ke sana kemari, dan setelah berjuang lama, akhirnya ia berhasil melepaskan diri dan lari terbirit-birit.
Dari balik semak di kejauhan, Kancil tertawa terpingkal-pingkal. "Bagaimana, Harimau? Sudah merasa jadi yang paling kuat?"
Dongeng Kancil ini disukai anak-anak di seluruh Nusantara. Ia mengajarkan bahwa dalam keadaan terdesak, akal yang tenang bisa menyelamatkan kita, dan bahwa keinginan untuk menjadi yang paling hebat bisa membuat kita mudah tertipu.