Seorang petani dan istrinya hidup sederhana di sebuah desa kecil. Mereka memelihara beberapa ekor ayam dan seekor angsa putih. Suatu pagi, ketika petani itu memeriksa kandang, ia menemukan sesuatu yang membuatnya terpaku: sebutir telur yang berkilauan kuning.
Ia mengambilnya dengan tangan gemetar. Telur itu berat, jauh lebih berat daripada telur biasa. Ia membawanya ke pandai emas di kota, dan pandai emas itu memastikan bahwa telur itu terbuat dari emas murni.
Petani itu pulang dengan kantong penuh uang. Keesokan paginya, angsa itu bertelur emas lagi. Dan keesokan harinya lagi. Setiap pagi, angsa itu memberi sebutir telur emas.
Dalam waktu singkat petani itu menjadi kaya. Ia membangun rumah besar, membeli pakaian mewah, dan menyewa pelayan. Tetapi makin kaya, makin ia merasa tak puas.
"Sehari sebutir," gerutunya kepada istrinya. "Lambat sekali. Kalau begini terus, kapan kita bisa menjadi orang terkaya di negeri ini?"
"Kita sudah punya lebih dari cukup," jawab istrinya. "Bersyukurlah."
Namun petani itu tak mau mendengar. Ia mulai berpikir: bila angsa itu bisa mengeluarkan telur emas setiap hari, pastilah di dalam perutnya tersimpan banyak sekali emas. Bila ia membelah perut angsa itu, ia bisa mendapatkan semua emasnya sekaligus.
Suatu malam, tanpa sepengetahuan istrinya, ia mengambil pisau dan pergi ke kandang. Dengan tangan gemetar karena tamak, ia menyembelih angsa itu dan membelah perutnya.
Tak ada emas di dalamnya. Perut angsa itu sama seperti perut angsa biasa. Petani itu terduduk lemas. Ia telah membunuh satu-satunya sumber kekayaannya karena tak sabar.
Sejak hari itu tak ada lagi telur emas. Uangnya perlahan habis, dan ia kembali menjadi petani biasa, dengan penyesalan yang tak pernah hilang.
Pesan dari kisah ini sederhana tetapi abadi: keserakahan bisa membuat kita kehilangan segalanya, termasuk apa yang sudah kita miliki.