Di sebuah desa di kaki bukit, ada seorang anak gembala yang setiap hari menggiring domba-domba penduduk ke padang rumput. Pekerjaannya sederhana: menjaga domba dari serigala. Tetapi bagi anak itu, pekerjaan tersebut sangat membosankan.
Suatu siang, ketika matahari terik dan domba-domba sedang merumput dengan tenang, ia mendapat ide. Ia berdiri di atas batu dan berteriak sekuat tenaga, "Tolong! Ada serigala! Serigala menyerang domba-domba!"
Para petani di bawah bukit segera meninggalkan pekerjaan mereka. Dengan membawa cangkul dan tongkat, mereka berlari mendaki bukit dengan napas terengah-engah. Namun sesampainya di atas, mereka tak menemukan serigala. Yang ada hanya domba-domba yang tenang dan anak gembala yang tertawa terbahak-bahak.
"Kalian tertipu!" serunya.
Para petani pulang dengan wajah kesal. "Jangan main-main seperti itu lagi," pesan salah seorang.
Beberapa hari kemudian, anak itu kembali bosan. Ia berteriak lagi, "Serigala! Serigala!" Dan lagi-lagi para petani berlari mendaki bukit, hanya untuk menemukan anak itu tertawa. Kali ini mereka benar-benar marah.
Seminggu kemudian, menjelang senja, seekor serigala sungguhan muncul dari balik semak. Matanya berkilat dan taringnya tajam. Serigala itu mendekati kawanan domba dengan langkah mengendap-endap.
Anak gembala itu ketakutan setengah mati. "Tolong! Serigala! Kali ini sungguhan! Tolong!" teriaknya sekeras-kerasnya.
Para petani di bawah mendengar teriakannya. Tetapi mereka hanya menggeleng. "Anak itu berbohong lagi," kata mereka. "Kita tak akan tertipu untuk ketiga kalinya." Tak seorang pun datang.
Serigala itu menyerang kawanan domba dan membuat mereka lari tercerai-berai. Anak gembala itu hanya bisa menangis di atas batu.
Malam itu, kepala desa menemuinya. Dengan lembut ia berkata, "Nak, orang yang suka berbohong tidak akan dipercaya, bahkan ketika ia berkata jujur." Anak gembala itu mengangguk sambil terisak. Ia tak pernah lagi berbohong seumur hidupnya.