Pak Tani baru saja panen di kebun timunnya. Timun-timun itu besar, hijau, dan segar. Tetapi setiap pagi, ia mendapati beberapa timun hilang, dan tanaman-tanamannya rusak diinjak-injak.
"Pasti ada pencuri," gumamnya kesal. "Akan kutangkap dia!"
Pak Tani pun membuat orang-orangan sawah dan melumurinya dengan getah nangka yang sangat lengket. Orang-orangan itu diberi baju dan caping, lalu diletakkan di tengah kebun timun.
Malam harinya, seekor kancil mengendap-endap masuk ke kebun. Ia memang pencurinya. Kancil melihat sosok di tengah kebun dan terkejut. "Siapa itu? Pak Tani?" bisiknya.
Sosok itu diam saja. Kancil mendekat. "Hai, Pak Tani! Aku cuma mau ambil sedikit timun. Boleh, kan?" Orang-orangan itu tetap diam. Kancil mulai kesal. "Kenapa kau diam saja? Sombong sekali!"
Ia memukul orang-orangan itu dengan kaki depannya. Kakinya langsung menempel. Kancil menariknya, tetapi tak bisa lepas. Ia memukul dengan kaki yang lain, dan kaki itu pun menempel. Ia menendang dengan kaki belakang, dan menempel juga. Akhirnya seluruh tubuh kancil melekat pada orang-orangan itu.
Esok paginya Pak Tani datang dan tertawa puas. "Jadi kau pencurinya, Kancil! Nanti malam kau akan kujadikan sate!" Ia memasukkan kancil ke dalam kandang ayam dan menguncinya.
Kancil memutar otak. Tak lama kemudian, seekor anjing melintas. "Hai, Anjing," sapa kancil dengan riang. "Tahukah kau, Pak Tani akan menikahkanku dengan putrinya nanti malam? Ada pesta besar!"
Anjing itu iri. "Enak sekali kau! Aku yang sudah bertahun-tahun menjaga rumah ini tak pernah diberi apa-apa."
"Kalau kau mau, gantikan saja aku," kata kancil. "Aku sebenarnya belum siap menikah."
Anjing itu membuka kunci kandang dan masuk. Kancil segera melompat keluar dan menguncinya kembali, lalu lari ke dalam hutan.
Sore harinya, Pak Tani terkejut mendapati anjingnya di dalam kandang. Anjing itu hanya bisa menunduk malu. Dari kisah ini anak-anak belajar dua hal: jangan mengambil milik orang lain, dan jangan mudah tergiur oleh janji manis yang terlalu indah untuk menjadi kenyataan.