Bel
tanda istirahat baru berbunyi beberapa menit lalu. Tapi keributan di
kelas enam sudah mulai. Pertengkaran mulut antara Ary dan Arie. Seperti
biasa, masalah nama mereka. Meski ditulis berbeda, tapi dibaca sama,
yakni Ari.
"Pokoknya kamu harus mengganti nama panggilanmu," seru Ary lantang.
"Kenapa aku yang harus mengganti? Kenapa bukan kamu?" balik Arie.
"Karena
aku lebih dulu sekolah di sini. Sedang kamu anak baru! Lagipula
panggilan itu cuma pantas buat anak laki-laki," sambung Ary.
Arie bertolak pinggang. "Peraturan mana itu?" tantang Arie.
"Peraturannya
belum kubuat. Tapi buktinya banyak. Lihat saja bintang sinetron, Ari
Wibowo atau Ari Sihasale, itu semuanya cowok. Pokoknya, mulai besok
kamu harus mengganti nama panggilanmu," ancam Ary.
"Enak
saja. Kamu saja. Nama panjangmu itu Aryanto Sadewa. Ganti saja menjadi
Yanto, Sade atau Dewa. Kalau namaku memang Arie Manisha. Jadi
panggilanku memang Arie," Arie bersikeras.
Anak-anak
kelas enam yang melihat hanya menggelengkan kepala. Sudah dua hari ini
kelas mereka selalu ramai saat istirahat. Sejak kehadiran anak baru
bernama Arie. Masalahnya hanya sebuah nama. Tapi keduanya sama-sama
keras kepala.
Di luar kelas anak-anak mulai mengadu kepada Oben, sang ketua kelas.
"Tidak baik membiarkan mereka terus bertengkar, Ben," desak Rani.
"Aku
juga tidak suka melihat mereka bertengkar. Hanya saja kupikir, mereka
bisa menyelesaikan masalah mereka sendiri," sahut Oben.
"Tapi kalau sudah begini...apa kamu mau diam terus?" desak Puput.
"Aku
sudah punya rencana. Mulai besok pagi, kita jalankan rencana ini," kata
Oben. Ia segera memaparkan rencananya. Ketika sekolah bubar seisi kelas
enam sudah memahami rencana itu. Tentu saja selain Ary dan Arie.
Keesokan paginya Ary seperti biasa berangkat dengan sepedanya. Dalam perjalanan ia menjemput Dika dan Asep.
"Kalian sudah bikin pe-er matematika?" tanya Ary sambil mengayuh sepeda.
"Sudah. Kamu, Wa?" balik Dika.
"Dewa, biasanya kamu suka lupa. Hati-hati, nanti kena hukum lagi," susul Asep.
"Dewa...? Kalian memanggilku Dewa? Heh, pasti kalian sudah kena suap anak baru itu, agar memanggilku Dewa."
"Maksudmu, Nisha menyogok kami? Tidak sama sekali!" kilah Asep.
"Nisha? Jadi kalian juga mengganti nama panggilan anak baru itu? Hahaha, ini pasti ulah Oben!"
"Ya, kami sekelas terpaksa sepakat mengganti nama panggilan kalian. Habis, tak ada yang mau mengalah, sih," jelas Dika.
"Hmmmm, tapi tak semudah itu. Aku tidak akan menyahut dengan nama panggilan itu," Ary bersikeras.
"Ayolah...apa jeleknya sih nama panggilan Dewa. Malah kelihatan lebih gagah untukmu," bujuk Dika.
"Hmm,
kedengarannya tidak enak saja..." Ary mengayuh sepedanya lebih cepat.
Ia meninggalkan kedua temannya itu. Sampai di kelas, teman yang lain
ternyata memanggilnya dengan nama Dewa.
Kejanggalan
pun dirasakan oleh Arie. Ia kaget ketika teman-temannya mulai
memanggilnya Nisha. Arie tidak berani protes, karena semua teman
sekelasnya memanggilnya begitu.
Oben sedikit lega ketika tahu rencananya berjalan mulus. Tapi benarkah?
Ternyata tidak! Tiba-tiba di saat istirahat seisi kelas enam terkejut melihat Arie menangis sesegukkan di bangkunya.
"Kenapa kamu menangis, Nisha?" tanya Rani yang sebangku dengannya.
"Aku sedih...karena...kalian memanggilku...Nisha...."
"Oh... itu kami lakukan karena kau dan Ary selalu bertengkar," jelas Rani.
"Tapi
aku sedih jika dipanggil Nisha. Nama panggilan itu membuat aku teringat
pada nenekku. Dulu sebelum pindah ke sini, aku tinggal di kota Lembang
bersama nenekku. Ia selalu memanggilku Nisha. Tapi belum lama ini
nenekku meninggal. Aku merasa kehilangan dan harus pindah ke sini
dengan orang tuaku. Kini setiap orang memanggilku dengan nama
Nisha...aku jadi sedih," papar Arie.
Puput dan Rani melirik ke arah Oben.
"Kalau kamu tidak mau dipanggil dengan nama Nisha, kamu boleh memilih sendiri nama panggilan barumu," usul Oben kemudian.
"Sungguh? Kalian akan memanggilku dengan nama yang kusuka?"
"Ya," semua menyahut.
"Cantik. Aku suka nama itu. Kalian mau memanggilku Cantik, kan?"
Tidak ada yang menyahut. Mereka menelan ludah.
"Tentu saja," sahut Oben buru-buru. Ia menahan rasa gelinya di hati. "Mulai sekarang kami akan memanggilmu Cantik."
Arie kelihatan senang mendengarnya.
"Tunggu
dulu! Aku protes!" Tiba-tiba terdengar suara Ary. "Kalau dia boleh
memilih sendiri nama panggilannya, mengapa aku tidak?"
"Memangnya kamu mau dipanggil apa?" tanya Oben langsung.
"Raul. Raul Gonzales Blancho!" Ary menyebut pemain sepak bola favoritnya.
"Huuuuuuu!!! Raul itu putih, hidungnya mancung, dan ganteng... Sedangkan kamu..." Puput menyela.
"Sudah-sudah,
biar saja. Barangkali saja setelah dipanggil Raul, ia berubah jadi
putih, mancung dan ganteng..." Oben berusaha menenangkan. "Ada lagi
yang mau protes?"
Tak
ada yang berani memprotes lagi. Tak ada lagi keributan tentang nama
panggilan di waktu istirahat. Sejak itu Ary dan Arie dipanggil dengan
nama Cantik dan Raul. Hanya guru-guru saja yang tetap memanggil mereka,
Ary dan Arie.
Diambil dari Majalah Teman Bermain dan Belajar.