Dahulu kala, di sebuah desa di Jepang, hiduplah sepasang kakek dan nenek. Mereka sangat baik hati, tetapi hidup mereka sepi karena tak memiliki anak.
Suatu hari, kakek pergi ke gunung untuk mencari kayu bakar, dan nenek pergi ke sungai untuk mencuci pakaian. Ketika nenek sedang mencuci, sebuah buah persik raksasa hanyut di sungai, bergulir-gulir mengikuti arus. Buah itu sangat besar dan harum. Nenek meraihnya dengan susah payah dan membawanya pulang.
Ketika kakek pulang, mereka hendak membelah buah persik itu untuk dimakan bersama. Tetapi sebelum pisau menyentuhnya, buah persik itu terbelah sendiri. Dari dalamnya keluar seorang bayi laki-laki yang sehat dan menangis dengan kencang.
Kakek dan nenek sangat bahagia. "Tuhan telah mengirimkan anak untuk kita!" seru mereka. Mereka menamai bayi itu Momotaro, yang berarti "anak dari buah persik".
Momotaro tumbuh dengan cepat. Ia sangat kuat, cerdas, dan baik hati. Ketika berusia lima belas tahun, ia mendengar kabar bahwa para oni, raksasa jahat bertanduk, sering datang dari Onigashima, Pulau Raksasa, untuk merampok desa-desa dan menculik orang.
"Ayah, Ibu," kata Momotaro, "izinkan aku pergi ke Onigashima untuk mengalahkan para oni."
Kakek dan nenek cemas, tetapi mereka bangga pada keberanian anak mereka. Nenek membuatkan kibi dango, kue beras ketan yang lezat, sebagai bekal perjalanan.
Di tengah perjalanan, Momotaro bertemu seekor anjing. "Momotaro-san, mau ke mana?" tanya anjing itu. "Aku akan mengalahkan para oni di Onigashima." "Berikan aku satu kibi dango, dan aku akan menemanimu." Momotaro memberinya satu, dan anjing itu ikut.
Lalu mereka bertemu seekor monyet, yang juga meminta satu kibi dango dan bergabung. Tak lama kemudian, seekor burung pegar pun ikut bergabung dengan syarat yang sama. Kini Momotaro memiliki tiga sahabat yang setia.
Mereka menaiki perahu dan berlayar ke Onigashima. Pulau itu berkabut dan menyeramkan, dengan benteng besar yang gerbangnya tertutup rapat. Burung pegar terbang ke atas benteng untuk mengintai. Monyet memanjat tembok dan membuka gerbang dari dalam. Lalu Momotaro dan anjing menyerbu masuk.
Para oni sedang berpesta dan terkejut melihat serangan itu. Pertempuran sengit pun terjadi. Burung pegar mematuk mata para oni, monyet mencakar wajah mereka, dan anjing menggigit kaki mereka. Momotaro sendiri bertarung melawan pemimpin oni yang sangat besar. Dengan kekuatan dan keberaniannya, ia berhasil mengalahkannya.
Pemimpin oni berlutut memohon ampun. "Kami menyerah! Kami tak akan merampok lagi. Ambillah semua harta kami!" Momotaro memaafkannya, dengan syarat para oni tak pernah lagi mengganggu manusia.
Momotaro dan ketiga sahabatnya pulang membawa harta rampasan yang dikembalikan kepada para penduduk desa. Kakek dan nenek menyambutnya dengan air mata bahagia. Sejak itu desa-desa hidup dalam damai, dan Momotaro serta keluarganya hidup bahagia bersama sahabat-sahabatnya.
Kisah Momotaro mengajarkan anak-anak Jepang tentang keberanian, persahabatan, dan kekuatan kerja sama. Bahkan sebutir kue sederhana yang dibagikan dengan tulus bisa melahirkan kesetiaan yang tak ternilai.