Martin Avdeich adalah tukang sepatu yang tinggal di sebuah ruang bawah tanah. Satu-satunya jendela di ruangannya menghadap ke jalan, sehingga ia hanya bisa melihat kaki-kaki orang yang lewat. Tetapi karena sudah lama bekerja di kota itu, ia mengenali banyak orang hanya dari sepatu mereka. Hampir semua sepatu di lingkungan itu pernah melewati tangannya.
Hidup Martin penuh duka. Istrinya meninggal, dan satu per satu anak-anaknya juga meninggal, hingga tinggal seorang anak laki-laki yang kemudian meninggal pula karena demam. Martin putus asa dan menyalahkan Tuhan. Ia berhenti pergi ke gereja dan berharap mati saja.
Suatu hari seorang lelaki tua dari desanya datang berkunjung. Mendengar keluh kesah Martin, lelaki tua itu berkata, "Kau putus asa karena ingin hidup untuk kebahagiaanmu sendiri. Hiduplah untuk Tuhan, dan kau tak akan berduka lagi." Ia menyarankan Martin membaca Injil.
Martin membeli sebuah Injil dan mulai membacanya setiap malam. Hatinya perlahan menjadi tenang dan ringan.
Suatu malam, ketika ia tertidur di atas bukunya, ia mendengar suara memanggil namanya. "Martin! Lihatlah ke jalan besok. Aku akan datang."
Esok paginya ia bekerja sambil sesekali melirik ke jendela. Yang pertama lewat adalah Stepanich, seorang lelaki tua yang menyekop salju. Tubuhnya lemah dan ia tampak kedinginan. Martin mengetuk jendela dan mengundangnya masuk untuk minum teh hangat. Mereka berbincang lama, dan Stepanich pulang dengan mata berkaca-kaca karena terharu.
Siang harinya seorang perempuan muda berdiri di dekat jendela sambil menggendong bayinya. Pakaiannya tipis, dan bayinya menangis kedinginan. Martin memanggilnya masuk, memberinya sup dan roti, dan memberikan mantel tuanya untuk membungkus bayi itu. Perempuan itu menceritakan bahwa suaminya pergi berperang dan tak ada kabar. Martin memberinya uang untuk menebus selendangnya yang tergadai.
Sore harinya Martin melihat seorang perempuan tua penjual apel bertengkar dengan seorang anak laki-laki yang mencuri apelnya. Perempuan itu menjambak rambut anak itu dan hendak menyeretnya ke polisi. Martin berlari keluar dan melerai mereka. "Maafkan dia, Nek," katanya. Ia membayar apel itu, lalu menasihati si anak agar meminta maaf. Anak itu menyesal, dan tak lama kemudian ia malah membantu perempuan tua itu memikul keranjang apelnya.
Malam tiba. Martin menyalakan lampu dan membuka Injilnya. "Ia tak datang," pikirnya sedikit kecewa. Tiba-tiba dari sudut yang gelap terdengar suara, "Martin, tidakkah kau mengenali-Ku?"
"Siapa?" tanya Martin.
"Aku," kata suara itu. Dari kegelapan muncul Stepanich, tersenyum lalu menghilang. "Ini juga Aku," dan muncullah perempuan muda dengan bayinya, lalu menghilang. "Ini juga Aku," dan muncullah perempuan tua dan anak laki-laki itu, lalu menghilang.
Hati Martin dipenuhi sukacita. Ia menunduk dan membaca ayat yang terbuka di hadapannya: "Sebab ketika Aku lapar, kamu memberi Aku makan; ketika Aku haus, kamu memberi Aku minum; ketika Aku seorang asing, kamu memberi Aku tumpangan. Segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku."
Martin mengerti. Tamu yang ia tunggu seharian itu memang datang, dan ia telah menyambut-Nya.