c
cerpen.web.id suara & bisikan sastra
Kembali
Ukuran Teks:
Renungan

Taruhan

AC
Anton Chekhov

Diterbitkan 16 Agustus 2026 • 3 Menit Baca

Pada suatu malam musim gugur yang gelap, seorang bankir tua mondar-mandir di ruang kerjanya, mengenang sebuah pesta yang ia adakan lima belas tahun yang lalu. Pesta itu dihadiri banyak orang pandai, dan percakapan beralih ke soal hukuman mati.

Sebagian besar tamu menganggap hukuman mati sudah kuno dan tak bermoral, dan sebaiknya diganti dengan penjara seumur hidup. Sang bankir tak setuju. "Hukuman mati lebih berperikemanusiaan," katanya. "Algojo membunuh seketika. Penjara seumur hidup membunuh perlahan-lahan."

Seorang pengacara muda berusia dua puluh lima tahun menyela. "Keduanya sama-sama tak bermoral. Tetapi bila harus memilih, aku pilih penjara seumur hidup. Hidup bagaimanapun lebih baik daripada tidak hidup sama sekali."

Perdebatan memanas. Sang bankir, yang saat itu masih muda dan gegabah, memukul meja. "Omong kosong! Aku bertaruh dua juta rubel, kau tak akan tahan lima tahun di dalam sel!"

"Kalau kau serius," jawab si pengacara, "aku bertaruh akan bertahan bukan lima, tapi lima belas tahun."

Taruhan itu disepakati. Si pengacara akan tinggal di sebuah paviliun di taman sang bankir, dengan pintu terkunci dan tanpa berbicara dengan siapa pun. Ia boleh meminta buku, musik, anggur, dan menulis surat, tetapi semua lewat sebuah jendela kecil. Bila ia keluar sedetik saja sebelum waktunya, ia kalah.

Tahun pertama, si tahanan sangat kesepian. Ia bermain piano siang dan malam, dan menolak anggur serta rokok. Tahun kedua, ia membaca novel-novel ringan. Tahun kelima, piano kembali terdengar, dan ia minta anggur. Ia sering menangis dan berbicara sendiri. Lalu ia mulai belajar dengan tekun: bahasa, filsafat, sejarah. Dalam empat tahun ia membaca enam ratus jilid buku. Kemudian ia beralih membaca Injil, lalu teologi dan sejarah agama-agama. Di tahun-tahun terakhir, ia membaca apa saja tanpa aturan: ilmu alam, Byron, Shakespeare, kedokteran.

Kini, malam sebelum lima belas tahun genap, sang bankir gelisah. Ia sudah bukan orang kaya seperti dulu. Spekulasi-spekulasi berisiko telah menggerogoti hartanya. Bila ia harus membayar dua juta rubel, ia akan bangkrut.

"Satu-satunya jalan," pikirnya, "adalah bila orang itu mati."

Pukul tiga dini hari, bankir itu mengendap-endap ke paviliun. Penjaga sedang tertidur. Ia membuka pintu dan masuk. Di dalam, seorang lelaki kurus kering duduk tertidur di meja. Rambutnya panjang kusut, janggutnya tak terurus, dan wajahnya kuning seperti orang tua, padahal usianya baru empat puluh. Di depannya ada selembar kertas bertuliskan tangan.

Bankir itu membacanya:

"Besok pukul dua belas aku akan bebas. Tetapi sebelum meninggalkan ruangan ini, aku ingin mengatakan sesuatu. Selama lima belas tahun aku telah mempelajari kehidupan duniawi melalui buku-buku. Aku telah mendaki gunung, mendengar nyanyian sirene, dan berbicara dengan para dewa. Aku kini lebih bijak dari kalian semua. Dan aku membenci buku-buku kalian, membenci semua berkah dan kebijaksanaan dunia ini. Semuanya fana, seperti fatamorgana. Untuk membuktikan bahwa aku memandang rendah semua yang kalian kejar, aku menolak dua juta rubel itu. Aku akan keluar lima jam sebelum waktunya, sehingga aku kalah dalam taruhan."

Bankir itu meletakkan kertas itu, mencium kepala lelaki aneh itu, dan keluar sambil menangis. Belum pernah, bahkan ketika ia kalah di bursa, ia merasa begitu hina.

Esok paginya penjaga melaporkan bahwa tahanan itu memanjat jendela, keluar ke taman, dan menghilang. Sang bankir pergi ke paviliun, mengambil surat penolakan itu, dan menguncinya di dalam lemari besi.

Keterangan Salinan

Salinan adaptasi bebas dalam bahasa Indonesia oleh Redaksi cerpen.web.id dari “Пари (The Bet)” karya Anton Chekhov (Rusia, 1889). Karya aslinya berstatus domain publik. Seluruh penghargaan atas cerita ini tetap milik penulis aslinya.

AC

Tentang Penulis: Anton Chekhov

Penulis cerpen dan dramawan Rusia (1860–1904).

Lihat Semua Karya Anton Chekhov →

Tanggapan Pembaca (0)

Cerpen Lain di Renungan

Raksasa yang Egois
Renungan 3 Menit Baca

Raksasa yang Egois

Setiap sore sepulang sekolah, anak-anak suka bermain di taman seorang raksasa. Tamannya luas dan indah, dengan rumput yang hijau lembut. Dua belas pohon persik berbunga merah muda di musim semi dan be...

Raja yang Bijaksana
Renungan 2 Menit Baca

Raja yang Bijaksana

Dahulu kala, di kota Wirani yang jauh, memerintah seorang raja yang perkasa dan bijaksana. Ia ditakuti karena kekuasaannya, dan dicintai karena kebijaksanaannya. Di tengah kota itu ada sebuah sumur. A...