Di sebuah departemen pemerintahan di Petersburg, bekerjalah seorang pegawai rendahan bernama Akaki Akakievich Bashmachkin. Ia pendek, agak bopeng, rambutnya kemerahan, dan matanya rabun. Pekerjaannya menyalin dokumen dengan tulisan tangan, dan ia mencintai pekerjaan itu dengan sepenuh hati. Beberapa huruf ia sukai secara khusus, dan bila sampai pada huruf itu, ia tersenyum dan menggerak-gerakkan bibirnya.
Rekan-rekan kerjanya yang lebih muda sering mengejeknya. Mereka menaburkan potongan kertas di atas kepalanya dan mengarang cerita-cerita konyol tentangnya. Akaki tak pernah membalas. Hanya bila ejekan itu keterlaluan, ia berkata pelan, "Biarkan aku. Mengapa kalian menyakitiku?" Ada sesuatu dalam suaranya yang membuat seorang pegawai muda tertegun, dan bertahun-tahun kemudian masih teringat kata-kata itu.
Musim dingin di Petersburg sangat kejam bagi mereka yang bergaji kecil. Mantel Akaki sudah begitu tipis dan tambalannya begitu banyak sehingga rekan-rekannya menyebutnya "jubah tidur". Ia membawanya kepada Petrovich, seorang penjahit bermata satu yang suka minum.
"Tak bisa ditambal lagi," kata Petrovich. "Kainnya sudah busuk. Jarum menembusnya seperti menembus air. Kau harus membuat mantel baru."
Harga mantel baru itu delapan puluh rubel, jumlah yang sangat besar bagi Akaki. Ia pulang dengan hati hancur. Tetapi setelah berpikir panjang, ia memutuskan untuk menabung. Ia berhenti minum teh di malam hari, tak lagi menyalakan lilin, berjalan berjinjit agar sol sepatunya awet, dan jarang mencuci pakaian dalamnya. Awalnya berat, tetapi lama-kelamaan ia terbiasa. Setiap malam ia membayangkan mantel barunya, dan bayangan itu menghangatkan hatinya. Hidupnya seolah memiliki tujuan untuk pertama kalinya.
Setelah beberapa bulan, ditambah bonus tak terduga dari kantor, uangnya cukup. Ia dan Petrovich membeli kain terbaik, dengan kerah dari bulu kucing yang dari jauh tampak seperti bulu musang. Ketika mantel itu jadi, Akaki mengenakannya ke kantor dan merasa seperti orang yang baru dilahirkan kembali.
Seluruh kantor heboh. Rekan-rekannya memuji mantel itu dan memutuskan mengadakan pesta untuk merayakannya. Seorang wakil kepala bagian mengundang mereka ke rumahnya malam itu. Akaki, yang sudah bertahun-tahun tak keluar malam, datang dan bahkan minum dua gelas sampanye.
Tengah malam ia pulang melewati alun-alun yang luas dan sepi. Tiba-tiba dua orang lelaki berkumis menghadangnya. "Ini mantelku!" kata salah satunya sambil mencengkeram kerahnya. Mereka merampas mantel itu, menendang Akaki hingga jatuh ke salju, lalu menghilang dalam gelap.
Akaki melapor ke polisi, tetapi tak digubris. Seseorang menyarankannya menemui seorang "orang penting" yang bisa mempercepat urusannya. Orang penting itu baru saja naik pangkat dan sedang ingin menunjukkan wibawanya kepada seorang kawan lama. Ia membentak Akaki dengan begitu keras hingga pegawai kecil itu gemetar dan hampir pingsan.
Akaki pulang di tengah badai salju tanpa mantel. Lehernya bengkak, dan ia jatuh sakit demam. Dalam igauannya ia melihat Petrovich, mantelnya, dan orang penting itu. Beberapa hari kemudian ia meninggal. Ia dimakamkan tanpa upacara, dan kantornya baru tahu ia meninggal ketika seseorang datang mencarinya. Di mejanya kini duduk pegawai lain dengan tulisan tangan yang lebih miring.
Tetapi kisah Akaki belum berakhir. Tak lama kemudian, beredar kabar di Petersburg tentang hantu seorang pegawai yang berkeliaran di dekat jembatan pada malam hari, merampas mantel dari bahu siapa saja yang lewat. Suatu malam, hantu itu mencengkeram kerah si orang penting. "Akhirnya! Kau yang tak mau menolongku, kini berikan mantelmu!" Orang penting itu melepaskan mantelnya dan lari ketakutan. Sejak itu ia tak lagi membentak bawahannya sekeras dulu, dan hantu itu tak pernah terlihat lagi.
Gogol menulis kisah ini untuk semua "Akaki" di dunia: orang-orang kecil yang tak pernah dilihat, dan yang layak mendapat belas kasih kita.