c
cerpen.web.id suara & bisikan sastra
Kembali
Ukuran Teks:
Renungan

Raksasa yang Egois

OW
Oscar Wilde

Diterbitkan 4 Agustus 2026 • 3 Menit Baca

Setiap sore sepulang sekolah, anak-anak suka bermain di taman seorang raksasa. Tamannya luas dan indah, dengan rumput yang hijau lembut. Dua belas pohon persik berbunga merah muda di musim semi dan berbuah ranum di musim gugur. Burung-burung bernyanyi di dahannya dengan sangat merdu, sehingga anak-anak sering berhenti bermain untuk mendengarkan.

Suatu hari sang raksasa pulang setelah tujuh tahun mengunjungi temannya. Ia melihat anak-anak bermain di tamannya dan berteriak dengan suara menggelegar, "Apa yang kalian lakukan di sini?" Anak-anak lari ketakutan.

"Tamanku adalah tamanku sendiri," gerutunya. "Tak boleh ada yang bermain di sini selain aku." Ia membangun tembok tinggi di sekeliling tamannya dan memasang papan: DILARANG MASUK. Ia benar-benar raksasa yang egois.

Anak-anak tak punya tempat bermain lagi. Mereka mencoba bermain di jalan, tetapi jalannya berdebu dan penuh batu tajam. Sepulang sekolah mereka sering berjalan mengelilingi tembok itu dan membicarakan taman indah di baliknya.

Musim semi datang ke seluruh negeri. Bunga-bunga mekar dan burung-burung bernyanyi di mana-mana, kecuali di taman raksasa yang egois. Burung-burung tak mau bernyanyi di sana karena tak ada anak-anak. Pohon-pohon lupa berbunga. Hanya Salju dan Embun Beku yang senang. "Musim semi melupakan taman ini," kata mereka, "jadi kita akan tinggal di sini sepanjang tahun." Salju menutupi rumput, Embun Beku mengecat pohon-pohon menjadi perak, dan Angin Utara menderu-deru.

"Aneh, mengapa musim semi terlambat sekali datang?" kata raksasa itu sambil memandang tamannya yang dingin dan putih.

Musim semi tak pernah datang, begitu pula musim panas. Musim gugur memberi buah emas ke semua taman, tetapi tidak ke taman raksasa. "Ia terlalu egois," kata Musim Gugur.

Suatu pagi, raksasa terbangun mendengar nyanyian yang sangat indah. Seekor burung kecil bernyanyi di luar jendelanya. Ia melompat dari ranjang dan melihat pemandangan yang menakjubkan. Anak-anak telah menyusup masuk melalui lubang kecil di tembok dan duduk di dahan-dahan pohon. Setiap pohon yang dinaiki anak-anak kembali berbunga. Burung-burung berkicau, dan bunga-bunga menyembul dari rerumputan.

Hanya di satu sudut taman musim dingin masih bertahan. Di sana berdiri seorang anak kecil yang terlalu kecil untuk memanjat pohon. Ia menangis sambil berjalan mengelilingi batang pohon itu.

Hati raksasa luluh. "Betapa egoisnya aku selama ini!" katanya. "Sekarang aku tahu mengapa musim semi tak mau datang." Ia turun perlahan dan keluar ke taman. Anak-anak lain lari ketakutan, dan musim dingin kembali. Tetapi anak kecil itu tak lari, karena matanya penuh air mata dan ia tak melihat raksasa datang.

Raksasa mengangkat anak itu dengan lembut dan menaruhnya di dahan pohon. Seketika pohon itu berbunga, dan burung-burung datang bernyanyi. Anak kecil itu memeluk leher raksasa dan menciumnya. Anak-anak lain melihat raksasa tak jahat lagi, dan mereka berlari kembali. Musim semi pun ikut datang.

Raksasa merobohkan temboknya. "Sekarang taman ini adalah taman kalian, anak-anak." Setiap hari ia bermain bersama mereka. Tetapi anak kecil yang ia angkat ke pohon tak pernah datang lagi, dan raksasa sangat merindukannya.

Bertahun-tahun berlalu. Raksasa sudah sangat tua dan lemah. Suatu pagi di musim dingin, ia melihat keajaiban: di sudut terjauh taman, sebatang pohon tertutup bunga putih yang indah, dengan buah perak bergelantungan. Di bawahnya berdiri anak kecil yang ia rindukan. Di telapak tangan dan kaki anak itu terdapat bekas luka paku.

"Siapa yang berani melukaimu?" seru raksasa. "Katakan, akan kuhukum dia!"

"Jangan," jawab anak itu lembut. "Ini adalah luka-luka cinta. Dulu kau mengizinkanku bermain di tamanmu. Hari ini kau akan ikut bersamaku ke taman-Ku, yaitu Firdaus."

Sore itu, ketika anak-anak berlari masuk ke taman, mereka menemukan raksasa terbaring tak bernyawa di bawah pohon, tertutup bunga-bunga putih.

Keterangan Salinan

Salinan adaptasi bebas dalam bahasa Indonesia oleh Redaksi cerpen.web.id dari “The Selfish Giant” karya Oscar Wilde (The Happy Prince and Other Tales, Inggris, 1888). Karya aslinya berstatus domain publik. Seluruh penghargaan atas cerita ini tetap milik penulis aslinya.

OW

Tentang Penulis: Oscar Wilde

Penulis dan penyair Irlandia (1854–1900).

Lihat Semua Karya Oscar Wilde →

Tanggapan Pembaca (0)

Cerpen Lain di Renungan

Majikan dan Pelayannya
Renungan 3 Menit Baca

Majikan dan Pelayannya

Vasili Andreevich Brekhunov adalah saudagar kaya yang serakah. Suatu hari di musim dingin, ia bergegas hendak membeli sebidang hutan dengan harga murah sebelum didahului pesaingnya. Meski badai salju...

Pengemis
Renungan 4 Menit Baca

Pengemis

"Tuan yang baik, kasihanilah seorang lelaki malang yang kelaparan. Sudah tiga hari saya tak makan. Saya tak punya uang sepeser pun untuk membayar penginapan. Demi Tuhan, saya bersumpah! Delapan t...