Senja turun di Petersburg. Salju basah yang lebat berputar malas di sekitar lampu-lampu jalan yang baru dinyalakan, lalu menempel tipis di atap-atap, di punggung kuda, di bahu dan topi orang. Iona Potapov, seorang kusir kereta sewaan, tampak putih seperti hantu. Ia duduk membungkuk di atas kereta luncurnya, diam tak bergerak. Bahkan jika segunung salju jatuh menimpanya, ia tak akan merasa perlu menepisnya. Kuda betinanya yang kecil juga putih dan diam.
Iona dan kudanya sudah lama tak bergerak dari tempat itu. Mereka meninggalkan kandang sebelum makan siang, dan sampai sekarang belum mendapat penumpang seorang pun.
"Kusir, ke Distrik Vyborgskaya!" Seorang perwira militer naik ke kereta. Iona terkejut, menarik tali kekang, dan kereta bergerak. Di tengah jalan, Iona menoleh ke penumpangnya dan menggerakkan bibirnya. Ia ingin mengatakan sesuatu.
"Apa?" tanya perwira itu.
"Anak saya... anak saya meninggal minggu ini, Tuan."
"Hmm. Meninggal karena apa?"
Iona membalikkan badannya sepenuhnya. "Siapa yang tahu, Tuan. Katanya demam tinggi. Tiga hari ia di rumah sakit, lalu meninggal. Kehendak Tuhan."
"Lihat jalan, dasar setan tua!" teriak seseorang dari kegelapan. "Kau buta?"
"Jalan terus," kata perwira itu. "Kita tak akan sampai besok kalau begini. Cepat!"
Iona kembali meluruskan badannya. Beberapa kali ia menoleh ke belakang, tetapi perwira itu sudah memejamkan mata, jelas tak ingin mendengarkan.
Setelah menurunkan perwira itu, Iona kembali menunggu di bawah salju. Satu jam, dua jam. Lalu tiga pemuda naik ke keretanya, dua bertubuh tinggi kurus dan satu bongkok pendek. Mereka mabuk, berisik, dan terus bertengkar serta memaki-maki. Iona tertawa bersama mereka.
"Aku punya anak laki-laki," kata Iona ketika ada jeda. "Minggu ini ia meninggal."
"Kita semua akan mati," kata si bongkok sambil menghela napas. "Cepatlah! Tuan-tuan, aku tak tahan lagi dengan cara jalannya yang lambat ini!"
Iona menoleh untuk bercerita lagi tentang bagaimana anaknya meninggal, tetapi mereka sudah sampai. Ketiga pemuda itu turun, dan Iona kembali sendirian. Kesedihan yang sejenak mereda kini kembali menghimpitnya, lebih berat dari sebelumnya. Matanya menatap gelisah pada kerumunan orang yang lalu-lalang di kedua sisi jalan. Tidakkah ada satu saja di antara ribuan orang itu yang mau mendengarkannya? Kesedihannya begitu besar. Seandainya dada Iona pecah dan kesedihan itu tumpah keluar, ia pasti akan membanjiri seluruh dunia. Tetapi tak seorang pun melihatnya.
Ia melihat seorang penjaga pintu membawa karung dan memutuskan untuk bicara dengannya. "Jam berapa sekarang, kawan?"
"Hampir pukul sepuluh. Kenapa berhenti di sini? Jalan!"
Iona menjalankan keretanya beberapa langkah, lalu membungkuk lagi, menyerah pada dukanya. Ia merasa tak ada gunanya mengharapkan orang lain. Tetapi lima menit kemudian ia tak tahan lagi dan pulang ke kandang.
Di kandang, para kusir lain tidur di atas bangku-bangku panjang dan di lantai. Udaranya pengap dan bau. Seorang kusir muda bangun untuk minum air.
"Haus?" tanya Iona.
"Kelihatannya begitu."
"Semoga segar, kawan. Tapi dengar, anakku meninggal. Kau dengar? Minggu ini, di rumah sakit. Ceritanya begini..."
Tetapi kusir muda itu sudah menarik selimut menutupi kepalanya dan tertidur lagi.
Lelaki tua itu menghela napas. Sudah hampir seminggu anaknya meninggal, dan ia belum sempat bercerita dengan benar kepada siapa pun. Ia ingin menceritakannya pelan-pelan dan lengkap. Bagaimana anaknya jatuh sakit, bagaimana ia menderita, apa yang ia katakan sebelum meninggal, bagaimana ia meninggal. Ia ingin menceritakan pemakamannya, dan bagaimana ia pergi ke rumah sakit mengambil pakaian anaknya. Putrinya, Anisya, masih tinggal di desa. Ia ingin bercerita tentangnya juga. Pendengarnya harus menghela napas, mengeluh, dan meratap.
"Aku harus melihat kudaku," pikir Iona.
Ia mengenakan mantelnya dan pergi ke istal tempat kuda betinanya berdiri. Ia memikirkan jerami, gandum, dan cuaca. Ia tak bisa memikirkan anaknya ketika sendirian.
"Kau sedang makan?" tanya Iona kepada kudanya, melihat matanya yang berkilat. "Makanlah, makanlah. Kita tak dapat cukup uang untuk gandum hari ini, jadi makanlah jerami. Aku sudah terlalu tua untuk menjadi kusir. Anakku yang seharusnya menjadi kusir, bukan aku. Ia kusir sejati. Ia seharusnya masih hidup."
Iona terdiam sejenak, lalu melanjutkan. "Begitulah, kudaku sayang. Kuzma Ionich sudah tiada. Ia pergi meninggalkan kita. Bayangkan, kau punya seekor anak kuda, dan kau adalah ibunya. Lalu tiba-tiba anak kuda itu mati. Kau pasti sedih, kan?"
Kuda kecil itu mengunyah, mendengarkan, dan mengembuskan napas ke tangan tuannya.
Iona hanyut dalam ceritanya, dan menceritakan semuanya kepada kudanya.