c
cerpen.web.id suara & bisikan sastra
Kembali
Ukuran Teks:
Renungan

Dua Sahabat

GD
Guy de Maupassant

Diterbitkan 2 September 2026 • 4 Menit Baca

Paris sedang dikepung tentara Prusia. Kota itu kelaparan. Burung-burung pipit di atap sudah jarang, dan tikus-tikus di selokan makin sedikit. Orang makan apa saja yang bisa mereka dapatkan.

Pada suatu pagi di bulan Januari yang cerah, Monsieur Morissot, seorang tukang jam yang kini menganggur karena perang, berjalan di jalanan dengan perut kosong dan tangan di saku celananya. Tiba-tiba ia berhenti di depan seorang kawan yang sangat ia kenal: Monsieur Sauvage, seorang penjual kain.

Sebelum perang, setiap hari Minggu, Morissot selalu berangkat subuh membawa joran bambu dan kaleng umpan. Ia naik kereta ke Colombes dan berjalan kaki ke Pulau Marante. Di sana, ia selalu memancing di tepi Sungai Seine sampai malam. Dan di sana pula ia berkenalan dengan Monsieur Sauvage, lelaki gemuk yang ceria yang juga fanatik memancing. Mereka sering duduk berdampingan seharian, dengan tali pancing di tangan dan kaki berjuntai di atas air, tanpa banyak bicara, dan mereka menjadi sahabat.

Kini keduanya berjabat tangan dengan terharu. "Keadaan yang menyedihkan," kata Sauvage. "Dan cuacanya indah sekali. Hari pertama yang cerah tahun ini."

Mereka duduk di sebuah kafe dan minum segelas absinth. Lalu segelas lagi. Karena perut mereka kosong, kepala mereka mulai ringan. Tiba-tiba Sauvage berkata, "Bagaimana kalau kita pergi memancing?"

"Memancing? Di mana?"

"Di tempat kita biasa. Pos jaga Prancis ada di dekat Colombes. Aku kenal Kolonel Dumoulin. Kita pasti diizinkan lewat."

Morissot gemetar karena gembira. "Ya! Aku ikut!"

Mereka mengambil peralatan pancing dan berangkat. Kolonel mengizinkan mereka lewat dan memberi mereka kata sandi. Mereka melewati garis pertahanan dan tiba di daerah tak bertuan, di antara tentara Prancis dan tentara Prusia. Di seberang sungai, bukit-bukit di Argenteuil tampak sunyi. Di sana, tentara Prusia yang tak terlihat bersembunyi.

Mereka tiba di tepi sungai dan mulai memancing. Tak lama kemudian, ikan-ikan mulai makan umpan. Ikan kecil berkilauan perak menggeliat di ujung kail mereka. Mereka memasukkan ikan-ikan itu ke dalam jala dengan gembira. Untuk pertama kalinya sejak berbulan-bulan, mereka merasa bahagia.

Tetapi di kejauhan, meriam-meriam mulai menembak dari Mont-Valérien. Suara dentumannya bergemuruh. "Mereka mulai lagi," kata Sauvage. Mereka berbincang tentang perang dan kebodohan manusia. "Kita tak akan pernah bebas selama pemerintah seperti ini," kata Morissot. Lalu mereka terus memancing.

Tiba-tiba terdengar langkah kaki di belakang mereka. Mereka menoleh. Empat orang tentara Prusia bersenjata berdiri di belakang mereka, menodongkan senapan. Kedua sahabat itu ditangkap, diikat, dan dibawa ke sebuah pulau kecil di tengah sungai, ke hadapan seorang perwira Prusia yang sedang merokok pipa.

"Nah, Tuan-tuan, apakah memancingnya menyenangkan?" tanya perwira itu dalam bahasa Prancis yang fasih. "Kalian mata-mata. Kalian dikirim untuk memata-matai kami, dan pura-pura memancing untuk menyembunyikan tujuan kalian. Aku bisa menembak kalian sekarang juga. Tapi aku akan berbaik hati. Berikan saja kata sandi untuk melewati pos jaga kalian, dan kalian akan dibebaskan."

Kedua sahabat itu berdiri berdampingan, pucat pasi. Tangan mereka gemetar sedikit. Tetapi mereka tak berkata apa-apa.

Perwira itu memanggil Morissot ke samping dan berbisik, "Katakan saja kata sandinya. Temanmu tak akan tahu. Aku akan pura-pura kasihan padamu." Morissot tak menjawab. Perwira itu memanggil Sauvage dan menawarkan hal yang sama. Sauvage pun diam.

Perwira itu memerintahkan dua belas tentara berbaris dengan senapan mereka. Kedua sahabat itu dibawa ke tepi sungai. "Aku beri kalian satu menit," kata perwira itu.

Morissot menatap Sauvage. Mata mereka berkaca-kaca. Mereka berjabat tangan. "Selamat tinggal, Monsieur Sauvage." "Selamat tinggal, Monsieur Morissot." Mereka berjabat tangan dengan erat, gemetar dari kepala hingga kaki.

"Tembak!" Kedua belas senapan meletus bersamaan. Sauvage jatuh tertelungkup. Morissot, yang lebih tinggi, terhuyung, berputar, dan jatuh menimpa sahabatnya, dengan wajah menghadap langit.

Perwira itu memerintahkan agar jasad mereka diikat dengan batu dan dilemparkan ke sungai. Air bergolak sejenak, lalu tenang kembali. Hanya sedikit darah yang mengambang di permukaan.

Perwira itu memandang jala berisi ikan yang tergeletak di rumput. Ia tersenyum. "Wilhelm!" panggilnya kepada seorang juru masak. "Goreng ikan-ikan kecil ini untukku selagi masih segar. Pasti enak sekali." Lalu ia kembali mengisap pipanya.

Keterangan Salinan

Salinan adaptasi bebas dalam bahasa Indonesia oleh Redaksi cerpen.web.id dari “Deux Amis” karya Guy de Maupassant (Prancis, 1882). Karya aslinya berstatus domain publik. Seluruh penghargaan atas cerita ini tetap milik penulis aslinya.

GD

Tentang Penulis: Guy de Maupassant

Cerpenis Prancis (1850–1893).

Lihat Semua Karya Guy de Maupassant →

Tanggapan Pembaca (0)

Cerpen Lain di Renungan

Mantel
Renungan 3 Menit Baca

Mantel

Di sebuah departemen pemerintahan di Petersburg, bekerjalah seorang pegawai rendahan bernama Akaki Akakievich Bashmachkin. Ia pendek, agak bopeng, rambutnya kemerahan, dan matanya rabun. Pekerjaannya...

Menyalakan Api
Renungan 4 Menit Baca

Menyalakan Api

Hari sudah pagi ketika lelaki itu meninggalkan jalan setapak utama di Yukon dan mendaki tebing menuju sebuah jalan kecil yang jarang dilalui. Hari itu dingin dan kelabu. Meski tak ada awan di langit,...

Kisah 1000 Kelereng
Renungan 4 Menit Baca

Kisah 1000 Kelereng

Makin tua, aku makin menikmati Sabtu pagi. Mungkin karena adanya keheningan sunyi senyap sebab aku yang pertama bangun pagi, atau mungkin juga karena tak terkira gembiraku sebab tak usah masuk kerja....

Si Anak Bintang
Renungan 3 Menit Baca

Si Anak Bintang

Pada suatu malam musim dingin yang sangat dingin, dua orang penebang kayu berjalan pulang melewati hutan pinus. Tiba-tiba sebuah bintang jatuh dari langit, melintas di atas mereka, dan jatuh di balik...