Di sebuah desa, hiduplah seorang lelaki kecil yang jujur bernama Hans. Ia tidak terlalu pintar, tetapi hatinya sangat baik. Wajahnya bundar dan ceria. Ia tinggal sendirian di sebuah pondok kecil dan mengurus kebunnya. Kebun Hans adalah kebun terindah di desa itu, penuh bunga-bunga yang indah dari berbagai jenis.
Hans punya banyak teman, tetapi yang paling setia adalah Hugh si Tukang Giling, seorang lelaki kaya. Begitu setianya Hugh, sehingga setiap kali ia lewat di depan kebun Hans, ia selalu memetik bunga-bunga terbaik atau buah-buahan terbaik dan membawanya pulang.
"Sahabat sejati seharusnya berbagi segalanya," kata Hugh, dan Hans mengangguk bangga karena punya sahabat dengan pikiran yang begitu mulia.
Tetangga-tetangga kadang heran mengapa Hugh tak pernah memberi apa pun kepada Hans sebagai balasan, padahal ia punya seratus karung tepung dan enam ekor sapi. Tetapi Hans tak pernah memikirkan hal itu. Tak ada yang lebih menyenangkan baginya daripada mendengar Hugh berbicara tentang persahabatan sejati.
Pada musim dingin, ketika kebun Hans tak berbunga, Hans sangat miskin dan kelaparan. Ia harus menjual kancing-kancing perak bajunya, lalu gerobak dorongnya, untuk membeli makanan. Hugh tak pernah mengunjunginya. "Tak ada gunanya mengunjungi Hans ketika ia sedang kesusahan," kata Hugh kepada istrinya. "Orang yang sedang kesusahan sebaiknya dibiarkan sendiri. Aku akan mengunjunginya di musim semi, dan ia pasti akan memberiku sekeranjang bunga. Itu akan membuatnya bahagia."
Musim semi tiba. Hugh datang mengunjungi Hans. "Hans, aku tahu kau menjual gerobakmu. Aku akan memberimu gerobak tuaku. Memang sudah rusak, tapi aku orang yang murah hati." Hans sangat berterima kasih. "Dan karena aku memberimu gerobak," lanjut Hugh, "kau pasti tak keberatan memberiku papan kayu untuk memperbaiki lumbungku, bukan?" Padahal Hans berniat menggunakan papan itu untuk memperbaiki atap pondoknya.
Sejak itu, Hugh terus meminta bantuan Hans atas nama persahabatan. Hans harus memikul sekarung tepung ke pasar untuk Hugh. Hans harus memperbaiki atap lumbung Hugh. Hans harus menggiring domba-domba Hugh ke gunung. Hans tak sempat lagi mengurus kebunnya sendiri, dan bunga-bunganya layu. Tetapi setiap kali Hans ragu, Hugh berkata, "Aku akan memberimu gerobakku. Apakah kau tak menghargai persahabatan?"
Suatu malam badai, anak Hugh jatuh dan terluka. Hugh mengetuk pintu Hans. "Hans, anakku jatuh dari tangga. Pergilah ke dokter di desa seberang. Aku akan memberimu gerobakku, jadi sudah sepantasnya kau membantu."
"Tentu," kata Hans. "Tapi pinjamkan aku lenteramu. Malam sangat gelap."
"Maaf, itu lentera baruku. Kalau terjadi sesuatu, rugi sekali."
Hans berangkat tanpa lentera dalam badai. Ia berhasil mencapai rumah dokter, dan dokter itu berangkat ke rumah Hugh dengan kudanya. Tetapi Hans yang berjalan kaki tersesat dalam gelap dan hujan di tengah rawa-rawa. Ia jatuh ke dalam lubang yang dalam dan tenggelam.
Esok harinya, beberapa gembala menemukan jasad Hans. Seluruh desa datang ke pemakamannya. Hugh berdiri di barisan paling depan. "Aku sahabat terdekatnya," katanya. "Maka sudah sepantasnya aku mendapat tempat terbaik." Ia berjalan di depan barisan dengan jubah hitam panjang, sesekali menyeka matanya dengan sapu tangan besar.
Setelah pemakaman, Hugh berkata kepada semua orang, "Kematian Hans adalah kerugian besar bagi semua orang, terutama bagiku. Aku hampir saja memberinya gerobakku. Sekarang aku tak tahu harus diapakan gerobak itu. Sudah terlalu rusak untuk dijual. Aku tak akan lagi memberikan apa pun kepada siapa pun. Orang memang menderita karena kemurahan hatinya."