Vasili Andreevich Brekhunov adalah saudagar kaya yang serakah. Suatu hari di musim dingin, ia bergegas hendak membeli sebidang hutan dengan harga murah sebelum didahului pesaingnya. Meski badai salju mengancam, ia tetap berangkat naik kereta luncur bersama pelayannya, Nikita, seorang petani tua yang jujur dan sabar.
Nikita sudah lama bekerja untuk Vasili. Ia tahu majikannya sering memotong upahnya dengan berbagai alasan, tetapi ia tak pernah mengeluh. Ia hanya berkata dalam hati, "Tak apa. Tuhan tahu."
Badai makin menjadi. Salju menutupi jalan, dan mereka berkali-kali tersesat. Mereka sempat menemukan sebuah desa dan diajak menginap, tetapi Vasili menolak. "Kita lanjutkan. Hutan itu harus kubeli besok," katanya keras kepala.
Malam turun, dan mereka kembali tersesat di padang salju yang luas. Kuda kelelahan. Akhirnya kereta luncur terjebak di sebuah parit. Mereka tak bisa ke mana-mana.
Nikita dengan tenang melepaskan kuda, menyelimutinya, dan membuat tempat berlindung dari jerami. Ia lalu duduk meringkuk di belakang kereta, mantelnya tipis dan sudah usang. Vasili yang mengenakan dua mantel bulu tebal berbaring di dalam kereta, gelisah memikirkan hutannya, uangnya, dan keuntungannya.
Tengah malam, Vasili tak tahan lagi. Ia melepaskan kuda, menungganginya, dan meninggalkan Nikita sendirian untuk mencari jalan pulang. Tetapi di tengah badai, ia berputar-putar tanpa arah. Ketika kuda itu tergelincir, Vasili jatuh ke salju. Kuda itu lari. Dengan panik, ia berjalan mengikuti jejaknya dan, entah bagaimana, kembali lagi ke kereta luncurnya.
Di sana ia menemukan Nikita yang hampir membeku. "Aku sekarat, Vasili Andreevich," bisik Nikita lemah. "Berikan upahku kepada anakku, atau kepada istriku, terserah. Dan maafkan aku bila ada salahku."
Vasili tertegun. Ia berdiri beberapa saat, lalu tiba-tiba, dengan tekad yang sama seperti ketika ia membeli barang dagangan, ia membuka mantel bulunya, berbaring di atas tubuh Nikita, dan menyelimuti mereka berdua.
"Tak apa-apa," gumamnya. "Kita berdua akan hangat."
Ia mulai merasakan kehangatan tubuh Nikita di bawahnya. Dan ia merasakan sesuatu yang aneh dan belum pernah ia rasakan seumur hidupnya: sebuah sukacita yang tenang. Ia tak lagi memikirkan hutan, uang, maupun keuntungan. "Nikita hidup," pikirnya, "dan itu berarti aku juga hidup."
Esok paginya, para petani menemukan kereta luncur itu terkubur salju. Vasili Andreevich telah membeku dan meninggal. Di bawah tubuhnya, Nikita masih hidup. Kakinya mengalami radang dingin, tetapi ia selamat.
Nikita hidup dua puluh tahun lagi. Ia meninggal dengan tenang di rumahnya, dikelilingi anak-cucunya. Dan ketika ia menutup mata, ia merasa bahagia karena akan pergi ke tempat yang sama dengan majikannya, yang di malam terakhirnya telah menemukan arti hidup.