c
cerpen.web.id suara & bisikan sastra
Kembali
Ukuran Teks:
Renungan

Benang Laba-laba

RA
Ryunosuke Akutagawa

Diterbitkan 26 September 2026 • 3 Menit Baca

Pada suatu pagi, Sang Buddha berjalan-jalan seorang diri di tepi kolam teratai di surga. Bunga-bunga teratai yang putih bersih mekar di permukaan kolam, dan dari kelopaknya yang keemasan menguar aroma harum yang tak terlukiskan.

Sang Buddha berhenti di tepi kolam dan memandang ke bawah, melalui celah-celah daun teratai. Kolam itu sangat jernih, sehingga ia bisa melihat jauh ke dasar neraka. Di sana, di Sungai Tiga Arus dan Gunung Jarum, para pendosa menderita siksaan.

Di antara para pendosa itu, ada seorang lelaki bernama Kandata. Semasa hidupnya ia seorang perampok besar yang telah membunuh banyak orang, membakar rumah-rumah, dan melakukan segala macam kejahatan. Tetapi Sang Buddha teringat bahwa Kandata pernah melakukan satu kebaikan. Suatu hari, ketika berjalan di hutan, ia melihat seekor laba-laba kecil merayap di pinggir jalan. Ia mengangkat kakinya hendak menginjaknya, tetapi kemudian berpikir, "Ah, jangan. Makhluk kecil ini pun punya nyawa. Kasihan kalau kubunuh." Dan ia membiarkan laba-laba itu hidup.

Sang Buddha memutuskan untuk memberinya kesempatan keluar dari neraka sebagai balasan atas kebaikan kecil itu. Kebetulan, di atas sehelai daun teratai, ada seekor laba-laba surga yang sedang memintal benang perak yang indah. Sang Buddha mengambil benang itu dengan lembut, lalu menurunkannya melalui celah-celah daun teratai, jauh ke dasar neraka.

Di dasar neraka, di Kolam Darah, Kandata sedang tenggelam dan timbul bersama para pendosa lainnya. Kegelapan menyelimuti segalanya. Satu-satunya cahaya berasal dari jarum-jarum di Gunung Jarum yang berkilauan menakutkan. Sunyi sekali, hanya terdengar desahan lemah para pendosa.

Tiba-tiba Kandata mendongak. Dari langit yang gelap, ia melihat sehelai benang laba-laba perak turun perlahan-lahan, berkilauan, seolah takut dilihat orang lain. Benang itu turun tepat di atas kepalanya. Kandata bertepuk tangan kegirangan. Kalau ia memanjat benang itu, ia pasti bisa keluar dari neraka! Bahkan mungkin ia bisa masuk ke surga!

Ia mencengkeram benang itu dan mulai memanjat. Sebagai mantan perampok, ia sudah terbiasa memanjat. Ia memanjat dan terus memanjat. Tetapi jarak antara neraka dan surga sangat jauh, dan akhirnya ia kelelahan. Ia berhenti untuk beristirahat, bergantung pada benang itu, dan memandang ke bawah.

Ia sudah naik sangat tinggi. Kolam Darah sudah tak terlihat, dan Gunung Jarum tampak kecil di bawahnya. Kandata tertawa gembira. "Aku berhasil! Aku berhasil!"

Tetapi kemudian ia melihat sesuatu yang mengerikan. Di bawahnya, para pendosa lain juga memanjat benang laba-laba itu. Ratusan, bahkan ribuan orang, merayap naik seperti barisan semut. Kandata ketakutan. Benang laba-laba setipis itu, yang bahkan hampir tak bisa menahan berat tubuhnya sendiri, bagaimana bisa menahan berat semua orang itu? Kalau benang itu putus, ia akan jatuh kembali ke neraka!

Kandata berteriak dengan suara keras, "Hei, para pendosa! Benang laba-laba ini milikku! Siapa yang mengizinkan kalian memanjatnya? Turun! Turun semuanya!"

Pada saat itu juga, benang laba-laba yang tadinya tak apa-apa itu tiba-tiba putus tepat di tempat Kandata bergantung. Kandata jatuh berputar-putar seperti gasing, meluncur kembali ke dalam kegelapan neraka.

Sang Buddha, yang berdiri di tepi kolam teratai, menyaksikan semuanya dari awal sampai akhir. Ketika Kandata tenggelam seperti batu ke dasar Kolam Darah, Sang Buddha melanjutkan langkahnya dengan wajah sedih. Hati Kandata yang hanya memikirkan dirinya sendiri, yang ingin selamat sendirian, telah menerima hukuman yang setimpal, dan ia kembali ke neraka asalnya.

Tetapi bunga-bunga teratai di kolam surga tak peduli pada semua itu. Kelopak-kelopaknya yang putih bergoyang lembut, dan aroma harumnya terus menguar. Sudah hampir tengah hari di surga.

Keterangan Salinan

Salinan adaptasi bebas dalam bahasa Indonesia oleh Redaksi cerpen.web.id dari “蜘蛛の糸 (Kumo no Ito)” karya Ryunosuke Akutagawa (Jepang, 1918). Karya aslinya berstatus domain publik. Seluruh penghargaan atas cerita ini tetap milik penulis aslinya.

RA

Tentang Penulis: Ryunosuke Akutagawa

Cerpenis Jepang (1892–1927), dijuluki bapak cerpen Jepang.

Lihat Semua Karya Ryunosuke Akutagawa →

Tanggapan Pembaca (0)

Cerpen Lain di Renungan

Menyalakan Api
Renungan 4 Menit Baca

Menyalakan Api

Hari sudah pagi ketika lelaki itu meninggalkan jalan setapak utama di Yukon dan mendaki tebing menuju sebuah jalan kecil yang jarang dilalui. Hari itu dingin dan kelabu. Meski tak ada awan di langit,...