c
cerpen.web.id suara & bisikan sastra
Kembali
Ukuran Teks:
Renungan

Daun Terakhir

OH
O. Henry

Diterbitkan 20 Agustus 2026 • 4 Menit Baca

Di sebuah kawasan kecil di Greenwich Village, New York, tempat para seniman tinggal di loteng-loteng murah, Sue dan Johnsy menyewa sebuah studio di lantai tiga. Mereka bertemu di sebuah restoran dan mendapati selera mereka tentang seni, salad, dan lengan baju sama persis. Maka mereka pun tinggal bersama.

Bulan November datang, dan bersamanya seorang tamu tak diundang yang oleh para dokter disebut Pneumonia. Ia berjalan menjelajahi permukiman itu, menjangkiti puluhan orang. Salah satunya adalah Johnsy.

Johnsy terbaring hampir tak bergerak di ranjangnya, memandang ke luar jendela, ke dinding bata rumah sebelah.

"Peluangnya satu banding sepuluh," kata dokter kepada Sue di lorong. "Dan peluang itu bergantung pada keinginannya untuk hidup. Temanmu sudah memutuskan ia tak akan sembuh. Apakah ada sesuatu yang ia pikirkan?"

Sue masuk ke kamar dengan papan gambarnya, bersiul riang untuk menyembunyikan tangisnya. Ia mendengar Johnsy berbisik, menghitung mundur. "Dua belas... sebelas... sepuluh... sembilan... delapan... tujuh."

Sue melihat ke luar jendela. Di dinding rumah sebelah merambat sebatang tanaman ivy tua. Angin musim gugur telah merontokkan daun-daunnya, hingga dahan-dahannya nyaris gundul.

"Apa yang kau hitung, sayang?"

"Enam," bisik Johnsy. "Mereka rontok makin cepat. Tiga hari lalu masih hampir seratus. Sekarang tinggal lima. Bila daun terakhir jatuh, aku juga akan pergi. Aku sudah tahu sejak tiga hari lalu."

"Omong kosong!" Sue berusaha tertawa. "Apa hubungannya daun ivy dengan kesembuhanmu? Dokter bilang peluangmu sangat baik." Tetapi Johnsy hanya menatap ke luar jendela.

Di lantai dasar gedung itu tinggal Behrman, seorang pelukis tua berusia lebih dari enam puluh tahun. Empat puluh tahun ia melukis, tetapi tak pernah berhasil. Ia selalu berkata akan membuat sebuah mahakarya, tetapi tak pernah memulainya. Ia sering mabuk dan menggerutu, tetapi ia menganggap dirinya pelindung bagi dua seniman muda di lantai atas.

Sue menceritakan khayalan Johnsy kepada Behrman. Lelaki tua itu memaki-maki dengan mata merah. "Bodoh sekali! Mati karena daun jatuh? Tak pernah kudengar!"

Malam itu hujan turun deras bercampur salju, dan angin utara bertiup kencang.

Esok paginya, Johnsy berkata dengan suara lemah, "Buka tirainya. Aku ingin melihat."

Dengan berat hati, Sue membuka tirai. Di dinding bata itu, setelah hujan dan angin sepanjang malam, masih ada satu daun ivy yang tersisa. Hijau tua di dekat tangkainya, dengan tepi bergerigi yang menguning. Daun itu bergantung dengan gagah pada dahannya, sekitar dua puluh kaki dari tanah.

"Itu daun terakhir," kata Johnsy. "Aku kira pasti jatuh semalam. Hari ini ia akan jatuh, dan aku akan mati bersamanya."

Hari berlalu, dan menjelang senja daun itu masih di sana. Malam harinya angin utara kembali mengamuk, dan hujan memukul-mukul jendela. Pagi harinya Johnsy menyuruh Sue membuka tirai lagi. Daun ivy itu masih ada.

Johnsy memandanginya lama sekali. Lalu ia memanggil Sue. "Aku telah menjadi gadis yang jahat, Sue," katanya. "Sesuatu telah membuat daun terakhir itu tetap di sana untuk menunjukkan betapa jahatnya aku. Ingin mati adalah dosa. Tolong bawakan aku sup, dan susu dengan sedikit anggur, dan cermin kecil." Satu jam kemudian ia berkata, "Sue, suatu hari aku ingin melukis Teluk Napoli."

Sore harinya dokter datang. "Peluangnya sekarang seimbang," katanya. "Dengan perawatan yang baik, kau akan menang. Sekarang aku harus memeriksa pasien lain di lantai bawah. Namanya Behrman. Pneumonia juga. Ia sudah tua dan lemah, dan serangannya parah. Tak ada harapan, tapi ia dibawa ke rumah sakit hari ini agar lebih nyaman."

Esok harinya dokter berkata kepada Sue, "Temanmu sudah lepas dari bahaya."

Sore itu Sue duduk di samping ranjang Johnsy, merangkul bahunya. "Aku ingin memberitahumu sesuatu," katanya. "Pak Behrman meninggal karena pneumonia hari ini di rumah sakit. Ia sakit hanya dua hari. Penjaga menemukannya pagi kemarin di kamarnya, tak berdaya. Sepatu dan bajunya basah kuyup dan sedingin es. Tak ada yang tahu ke mana ia pergi di malam yang mengerikan itu. Lalu mereka menemukan sebuah lentera yang masih menyala, sebuah tangga yang dipindahkan dari tempatnya, beberapa kuas berserakan, dan palet dengan cat hijau dan kuning bercampur."

"Lihatlah ke jendela, sayang, ke daun ivy terakhir di dinding itu. Tidakkah kau heran mengapa ia tak pernah bergoyang ketika angin bertiup? Sayangku, itulah mahakarya Behrman. Ia melukisnya di sana pada malam ketika daun terakhir jatuh."

Keterangan Salinan

Salinan adaptasi bebas dalam bahasa Indonesia oleh Redaksi cerpen.web.id dari “The Last Leaf” karya O. Henry (Amerika Serikat, 1907). Karya aslinya berstatus domain publik. Seluruh penghargaan atas cerita ini tetap milik penulis aslinya.

OH

Tentang Penulis: O. Henry

Nama pena William Sydney Porter (1862–1910), cerpenis Amerika yang terkenal dengan akhir cerita mengejutkan.

Lihat Semua Karya O. Henry →

Tanggapan Pembaca (0)

Cerpen Lain di Renungan

Pengemis
Renungan 4 Menit Baca

Pengemis

"Tuan yang baik, kasihanilah seorang lelaki malang yang kelaparan. Sudah tiga hari saya tak makan. Saya tak punya uang sepeser pun untuk membayar penginapan. Demi Tuhan, saya bersumpah! Delapan t...

Menyalakan Api
Renungan 4 Menit Baca

Menyalakan Api

Hari sudah pagi ketika lelaki itu meninggalkan jalan setapak utama di Yukon dan mendaki tebing menuju sebuah jalan kecil yang jarang dilalui. Hari itu dingin dan kelabu. Meski tak ada awan di langit,...