Di sebuah hutan, tumbuhlah sebatang pohon cemara kecil yang manis. Tempatnya bagus: matahari menyinarinya, udara segar mengelilinginya, dan di sekitarnya tumbuh pohon-pohon cemara dan pinus yang lebih besar. Tetapi pohon cemara kecil itu tak bahagia. Ia sangat ingin cepat besar.
Ia tak peduli pada matahari yang hangat dan udara yang sejuk. Ia tak peduli pada anak-anak desa yang bermain di sekitarnya, memetik stroberi, dan berkata, "Lihat, pohon kecil yang lucu!" Ia hanya ingin tumbuh tinggi seperti pohon-pohon lain.
Setiap musim dingin, para penebang datang dan menebang pohon-pohon terbesar. Pohon-pohon itu jatuh dengan suara gemuruh, lalu dibawa pergi. "Ke mana mereka pergi?" tanya pohon cemara kecil. Seekor bangau bercerita bahwa pohon-pohon itu dijadikan tiang kapal yang megah dan berlayar ke seluruh dunia.
Menjelang Natal, pohon-pohon yang masih muda dan indah ditebang. Burung-burung pipit bercerita, "Kami melihat mereka di jendela-jendela kota. Mereka dihiasi apel emas, mainan, dan ratusan lilin. Mereka berdiri di tengah ruangan yang hangat!" Pohon cemara kecil sangat ingin mengalami hal itu.
"Bergembiralah dengan kami," kata sinar matahari. "Bergembiralah dengan masa mudamu yang segar." Tetapi pohon cemara itu tak mendengarkan.
Tahun berikutnya, pohon cemara itu sudah tumbuh besar dan indah. Menjelang Natal, ia menjadi pohon pertama yang ditebang. Kapak menebasnya dalam-dalam, dan ia jatuh dengan rasa sakit. Ia tak bisa merasakan kebahagiaan yang ia bayangkan. Ia hanya sedih harus meninggalkan hutan dan teman-temannya.
Ia dibawa ke sebuah rumah besar dan dihias dengan indah: apel merah, kantong-kantong permen, boneka-boneka kecil, pita emas, dan ratusan lilin. Di puncaknya dipasang sebuah bintang emas. Pohon cemara bergetar gembira. "Pasti malam ini akan sangat indah!"
Malam Natal tiba. Lilin-lilin dinyalakan, dan anak-anak berlarian masuk. Mereka menari mengelilinginya, lalu merebut hadiah-hadiah dari dahannya hingga dahan-dahannya patah. Setelah itu, tak ada lagi yang memedulikannya. Seorang lelaki gemuk bercerita tentang dongeng Humpty Dumpty, dan pohon cemara mendengarkan dengan terpesona.
Esok paginya, para pelayan menyeretnya ke loteng yang gelap dan meninggalkannya di sudut. Hari-hari berlalu, dan tak ada yang datang. Tikus-tikus kecil menemaninya, dan ia menceritakan kepada mereka tentang hutan, tentang malam Natal, dan tentang Humpty Dumpty. Tetapi tikus-tikus itu bosan dan pergi.
Ketika musim semi tiba, pohon cemara itu diseret ke halaman. Dahan-dahannya sudah kering dan kuning. Anak-anak yang dulu menari mengelilinginya kini menginjak-injaknya. Pohon cemara itu melihat bunga-bunga mekar dan mendengar burung-burung berkicau, lalu teringat pada masa mudanya di hutan.
"Seandainya dulu aku menikmati hari-hariku ketika aku bisa bahagia," katanya.
Seorang tukang kebun memotongnya menjadi kayu bakar dan membakarnya di bawah tungku. Pohon itu menghela napas dalam-dalam, dan setiap desahannya terdengar seperti letupan kecil di dalam api.
Andersen menulis kisah ini agar kita tak menyia-nyiakan saat ini karena terlalu sibuk menunggu kebahagiaan di masa depan.