Di atas tiang tinggi di tengah kota, berdirilah patung Pangeran yang Bahagia. Tubuhnya dilapisi lembaran emas tipis, matanya dua batu safir yang berkilau, dan sebuah batu rubi merah besar menghiasi gagang pedangnya. Orang-orang kota sangat mengaguminya.
Suatu malam, seekor burung layang-layang kecil hinggap di kaki patung itu. Kawan-kawannya sudah terbang ke Mesir untuk menghindari musim dingin, tetapi ia tertinggal. Baru saja ia hendak tidur, setetes air jatuh ke tubuhnya. Lalu setetes lagi. Ia mendongak dan melihat bahwa patung itu menangis.
"Siapa kau?" tanya layang-layang.
"Aku Pangeran yang Bahagia. Ketika masih hidup, aku tinggal di istana yang tak pernah dimasuki kesedihan. Semua orang memanggilku Pangeran yang Bahagia. Sekarang aku sudah mati, dan mereka menaruhku di sini, begitu tinggi sehingga aku bisa melihat semua kesengsaraan kotaku. Meskipun hatiku terbuat dari timah, aku tak bisa berhenti menangis."
Di kejauhan, kata pangeran, ada seorang penjahit miskin yang anaknya sakit demam dan merintih minta jeruk. Ibunya tak punya uang. "Layang-layang kecil," pinta pangeran, "maukah kau membawakan rubi dari gagang pedangku untuknya?"
Layang-layang ingin segera terbang ke Mesir, tetapi pangeran tampak begitu sedih. Maka ia mencabut rubi itu dan membawanya ke rumah si penjahit. Ia mengipasi dahi anak yang demam itu dengan sayapnya.
Keesokan harinya pangeran memintanya menginap satu malam lagi. Di loteng, ada seorang pemuda penulis yang tak bisa menyelesaikan naskahnya karena kedinginan dan kelaparan. "Aku tak punya rubi lagi," kata pangeran. "Yang tersisa hanya mataku. Cabutlah salah satunya, dan bawalah padanya."
Layang-layang menangis, tetapi ia menurut. Malam berikutnya, pangeran memberikan matanya yang lain kepada seorang gadis kecil penjual korek api yang korek apinya jatuh ke selokan. Kini pangeran buta.
"Aku akan tinggal bersamamu selamanya," kata layang-layang.
Setiap hari layang-layang terbang ke seluruh kota dan menceritakan apa yang dilihatnya: orang kaya berpesta di rumah megah, sementara pengemis duduk di gerbang. Anak-anak kelaparan di lorong-lorong gelap. "Tubuhku dilapisi emas," kata pangeran. "Lepaskan selembar demi selembar, dan berikan kepada orang-orang miskin."
Selembar demi selembar emas dilepas, hingga pangeran tampak kusam dan kelabu. Wajah anak-anak miskin menjadi kemerahan, dan mereka tertawa bermain di jalanan.
Salju turun, dan udara membeku. Layang-layang makin lemah. Ia tahu ajalnya sudah dekat. Dengan sisa tenaganya, ia terbang ke bahu pangeran. "Selamat tinggal, Pangeran. Bolehkah aku mencium tanganmu?" Ia mencium bibir pangeran, lalu jatuh mati di kakinya. Pada saat itu terdengar bunyi retak di dalam patung. Hati timah pangeran telah patah menjadi dua.
Esok paginya wali kota melihat patung itu. "Kusam sekali! Seperti pengemis saja!" Patung itu dirobohkan dan dilebur. Tetapi hati timahnya tak mau meleleh, sehingga dibuang ke tumpukan sampah, tempat bangkai layang-layang juga tergeletak.
Di surga, Tuhan berkata kepada salah satu malaikat-Nya, "Bawakan kepada-Ku dua benda yang paling berharga di kota itu." Malaikat itu membawakan hati timah yang patah dan seekor burung yang mati.
"Kau memilih dengan benar," firman Tuhan. "Di taman surga-Ku, burung kecil ini akan bernyanyi selamanya, dan di kota emas-Ku Pangeran yang Bahagia akan memuji-Ku."