Mathilde adalah salah satu gadis cantik dan menawan yang, seolah karena kesalahan takdir, dilahirkan dalam keluarga pegawai rendahan. Ia tak punya mas kawin, tak punya harapan, tak punya cara untuk dikenal, dicintai, dan dinikahi oleh lelaki kaya dan terpandang. Maka ia menikah dengan seorang juru tulis kecil di Kementerian Pendidikan.
Ia berpakaian sederhana karena tak mampu berdandan, tetapi hatinya tak pernah berhenti merana. Ia merasa dilahirkan untuk segala kemewahan. Ia menderita melihat dinding apartemennya yang kusam, kursinya yang usang, dan tirainya yang jelek. Ketika suaminya membuka tutup panci sup sambil berseru gembira, "Ah, sup daging yang enak! Tak ada yang lebih enak dari ini," ia justru membayangkan jamuan makan mewah dengan piring perak dan tamu-tamu terhormat.
Suatu malam suaminya pulang dengan wajah berseri-seri, membawa sebuah amplop besar. "Ini untukmu," katanya. Di dalamnya ada undangan pesta dansa dari Menteri Pendidikan. Ia mengira istrinya akan senang. Namun Mathilde justru melemparkan undangan itu ke meja dengan kesal. "Apa yang harus kupakai ke sana?"
Suaminya tak pernah memikirkan itu. Setelah berhitung, ia merelakan tabungan empat ratus franc yang sebenarnya ia siapkan untuk membeli senapan berburu, agar istrinya bisa membeli gaun. Gaun itu dibeli, tetapi Mathilde masih murung. "Aku tak punya satu pun perhiasan. Aku akan tampak seperti orang miskin."
"Pinjamlah kepada temanmu, Madame Forestier," saran suaminya.
Esok harinya Mathilde mengunjungi Madame Forestier, sahabatnya semasa sekolah yang kaya. Temannya membuka kotak perhiasan besar dan mempersilakannya memilih. Di dalam kotak satin hitam, Mathilde menemukan kalung berlian yang indah. Jantungnya berdebar. Ia meminjamnya dengan tangan gemetar.
Pesta itu adalah malam terindah dalam hidupnya. Ia paling cantik, paling anggun, dan paling ceria. Semua lelaki memandanginya, menanyakan namanya, dan ingin berdansa dengannya. Bahkan Menteri memperhatikannya.
Mereka pulang pukul empat pagi. Di depan cermin, Mathilde ingin melihat dirinya sekali lagi dalam kemegahan itu. Tiba-tiba ia menjerit. Kalung itu tak ada lagi di lehernya.
Mereka mencarinya di lipatan gaun, di jalan, di kereta sewaan, di kantor polisi. Tak ada hasil. Seminggu kemudian, suaminya yang tampak lima tahun lebih tua berkata, "Kita harus menggantinya."
Mereka menemukan kalung yang sangat mirip di sebuah toko perhiasan di Palais Royal. Harganya tiga puluh enam ribu franc. Suaminya memiliki delapan belas ribu franc warisan ayahnya. Sisanya ia pinjam dari sana-sini, meneken surat utang dengan bunga yang mencekik, dan mempertaruhkan seluruh sisa hidupnya. Mathilde mengembalikan kalung itu kepada Madame Forestier, yang bahkan tak membuka kotaknya.
Maka Mathilde mengenal kehidupan orang miskin yang sebenarnya. Mereka pindah ke loteng kecil. Ia mencuci piring dengan kuku merah jambunya, mencuci pakaian, membawa sampah ke jalan, dan menawar di pasar sampai sen terakhir. Suaminya bekerja sampai larut malam menyalin dokumen dengan bayaran lima sen per halaman.
Sepuluh tahun berlalu. Utang itu akhirnya lunas. Mathilde kini tampak tua. Ia menjadi perempuan kekar, keras, dan kasar seperti perempuan miskin lainnya. Rambutnya tak tertata, roknya miring, dan tangannya merah. Namun sesekali, ketika suaminya di kantor, ia duduk di dekat jendela dan mengenang pesta dansa yang indah itu, ketika ia begitu cantik dan dikagumi.
Suatu Minggu, ketika berjalan-jalan di Champs-Élysées, ia melihat seorang perempuan berjalan dengan anaknya. Itu Madame Forestier, yang masih muda, cantik, dan menawan. Mathilde merasa terharu. Ya, sekarang semuanya sudah lunas, ia akan menceritakan semuanya.
"Selamat pagi, Jeanne."
Temannya tak mengenalinya dan terkejut disapa begitu akrab oleh perempuan kampung. "Tapi, Nyonya... saya tak mengenal Anda..."
"Aku Mathilde."
"Oh, Mathilde yang malang! Kau begitu berubah!"
"Ya, hidupku berat sejak terakhir kita bertemu, dan penuh penderitaan... dan itu karena kau."
"Karena aku? Bagaimana bisa?"
"Kau ingat kalung berlian yang kau pinjamkan padaku untuk pesta di kementerian? Aku menghilangkannya. Aku mengembalikan yang lain yang persis sama. Butuh sepuluh tahun untuk kami melunasinya. Sekarang sudah selesai, dan aku sangat lega."
Madame Forestier terdiam. "Kau bilang kau membeli kalung berlian untuk mengganti kalungku?"
"Ya. Kau tak menyadarinya, kan? Keduanya memang sangat mirip." Mathilde tersenyum dengan bangga yang polos.
Madame Forestier menggenggam kedua tangannya dengan sangat terharu. "Oh, Mathilde yang malang! Kalungku itu palsu! Harganya paling banyak lima ratus franc!"