c
cerpen.web.id suara & bisikan sastra
Kembali
Ukuran Teks:
Legenda

Roro Anteng dan Joko Seger

CR
Cerita Rakyat Nusantara

Diterbitkan 24 September 2026 • 2 Menit Baca

Pada masa akhir Kerajaan Majapahit, seorang putri raja bernama Roro Anteng mengungsi ke pegunungan di Jawa Timur untuk menghindari kekacauan. Di sana ia bertemu Joko Seger, putra seorang brahmana. Keduanya menikah dan memimpin masyarakat di kawasan itu. Mereka menamai daerah itu Tengger, gabungan dari akhir nama mereka berdua: Anteng dan Seger.

Rakyat Tengger hidup makmur dan damai di bawah kepemimpinan mereka. Tetapi bertahun-tahun berlalu, dan Roro Anteng serta Joko Seger belum juga dikaruniai anak. Kesedihan menyelimuti rumah tangga mereka.

Akhirnya mereka naik ke puncak Gunung Bromo dan bersemedi, memohon kepada Sang Hyang Widhi agar diberi keturunan. Setelah bertapa berhari-hari, terdengar suara gaib dari kawah. "Permohonan kalian akan dikabulkan. Kalian akan dikaruniai banyak anak. Tetapi dengan satu syarat: anak bungsu kalian harus dipersembahkan kepada kawah Gunung Bromo."

Dalam kerinduan yang sangat besar akan anak, mereka menyanggupinya.

Tak lama kemudian Roro Anteng mengandung. Satu demi satu anak mereka lahir, hingga jumlahnya dua puluh lima orang. Anak-anak itu tumbuh sehat dan cerdas, dan rumah mereka dipenuhi tawa. Anak bungsu mereka seorang laki-laki yang tampan bernama Raden Kusuma.

Tetapi sebagai orang tua, Roro Anteng dan Joko Seger tak sanggup mengorbankan anak mereka. Mereka pura-pura lupa pada janji itu. Tahun demi tahun berlalu, dan mereka berharap para dewa pun lupa.

Suatu hari, Gunung Bromo bergemuruh. Asap hitam membubung tinggi, dan tanah berguncang. Lahar panas mengancam desa-desa. Roro Anteng dan Joko Seger tahu apa artinya. Mereka menyembunyikan Raden Kusuma, tetapi dari kawah menjulur lidah api yang menyambar pemuda itu dan membawanya ke dalam kawah.

Tak lama kemudian terdengar suara Raden Kusuma dari dalam kawah. "Ayah, Ibu, saudara-saudaraku, jangan bersedih. Aku rela menjadi persembahan demi keselamatan kalian semua dan seluruh rakyat Tengger. Hiduplah dengan damai. Tetapi setiap tahun, pada bulan purnama di bulan Kasada, persembahkanlah hasil bumi kalian ke kawah ini, sebagai tanda ingatan kepadaku."

Gunung Bromo pun tenang kembali. Sejak saat itu, masyarakat Tengger menggelar upacara Yadnya Kasada setiap tahun. Mereka mendaki ke kawah Bromo membawa sesaji berupa sayuran, buah-buahan, dan hasil ternak, lalu melemparkannya ke dalam kawah sebagai persembahan dan ungkapan syukur.

Legenda Roro Anteng dan Joko Seger mengajarkan tentang pentingnya menepati janji, dan tentang pengorbanan seorang anak yang rela memberikan dirinya demi keselamatan orang banyak.

Keterangan Salinan

Salinan adaptasi bebas dalam bahasa Indonesia oleh Redaksi cerpen.web.id dari cerita rakyat “Legenda Gunung Bromo dan Suku Tengger” (Tengger, Jawa Timur). Karya aslinya berstatus domain publik. Seluruh penghargaan atas cerita ini tetap milik para penutur aslinya.

CR

Tentang Penulis: Cerita Rakyat Nusantara

Kisah-kisah turun-temurun dari berbagai daerah di Indonesia, diceritakan ulang oleh redaksi.

Lihat Semua Karya Cerita Rakyat Nusantara →

Tanggapan Pembaca (0)

Cerpen Lain di Legenda