Dahulu kala, di lautan dekat muara sungai besar di Jawa Timur, hiduplah dua binatang yang sama-sama kuat dan sama-sama rakus: Sura, seekor ikan hiu besar, dan Baya, seekor buaya yang ganas. Keduanya sering bertengkar memperebutkan mangsa. Setiap kali bertemu, pertarungan tak terhindarkan, dan tak pernah ada yang benar-benar menang.
Lama-lama keduanya lelah. "Baya," kata Sura suatu hari, "kalau kita terus bertarung, kita berdua akan mati kelaparan. Bagaimana kalau kita membagi wilayah?"
Baya setuju. Mereka membuat perjanjian: Sura berkuasa di air laut, sedangkan Baya berkuasa di daratan dan air tawar. Batasnya adalah garis tempat air laut bertemu air sungai di muara. Untuk sementara waktu, keduanya hidup tenang.
Namun suatu hari persediaan ikan di laut menipis. Sura yang kelaparan berenang ke hulu, masuk ke sungai tempat ikan-ikan air tawar berlimpah. Ia makan dengan lahap tanpa menyadari bahwa Baya mengawasinya dari balik akar bakau.
"Kau melanggar perjanjian, Sura!" geram Baya.
Sura membela diri. "Aku tidak melanggar apa-apa. Perjanjiannya aku berkuasa di air. Sungai ini juga air, bukan?"
"Yang kumaksud air laut!" teriak Baya. "Kau licik!"
Tak ada lagi kata damai. Pertarungan paling dahsyat pun terjadi. Air sungai bergolak, berubah merah. Sura menggigit ekor Baya hingga nyaris putus, sementara Baya menggigit tubuh Sura hingga terluka parah. Pertarungan berlangsung berhari-hari hingga akhirnya Sura menyerah dan kembali ke laut dengan luka yang dalam. Baya menang, tetapi ekornya bengkok untuk selamanya.
Orang-orang yang tinggal di tepi sungai itu tak pernah melupakan pertarungan besar tersebut. Mereka menamai daerah itu Surabaya, dari nama Sura dan Baya. Hingga kini, lambang kota Surabaya menampilkan seekor hiu dan seekor buaya yang saling berhadapan.
Kisah ini sering dituturkan sebagai pengingat bahwa perjanjian harus dibuat dengan jelas dan ditepati dengan jujur. Mencari celah untuk mengakali kesepakatan hanya akan melahirkan pertikaian yang merugikan semua pihak.