Di sebuah bukit jauh dari keramaian, hiduplah seorang janda miskin bersama anak gadisnya. Gadis itu sangat cantik, kulitnya putih bersih dan rambutnya panjang terurai. Namun kecantikannya tidak sejalan dengan perangainya. Ia malas, manja, dan hanya sibuk bersolek di depan cermin.
Setiap hari sang ibu bekerja keras di ladang orang dan mencari kayu bakar untuk dijual. Upahnya tak seberapa, tetapi sebagian besar habis untuk membelikan bedak dan pakaian yang diminta putrinya. Gadis itu tak pernah sekali pun membantu.
Suatu hari mereka berdua pergi ke pasar di desa yang jauh. Sang gadis berjalan di depan dengan pakaian terbaiknya, sementara ibunya berjalan di belakang dengan pakaian lusuh dan keranjang di punggung. Sepanjang jalan, orang-orang memandangi gadis itu dengan kagum.
Seorang pemuda menghampiri dan bertanya, "Hai gadis cantik, siapakah perempuan tua di belakangmu itu? Ibumu?"
Gadis itu malu mengakui ibunya yang tampak miskin. "Bukan," jawabnya. "Dia pembantuku."
Sang ibu terdiam. Hatinya perih, tetapi ia menahan diri. Mereka melanjutkan perjalanan. Beberapa kali orang lain bertanya hal yang sama, dan beberapa kali pula gadis itu menjawab bahwa perempuan tua itu hanyalah budaknya.
Pada pertanyaan yang kesekian, kesabaran sang ibu habis. Ia menengadah ke langit dan berdoa dengan air mata berlinang. "Ya Tuhan, hamba tak kuat lagi menahan hinaan ini. Anak kandung hamba sendiri tak mau mengakui hamba. Hukumlah dia."
Langit menggelap. Petir menyambar. Perlahan kaki gadis itu mengeras menjadi batu. Ia menjerit dan menangis memohon ampun. "Ibu, maafkan aku! Aku berjanji akan menjadi anak yang baik!" Namun batu itu terus merambat naik ke pinggang, ke dada, hingga seluruh tubuhnya membatu. Hanya matanya yang terus meneteskan air.
Batu itu hingga kini dikenal sebagai Batu Menangis. Orang-orang percaya, pada saat tertentu batu itu masih meneteskan air seperti air mata penyesalan. Kisah ini menjadi pengingat bagi setiap anak: jangan pernah malu pada orang tua yang telah berkorban untuk kita, sebab penyesalan selalu datang terlambat.