c
cerpen.web.id suara & bisikan sastra
Kembali
Ukuran Teks:
Legenda

Si Pahit Lidah

CR
Cerita Rakyat Nusantara

Diterbitkan 25 Juni 2026 • 2 Menit Baca

Di tanah Sumatra bagian selatan, hiduplah seorang pangeran bernama Serunting. Ia sakti dan pemberani, tetapi juga mudah iri hati. Ia tinggal berdampingan dengan kakak iparnya, Aria Tebing, dan ladang mereka hanya dipisahkan sebatang pohon besar.

Di bawah pohon itu tumbuh jamur. Anehnya, jamur yang tumbuh di sisi ladang Aria Tebing selalu berubah menjadi emas, sedangkan jamur di sisi ladang Serunting hanya menjadi tanaman biasa. Serunting iri bukan main. Ia menuduh Aria Tebing menggunakan ilmu hitam, dan pertengkaran di antara mereka makin sengit.

Akhirnya mereka bertarung. Serunting sangat sakti; tubuhnya kebal senjata. Aria Tebing kewalahan. Ia lalu membujuk kakaknya, istri Serunting, untuk memberitahu rahasia kesaktian suaminya. Dengan berat hati, sang istri mengungkapkan bahwa kesaktian Serunting tersimpan pada sehelai ilalang yang bergetar meski tak ada angin.

Dalam pertarungan berikutnya, Aria Tebing menusukkan tombaknya ke ilalang itu. Serunting terluka parah. Ia merasa dikhianati oleh istrinya sendiri. Dengan hati hancur, ia pergi meninggalkan kampungnya.

Serunting mengembara ke Gunung Siguntang dan bertapa di bawah pohon bambu. Ia bertapa sampai tubuhnya tertutup daun-daun bambu yang berguguran. Setelah bertahun-tahun, terdengar suara gaib yang menawarinya kesaktian. Serunting menerimanya. Sejak saat itu, apa pun yang ia ucapkan akan menjadi kenyataan. Karena itulah ia dijuluki Si Pahit Lidah.

Dalam perjalanan pulang, ia menguji kesaktiannya. Di sebuah bukit gundul, ia berkata, "Jadilah hutan!" dan seketika bukit itu dipenuhi pepohonan. Tetapi ketika hatinya sedang kesal, ia juga mengutuk. Orang-orang yang tak ramah padanya berubah menjadi batu. Banyak batu-batu besar di Sumatra Selatan yang konon adalah korban kutukan Si Pahit Lidah.

Lama-lama Serunting menyadari bahwa kata-katanya bisa menjadi berkah, tetapi juga bencana. Ia mulai belajar menahan lidahnya. Ia menggunakan kesaktiannya untuk menolong: menghijaukan lahan tandus dan menyuburkan sawah orang-orang miskin.

Kisah Si Pahit Lidah dituturkan turun-temurun sebagai nasihat bahwa lidah adalah senjata yang paling tajam. Kata-kata yang diucapkan dalam amarah tak bisa ditarik kembali, maka jagalah lisan sebaik-baiknya.

Keterangan Salinan

Salinan adaptasi bebas dalam bahasa Indonesia oleh Redaksi cerpen.web.id dari cerita rakyat “Si Pahit Lidah” (Sumatra Selatan). Karya aslinya berstatus domain publik. Seluruh penghargaan atas cerita ini tetap milik para penutur aslinya.

CR

Tentang Penulis: Cerita Rakyat Nusantara

Kisah-kisah turun-temurun dari berbagai daerah di Indonesia, diceritakan ulang oleh redaksi.

Lihat Semua Karya Cerita Rakyat Nusantara →

Tanggapan Pembaca (0)

Cerpen Lain di Legenda

Keong Mas
Legenda 2 Menit Baca

Keong Mas

Di Kerajaan Daha, hiduplah dua orang putri raja: Candra Kirana yang lembut hati dan Dewi Galuh yang pencemburu. Candra Kirana telah ditunangkan dengan Raden Inu Kertapati, putra mahkota Kerajaan Kahur...

Joko Kendil
Legenda 2 Menit Baca

Joko Kendil

Di sebuah desa, hiduplah seorang janda miskin bernama Mbok Rondo. Ia sangat mendambakan seorang anak. Setelah bertahun-tahun berdoa, ia akhirnya melahirkan seorang bayi laki-laki. Tetapi bayi itu berb...