Di sebuah kampung di Soppeng, dahulu penduduknya hidup dalam ketakutan. Setiap malam, anak-anak kecil menghilang satu per satu dari rumah mereka. Tak ada yang tahu siapa pelakunya, sampai seseorang melihatnya: seorang nenek tua bertubuh tinggi, berambut panjang kusut, dengan kuku-kuku yang tajam. Ia adalah Nenek Pakande, makhluk jahat yang suka memangsa anak-anak.
Setiap senja, para ibu memanggil anak-anak mereka masuk ke rumah dan mengunci pintu rapat-rapat. Mereka tak berani keluar setelah gelap. Tetapi Nenek Pakande tetap datang. Ia bisa menirukan suara orang tua, memanggil anak-anak dengan lembut agar mereka membuka pintu.
Para tetua kampung berkumpul. Mereka sudah mencoba berbagai cara, tetapi Nenek Pakande terlalu sakti untuk dilawan dengan senjata. Seorang pemuda cerdik bernama La Beddu mengajukan diri. "Aku punya akal," katanya. "Nenek Pakande memang sakti, tetapi setiap makhluk punya rasa takut. Dan kudengar ia sangat takut pada Raksasa Bulu Tellu, raksasa dari gunung."
La Beddu menyusun rencana. Ia mengumpulkan beberapa benda: sebuah kulit kerbau, sebuah panci besar, seekor belut, dan sebuah ulekan batu. Lalu ia bersembunyi di atas loteng rumah seorang warga yang anaknya sering menjadi incaran.
Tengah malam, Nenek Pakande datang. Ia menirukan suara sang ibu memanggil anaknya. Tiba-tiba dari atas loteng terdengar suara menggelegar, "Siapa yang berani masuk ke wilayahku? Aku Raksasa Bulu Tellu!" La Beddu berbicara ke dalam panci besar sehingga suaranya bergema menakutkan.
Nenek Pakande terkejut. "Raksasa Bulu Tellu? Buktikan kalau kau benar-benar raksasa!"
"Lihatlah kulitku!" seru La Beddu sambil menjatuhkan kulit kerbau yang kasar dan tebal. Nenek Pakande meraba kulit itu dan mulai gemetar.
"Lihatlah ususku!" La Beddu menjatuhkan belut yang licin dan menggeliat. Nenek Pakande makin ketakutan.
"Dan lihatlah kutu di kepalaku!" La Beddu menjatuhkan ulekan batu yang berat, tepat mengenai kaki Nenek Pakande. "Kalau kutunya saja sebesar ini, bayangkan betapa besar kepalaku!"
Nenek Pakande menjerit ketakutan. Ia lari tunggang-langgang meninggalkan kampung itu, dan tak pernah kembali lagi.
Sejak saat itu, kampung itu hidup tenang. La Beddu dihormati sebagai pahlawan. Hingga kini, para orang tua di Sulawesi Selatan masih menakut-nakuti anak-anak mereka dengan nama Nenek Pakande agar tak bermain di luar rumah saat magrib. Kisah ini juga mengajarkan bahwa akal dan keberanian bisa mengalahkan kekuatan yang paling menakutkan sekalipun.