c
cerpen.web.id suara & bisikan sastra
Kembali
Ukuran Teks:
Mistery

Penjaga Sinyal Kereta

CD
Charles Dickens

Diterbitkan 3 September 2026 • 4 Menit Baca

"Halo! Di bawah sana!"

Ketika ia mendengar suaraku memanggil, ia sedang berdiri di depan pintu posnya dengan bendera tergulung di tangan. Mengingat letak tempat itu, orang pasti mengira ia tak akan bingung dari mana suara itu berasal. Tetapi alih-alih mendongak ke arahku yang berdiri di atas tebing curam tepat di atasnya, ia justru berbalik dan menatap ke arah terowongan kereta api.

Aku harus menuruni jalan setapak zig-zag yang dipahat di batu basah untuk mencapainya. Pos penjaga sinyal itu berada di dasar sebuah ngarai yang dalam, lembap, dan sunyi, dengan dinding batu menjulang di kiri-kanan dan hanya secarik langit yang tampak di atas. Di satu sisi ada mulut terowongan yang hitam dan menakutkan. Tempat itu begitu suram hingga terasa seperti dunia lain.

Penjaga sinyal itu lelaki pucat berjanggut gelap dengan alis tebal. Ia menatapku dengan cara yang aneh, seolah takut padaku. "Anda tampak seperti pernah melihat saya sebelumnya," kataku bercanda.

"Saya kira pernah melihat Anda di sana," katanya sambil menunjuk lampu merah di mulut terowongan. Aku meyakinkannya bahwa aku tak pernah ke sana, dan ia tampak lega.

Kami berbincang di posnya. Ia lelaki terpelajar, pernah belajar ilmu alam, tetapi menyia-nyiakan kesempatannya di masa muda. Kini ia bekerja di tempat terpencil ini dan menerima nasibnya. Pekerjaannya membutuhkan kewaspadaan: memperhatikan bel telegraf, menjawab pesan, menjaga lampu, dan mengibarkan bendera. Dua kali saat kami berbincang, ia melirik ke bel kecil yang tidak berbunyi, dengan wajah pucat.

Sebelum aku pulang, ia berkata, "Datanglah besok malam. Saya ingin menceritakan sesuatu. Dan satu hal lagi: ketika Anda memanggil tadi, mengapa Anda berteriak 'Halo! Di bawah sana!'?"

"Entahlah. Kebetulan saja."

"Kata-kata itu," katanya pelan, "sangat saya kenal."

Malam berikutnya aku datang, dan ia menceritakan rahasianya. Setahun lalu, pada suatu malam, ia mendengar suara berteriak, "Halo! Di bawah sana!" Ia keluar dan melihat sosok berdiri di dekat lampu merah di mulut terowongan. Sosok itu menutupi wajahnya dengan lengan kiri dan melambaikan lengan kanannya dengan panik, seolah berkata, "Minggir! Minggir!" Ia berlari mendekat, tetapi sosok itu lenyap.

Enam jam kemudian, terjadi kecelakaan kereta yang mengerikan di terowongan itu. Banyak korban tewas dan terluka dibawa melewati tempat di mana sosok itu berdiri.

Enam atau tujuh bulan kemudian, sosok itu muncul lagi di dekat lampu merah. Kali ini ia tak melambai. Ia hanya menutupi wajahnya dengan kedua tangan, seperti orang yang sedang berduka. Hari itu, seorang perempuan muda meninggal mendadak di dalam salah satu gerbong kereta yang melintas, dan jasadnya diturunkan di depan posnya.

"Dan sekarang," katanya dengan suara gemetar, "sosok itu datang lagi. Seminggu ini ia muncul berulang kali di dekat lampu merah itu. Ia melambai seperti dulu, menutup wajahnya, dan berteriak, 'Halo! Di bawah sana! Awas! Awas!' Ia juga membunyikan bel saya, bel yang tak berbunyi bagi orang lain. Apa yang harus saya lakukan? Peringatan apa ini? Bahaya apa yang akan datang? Kalau saya melapor ke atasan, mereka akan menganggap saya gila. Saya tahu sesuatu yang mengerikan akan terjadi, tetapi saya tak tahu apa dan di mana."

Aku menenangkannya sebisaku, dan berjanji akan datang lagi esok malam untuk menemaninya, dan menyarankan agar ia menemui dokter.

Esok sorenya, ketika aku sampai di tepi ngarai, aku melihat sesosok lelaki di dekat mulut terowongan, menutupi matanya dengan lengan kiri dan melambaikan lengan kanannya. Jantungku seakan berhenti. Tetapi itu lelaki sungguhan, dan di dekatnya berkerumun beberapa orang. Lampu sinyal belum dinyalakan.

Aku berlari menuruni jalan setapak. "Apa yang terjadi?"

"Penjaga sinyal tewas pagi ini, Tuan."

"Penjaga di pos itu?"

"Ya. Tertabrak kereta. Ia berdiri di rel, dan tak tahu kereta datang dari arah terowongan."

Masinis kereta itu, yang masih gemetar, bercerita kepadaku. "Saya keluar dari tikungan terowongan dan melihatnya di ujung sana. Saya tak sempat mengerem. Ia sepertinya tak mendengar peluit. Saya membunyikan peluit berulang kali dan berteriak sekeras-kerasnya kepadanya."

"Apa yang Anda teriakkan?"

"Saya berteriak, 'Halo! Di bawah sana! Awas! Awas!' Dan saya menutupi mata dengan lengan kiri karena tak sanggup melihat, dan melambai-lambaikan lengan kanan sampai detik terakhir. Tapi tak ada gunanya."

Tanpa memperpanjang kisah ini, aku hanya ingin menyebutkan satu keanehan. Kata-kata yang diteriakkan masinis itu adalah kata-kata yang selama ini menghantui penjaga sinyal yang malang itu. Dan gerakan yang ia gambarkan, menutup mata dengan lengan kiri dan melambai dengan lengan kanan, bukan hanya gerakannya. Itu juga gerakan yang ia tunjukkan kepadaku, dan yang dalam benakku sendiri, telah kutambahkan pada kisah yang ia ceritakan.

Keterangan Salinan

Salinan adaptasi bebas dalam bahasa Indonesia oleh Redaksi cerpen.web.id dari “The Signal-Man” karya Charles Dickens (Inggris, 1866). Karya aslinya berstatus domain publik. Seluruh penghargaan atas cerita ini tetap milik penulis aslinya.

CD

Tentang Penulis: Charles Dickens

Novelis Inggris (1812–1870).

Lihat Semua Karya Charles Dickens →

Tanggapan Pembaca (0)

Cerpen Lain di Mistery

Rashomon
Mistery 3 Menit Baca

Rashomon

Pada suatu senja, seorang pelayan rendahan berteduh dari hujan di bawah Gerbang Rashomon. Tak ada orang lain di bawah gerbang yang besar itu. Hanya seekor jangkrik yang hinggap di sebuah tiang merah b...

Misteri Lata Kinjang
Mistery 4 Menit Baca

Misteri Lata Kinjang

HUTAN Lipur Lata Kinjang (HLLK) yang dikunjungi ramai saban minggu, sebenarnya menyimpan cerita misteri yang sangat unik dan penuh lagenda yang hanya diketahui oleh segelintir masyarakat setempat saha...