c
cerpen.web.id suara & bisikan sastra
Kembali
Ukuran Teks:
Mistery

Topeng Kematian Merah

EA
Edgar Allan Poe

Diterbitkan 1 September 2026 • 4 Menit Baca

"Kematian Merah" telah lama melanda negeri itu. Belum pernah ada wabah yang begitu mematikan dan mengerikan. Darah adalah tanda dan meterainya: merah dan menakutkan. Penyakit itu datang dengan rasa sakit yang tajam, pusing tiba-tiba, lalu darah mengucur deras dari pori-pori, dan kematian. Noda-noda merah di tubuh, terutama di wajah, membuat korbannya dijauhi oleh siapa pun. Seluruh proses itu, dari serangan pertama hingga kematian, hanya berlangsung setengah jam.

Tetapi Pangeran Prospero bahagia, tak kenal takut, dan cerdik. Ketika separuh rakyatnya sudah mati, ia memanggil seribu kawan-kawannya yang sehat dan riang dari kalangan bangsawan, lalu mengasingkan diri bersama mereka di sebuah biara berbenteng yang megah. Tembok tinggi mengelilinginya, dengan gerbang besi yang dilas rapat, sehingga tak ada jalan masuk maupun keluar. Biara itu dipenuhi persediaan. Dunia luar biarlah mengurus dirinya sendiri. Di dalam ada badut, penari, pemusik, keindahan, dan anggur. Di dalam ada keselamatan. Di luar ada Kematian Merah.

Menjelang akhir bulan kelima atau keenam pengasingan mereka, ketika wabah mengamuk paling ganas di luar, Pangeran Prospero mengadakan pesta topeng yang paling megah.

Pesta itu diadakan di tujuh ruangan yang berderet berkelok-kelok, sehingga dari satu ruangan hanya bisa terlihat ruangan berikutnya. Setiap ruangan dihiasi dengan satu warna, dan jendela kaca patri setiap ruangan sewarna dengan dekorasinya. Ruangan paling timur berwarna biru. Yang kedua ungu. Yang ketiga hijau, keempat jingga, kelima putih, keenam lembayung. Ruangan ketujuh diselubungi beludru hitam, tetapi jendelanya berwarna merah darah pekat. Tak ada lampu di dalam ruangan-ruangan itu. Cahaya berasal dari tungku api di luar setiap jendela, yang memancarkan sinar melalui kaca berwarna dan menciptakan penampakan yang ganjil. Di ruangan hitam, cahaya merah darah yang menembus kaca begitu mengerikan, sehingga hanya sedikit tamu yang berani masuk.

Di ruangan itu pula, di dinding barat, berdiri sebuah jam raksasa dari kayu eboni. Pendulumnya berayun dengan dentang yang berat dan monoton. Setiap kali jam itu berdentang menandai pergantian jam, suaranya begitu aneh sehingga para pemusik berhenti bermain, para penari berhenti menari, dan seluruh pesta terdiam sejenak. Wajah-wajah yang paling riang pun menjadi pucat. Setelah gema terakhir hilang, mereka tertawa gugup dan berjanji tak akan terpengaruh lagi pada dentang berikutnya. Tetapi setiap jam, hal itu terulang.

Meski begitu, pesta itu tetap meriah. Para tamu mengenakan kostum yang aneh dan fantastis, seperti mimpi-mimpi yang berjalan ke sana kemari.

Ketika jam eboni mulai berdentang tengah malam, dan musik berhenti seperti biasa, banyak tamu yang sempat melihat sesosok bertopeng yang tak pernah mereka lihat sebelumnya. Kabar tentang tamu baru itu menyebar dalam bisik-bisik, lalu menjadi dengung ketidaksukaan, keheranan, akhirnya ketakutan dan kengerian.

Sosok itu jangkung dan kurus, terbungkus kain kafan dari kepala sampai kaki. Topeng yang menutupi wajahnya dibuat begitu mirip wajah mayat yang kaku, sehingga pengamat paling cermat pun akan sulit menemukan kepalsuannya. Semua itu mungkin masih bisa ditoleransi oleh para tamu yang gila pesta ini. Tetapi sosok itu telah melampaui batas. Ia menyamar sebagai Kematian Merah. Kain kafannya berlumuran darah, dan wajahnya bertabur noda-noda merah yang mengerikan.

Ketika mata Pangeran Prospero menangkap sosok itu, tubuhnya gemetar, lalu wajahnya merah padam karena marah. "Siapa yang berani?" tanyanya parau. "Siapa yang berani menghina kita dengan olok-olok keji ini? Tangkap dia, dan buka topengnya! Biar kita tahu siapa yang akan digantung di benteng saat matahari terbit!"

Tetapi tak ada yang berani mendekat. Sosok itu berjalan perlahan dengan langkah khidmat, melewati ruangan biru, ungu, hijau, jingga, putih, dan lembayung. Pangeran Prospero, murka dan malu atas ketakutannya sendiri, menghunus belati dan berlari mengejarnya. Ketika sosok itu mencapai ujung ruangan hitam, ia tiba-tiba berbalik menghadap pangeran. Terdengar jeritan tajam, dan belati itu jatuh berkilau ke karpet hitam. Sesaat kemudian Pangeran Prospero jatuh tersungkur tak bernyawa.

Para tamu, dengan keberanian yang lahir dari keputusasaan, menyerbu ke ruangan hitam itu dan mencengkeram sosok bertopeng yang berdiri diam di bayang-bayang jam eboni. Mereka terkesiap ngeri. Di balik kain kafan dan topeng mayat itu, tak ada apa-apa. Tak ada wujud yang bisa dipegang.

Dan kini diakui kehadiran Kematian Merah. Ia datang seperti pencuri di malam hari. Satu per satu para tamu jatuh di ruangan-ruangan pesta yang berlumuran darah, dan masing-masing mati dalam posisi ketika ia terjatuh. Nyawa jam eboni itu padam bersama tamu terakhir. Api di tungku-tungku pun padam. Dan Kegelapan, Kehancuran, dan Kematian Merah berkuasa tanpa batas atas segalanya.

Keterangan Salinan

Salinan adaptasi bebas dalam bahasa Indonesia oleh Redaksi cerpen.web.id dari “The Masque of the Red Death” karya Edgar Allan Poe (Amerika Serikat, 1842). Karya aslinya berstatus domain publik. Seluruh penghargaan atas cerita ini tetap milik penulis aslinya.

EA

Tentang Penulis: Edgar Allan Poe

Penulis dan penyair Amerika (1809–1849), pelopor kisah misteri dan horor.

Lihat Semua Karya Edgar Allan Poe →

Tanggapan Pembaca (0)

Cerpen Lain di Mistery

Kucing Hitam
Mistery 5 Menit Baca

Kucing Hitam

Kisah yang akan kutulis ini sangat liar, tetapi juga sangat biasa. Aku tak berharap kalian mempercayainya. Aku gila bila mengharapkannya, karena indraku sendiri menolak bukti-buktinya. Tetapi aku tida...

Misteri Hantu Taratih
Mistery 2 Menit Baca

Misteri Hantu Taratih

Kejadian ini sudah berlangsung cukup lama saat itu aq baru bisa-bisanya naik motor, biasa orang baru bisa suka coba-coba. Saat itu malam minggu nga ada bulan sepupuku kebetulan main kerumah dan bawa m...

Di Atas Sungai
Mistery 3 Menit Baca

Di Atas Sungai

Musim panas lalu, aku menyewa sebuah pondok di tepi Sungai Seine, beberapa mil dari Paris, dan setiap malam aku tidur di sana. Setelah beberapa hari, aku berkenalan dengan tetanggaku, seorang lelaki b...