Pada suatu hari musim gugur yang muram, gelap, dan sunyi, ketika awan menggantung rendah di langit, aku berkuda seorang diri melintasi daerah yang suram, dan menjelang senja tiba di hadapan rumah keluarga Usher. Begitu melihat bangunan itu, aku merasakan kesuraman yang tak tertahankan menusuk jiwaku.
Dinding-dindingnya dingin dan kelabu, jendela-jendelanya kosong seperti mata yang tak bernyawa. Sebuah retakan tipis menjalar dari atap hingga ke dasar tembok, lalu menghilang ke dalam air telaga yang hitam dan diam di depannya.
Pemilik rumah itu, Roderick Usher, adalah sahabatku semasa kecil. Ia mengirimiku surat yang penuh kegelisahan, memintaku datang untuk menemaninya. Ia menderita penyakit saraf yang parah, dan ia sangat membutuhkan seorang kawan.
Ketika aku bertemu dengannya, aku hampir tak mengenalinya. Wajahnya pucat seperti mayat, matanya berkilat liar, dan rambutnya panjang tak terurus. Indranya menjadi sangat peka hingga menyakitkan. Ia hanya bisa makan makanan yang paling hambar, hanya tahan pakaian yang paling lembut, dan tak bisa melihat cahaya yang terang. Ia hidup dalam ketakutan yang terus-menerus, ketakutan pada sesuatu yang tak bisa ia namai.
"Aku akan mati karena kebodohan yang menyedihkan ini," katanya. "Aku tak takut pada bahaya. Aku takut pada ketakutan itu sendiri."
Ia tinggal di rumah itu bersama saudari kembarnya, Madeline, yang sakit parah dengan penyakit misterius. Tubuhnya makin kurus, dan kadang-kadang ia jatuh dalam keadaan kaku seperti mati. Aku sempat melihatnya melintas di ujung ruangan seperti hantu, lalu menghilang.
Beberapa hari kemudian, Roderick memberitahuku bahwa Madeline telah meninggal. Ia ingin menyimpan jasad saudarinya di sebuah ruang bawah tanah di dalam rumah selama dua minggu sebelum dikuburkan, agar tak diganggu oleh para dokter yang penasaran. Aku membantunya membawa peti itu ke ruang bawah tanah yang lembap. Sebelum peti ditutup, aku melihat wajah Madeline. Anehnya, ada rona merah samar di pipinya, dan senyum tipis di bibirnya, seperti yang kadang terlihat pada orang yang meninggal dalam keadaan kaku.
Setelah itu, keadaan Roderick makin buruk. Ia mondar-mandir tanpa tujuan, menatap ke udara berjam-jam, seolah mendengarkan suara yang tak terdengar olehku.
Tujuh atau delapan hari kemudian, pada suatu malam badai, Roderick masuk ke kamarku dengan mata liar. Aku berusaha menenangkannya dengan membacakan sebuah buku tua. Ketika aku membaca bagian tentang seorang ksatria yang mendobrak pintu, dari kejauhan di dalam rumah terdengar suara retakan yang sama. Ketika aku membaca bagian tentang naga yang menjerit, terdengar jeritan samar dari bawah. Ketika aku membaca tentang perisai yang jatuh berdentang, terdengar bunyi logam berdentang dari ruang bawah tanah.
Roderick duduk gemetar, bergumam cepat. "Tidakkah kau dengar? Aku sudah mendengarnya berhari-hari. Kita menguburnya hidup-hidup! Aku sudah mendengar gerakannya di dalam peti sejak berhari-hari, tapi aku tak berani bicara! Dan sekarang, suara-suara itu... itu suaranya memecahkan peti, suara engsel pintu besi ruang bawah tanah! Ke mana aku harus lari? Bukankah ia akan segera ke sini? Dia sudah berdiri di balik pintu!"
Pintu kamar terbuka perlahan. Di ambangnya berdiri Madeline Usher, dengan kain kafan berlumuran darah, tubuhnya kurus dan penuh luka bekas perjuangannya keluar dari peti. Ia terhuyung-huyung di ambang pintu, lalu dengan jeritan rendah ia jatuh menimpa saudaranya. Dalam pergulatan terakhirnya, ia menyeret Roderick ke lantai. Roderick meninggal karena ketakutan yang telah lama ia ramalkan.
Aku lari dari kamar itu, dari rumah itu. Badai masih mengamuk ketika aku menyeberangi jalan setapak. Tiba-tiba cahaya aneh menyinari jalanku. Aku menoleh. Cahaya itu berasal dari bulan purnama merah darah yang bersinar melalui retakan di dinding rumah itu. Retakan itu melebar dengan cepat. Angin menderu, dan tembok-tembok besar itu runtuh berderak-derak dengan suara seperti ribuan air terjun. Telaga hitam yang dalam di kakiku menelan dengan diam puing-puing Rumah Usher.