Aku sakit, sakit sampai hampir mati karena penderitaan yang panjang itu. Ketika akhirnya mereka melepaskan ikatanku dan aku diizinkan duduk, aku merasa kesadaranku hilang. Kalimat terakhir yang kudengar adalah vonis kematian dari para hakim Inkuisisi di Toledo, bibir mereka yang pucat dan tipis bergerak dengan kejam. Lalu kegelapan menelanku.
Ketika sadar, aku terbaring telentang di tempat yang sangat gelap. Aku takut membuka mata. Ketika akhirnya membukanya, kegelapan itu begitu pekat sehingga aku tak yakin apakah mataku benar-benar terbuka. Aku bangkit dan meraba-raba dinding. Dindingnya licin dan dingin seperti batu. Aku mulai berjalan menyusuri dinding untuk mengukur luas penjaraku.
Aku tersandung dan jatuh tertelungkup. Daguku bersandar di lantai, tetapi bibir dan kepalaku tak menyentuh apa-apa. Dahiku merasakan udara lembap berbau jamur busuk yang naik dari bawah. Aku menyadari bahwa aku berada di tepi sebuah sumur yang sangat dalam. Aku mencongkel sebongkah batu kecil dan menjatuhkannya. Lama sekali baru terdengar suara batu itu jatuh ke dalam air di dasar sumur. Seandainya aku tak tersandung, aku akan jatuh ke dalam sumur itu. Inilah jenis kematian yang disiapkan untukku.
Aku kembali tertidur karena kelelahan. Ketika bangun, ada roti dan sebuah kendi air di sampingku. Aku minum dengan rakus. Air itu pasti diberi obat, karena aku langsung tertidur lagi. Ketika bangun untuk kedua kalinya, ruangan itu diterangi cahaya samar kehijauan. Aku terikat di atas sebuah rangka kayu yang rendah, dengan tali panjang yang melilit seluruh tubuhku, sehingga hanya kepala dan tangan kiriku yang bisa bergerak. Di dekatku ada sepiring daging yang sangat asin, tetapi tak ada air.
Aku memandang ke langit-langit, yang tingginya tiga puluh atau empat puluh kaki. Di sana tergantung sebuah bandul raksasa, seperti bandul jam. Bentuknya bulan sabit dari baja, dengan mata pisau yang setajam silet. Bandul itu berayun perlahan dari kiri ke kanan, dengan desisan yang mengerikan. Dan setiap kali berayun, bandul itu turun sedikit, sangat sedikit, menuju dadaku.
Aku menghitung waktu dengan ayunan itu. Jam demi jam, hari demi hari, bandul itu terus turun. Aku berteriak, aku berdoa, aku meronta, tetapi tali itu tak bergeming. Bandul itu terus turun. Aku bisa mencium bau baja yang tajam. Kini bandul itu berayun hanya beberapa inci dari dadaku, siap mengiris jubahku, kulitku, dan jantungku.
Lalu aku melihat tikus-tikus. Ratusan tikus kelaparan keluar dari sumur, tertarik oleh bau daging di piring. Aku mendapat akal. Dengan tangan kiriku yang bebas, aku mengoleskan sisa daging yang berminyak itu ke tali yang mengikatku. Lalu aku berbaring diam, menahan napas.
Tikus-tikus itu awalnya ragu. Lalu satu, dua, lalu puluhan tikus melompat ke atas tubuhku, menggerogoti tali yang berlumuran minyak daging. Mereka merayap di atas tubuhku, di leherku, di wajahku. Aku hampir mati karena jijik. Tetapi aku tetap diam. Bandul itu makin turun, dan kini sudah mengiris jubahku. Tiba-tiba tali itu putus. Aku mengibaskan tikus-tikus itu dan menggulingkan diri ke samping, tepat sebelum bandul itu mengiris dadaku.
Bandul itu langsung berhenti berayun, lalu ditarik ke atas, menghilang melalui langit-langit. Mereka mengawasiku. Lalu dinding-dinding besi di sekeliling ruangan itu mulai memanas dan menyala merah. Dinding-dinding itu bergerak, mendorongku ke tengah ruangan, menuju mulut sumur yang menganga. Panasnya tak tertahankan. Aku terdorong makin dekat ke tepi. Kakiku sudah berada di bibir sumur. Aku tak bisa lagi menahan diri. Aku menjerit panjang dan keras untuk terakhir kalinya, dan tubuhku terhuyung ke dalam jurang.
Tiba-tiba terdengar riuh suara manusia. Terompet berbunyi keras seperti gemuruh guntur. Dinding-dinding panas itu mundur. Sebuah tangan terulur dan mencengkeram lenganku tepat ketika aku jatuh pingsan ke dalam sumur. Itu tangan Jenderal Lasalle. Tentara Prancis telah memasuki Toledo. Inkuisisi berada di tangan musuh-musuhnya.