c
cerpen.web.id suara & bisikan sastra
Kembali
Ukuran Teks:
Mistery

Cakar Monyet

WW
W. W. Jacobs

Diterbitkan 2 September 2026 • 4 Menit Baca

Malam itu dingin dan basah, tetapi di ruang tamu kecil keluarga White, tirai sudah ditutup dan api menyala terang di perapian. Tuan White sedang bermain catur dengan putranya, Herbert, sementara Nyonya White merajut di dekat api.

Gerbang berderit, dan langkah berat terdengar mendekati pintu. Tamu yang ditunggu datang: Sersan Mayor Morris, kawan lama Tuan White yang baru pulang setelah dua puluh satu tahun bertugas di India. Setelah minum wiski dan bercerita tentang perang dan wabah di negeri-negeri asing, Morris menyinggung soal cakar monyet.

"Cuma sesuatu yang bisa disebut sihir," katanya enggan. Ia merogoh sakunya dan mengeluarkan sesuatu yang kecil, kering, dan keriput seperti mumi. "Seorang fakir tua memberinya kekuatan. Ia ingin menunjukkan bahwa takdir mengatur hidup manusia, dan bahwa mereka yang ikut campur akan menyesal. Cakar ini bisa mengabulkan tiga permintaan untuk tiga orang."

"Apakah Anda sudah memakainya?" tanya Herbert.

"Sudah," jawab Morris, wajahnya memucat. "Orang pertama yang memilikinya meminta tiga permintaan. Aku tak tahu dua yang pertama, tapi yang ketiga adalah kematian. Karena itulah cakar ini sampai padaku." Ia tiba-tiba melemparkan cakar itu ke perapian. Tuan White buru-buru memungutnya.

"Kalau tak mau, berikan saja padaku," kata Tuan White.

"Aku tak mau bertanggung jawab," kata Morris. "Buang saja ke api. Tapi kalau kau tetap mau memintanya, mintalah sesuatu yang masuk akal."

Setelah tamunya pulang, Herbert tertawa. "Ayah, minta saja jadi kaisar. Atau minta dua ratus pound untuk melunasi cicilan rumah."

Tuan White memegang cakar itu dan berkata dengan suara malu, "Aku ingin dua ratus pound." Tiba-tiba ia berteriak. "Cakar itu bergerak! Ia menggeliat di tanganku seperti ular!" Tetapi tak ada uang yang muncul. Mereka tertawa dan pergi tidur.

Esok siangnya, seorang lelaki asing berpakaian rapi datang dengan ragu-ragu. Ia mewakili perusahaan Maw and Meggins, tempat Herbert bekerja. "Saya menyesal harus menyampaikan kabar ini," katanya. "Putra Anda terjepit mesin. Ia... tidak selamat."

Nyonya White menjerit. Tuan White berdiri kaku, memandang ke luar jendela.

"Perusahaan tidak mengakui tanggung jawab apa pun," lanjut tamu itu, "tetapi sebagai penghargaan atas jasa putra Anda, mereka ingin memberi Anda uang ganti rugi." Ia menyebutkan jumlahnya.

"Berapa?" bisik Tuan White.

"Dua ratus pound."

Tuan White tak mendengar jeritan istrinya. Ia tersenyum samar, mengangkat tangannya seperti orang buta, lalu jatuh pingsan.

Herbert dimakamkan di pemakaman yang berjarak dua mil dari rumah. Seminggu kemudian, di tengah malam, Nyonya White tiba-tiba terbangun sambil menjerit. "Cakar monyet itu! Di mana cakarnya?"

"Di ruang tamu, di atas rak. Kenapa?"

"Kita masih punya dua permintaan lagi!" serunya dengan mata liar. "Ambil cakar itu, dan minta agar anak kita hidup kembali!"

Tuan White gemetar. "Ya Tuhan, kau sudah gila!"

"Ambil! Cepat! Ia anak kita!"

Tuan White turun ke ruang tamu yang gelap dan meraba-raba rak itu. Ia kembali dengan cakar itu. Istrinya memaksanya. Dengan suara bergetar, ia berkata, "Aku ingin anakku hidup kembali."

Tak ada yang terjadi. Mereka menunggu dalam gelap. Lilin padam. Tuan White kembali ke ranjang, lega bahwa cakar itu tak berhasil.

Lalu terdengar ketukan. Pelan sekali, di pintu depan.

Tuan White membeku. Ketukan itu terdengar lagi. Istrinya melompat. "Itu Herbert! Itu Herbert!" Ia berlari menuruni tangga.

"Jangan buka pintunya!" bisik Tuan White ngeri. Ia teringat kata-kata tamu dari perusahaan: tubuh Herbert terjepit mesin, rusak parah, dan sudah sepuluh hari terkubur.

Ketukan itu makin keras, bertubi-tubi, bergema di seluruh rumah. Nyonya White menarik kursi ke pintu untuk meraih grendel atas. "Aku tak sampai! Turunkan grendelnya! Cepat!"

Tuan White merangkak di lantai dalam kegelapan, mencari-cari cakar monyet dengan panik. Kalau saja ia bisa menemukannya sebelum sesuatu di luar itu masuk. Ketukan menggema. Ia mendengar derit kursi ketika istrinya menaikinya. Ia mendengar grendel ditarik perlahan. Tepat saat itu tangannya menemukan cakar monyet, dan dengan napas tersengal ia mengucapkan permintaan ketiga dan terakhirnya.

Ketukan itu berhenti tiba-tiba, meski gemanya masih terdengar di lorong. Ia mendengar kursi ditarik mundur dan pintu dibuka. Angin dingin berembus masuk menaiki tangga. Lalu terdengar ratapan panjang yang pilu dari istrinya. Ia memberanikan diri berlari ke sisinya, lalu ke gerbang. Lampu jalan yang berkedip-kedip di seberang menyinari jalanan yang sepi dan kosong.

Keterangan Salinan

Salinan adaptasi bebas dalam bahasa Indonesia oleh Redaksi cerpen.web.id dari “The Monkey's Paw” karya W. W. Jacobs (Inggris, 1902). Karya aslinya berstatus domain publik. Seluruh penghargaan atas cerita ini tetap milik penulis aslinya.

WW

Tentang Penulis: W. W. Jacobs

Penulis Inggris (1863–1943).

Lihat Semua Karya W. W. Jacobs →

Tanggapan Pembaca (0)

Cerpen Lain di Mistery

Kucing Hitam
Mistery 5 Menit Baca

Kucing Hitam

Kisah yang akan kutulis ini sangat liar, tetapi juga sangat biasa. Aku tak berharap kalian mempercayainya. Aku gila bila mengharapkannya, karena indraku sendiri menolak bukti-buktinya. Tetapi aku tida...

Potret Oval
Mistery 3 Menit Baca

Potret Oval

Aku terluka parah, dan pelayanku memaksa masuk ke sebuah istana tua yang ditinggalkan di pegunungan Apennine agar aku bisa beristirahat semalam. Kami menempati sebuah kamar kecil di menara terpencil....