Musim panas lalu, aku menyewa sebuah pondok di tepi Sungai Seine, beberapa mil dari Paris, dan setiap malam aku tidur di sana. Setelah beberapa hari, aku berkenalan dengan tetanggaku, seorang lelaki berusia tiga puluhan yang merupakan penggila perahu dayung paling fanatik yang pernah kutemui. Ia menghabiskan seluruh hidupnya di atas air.
Suatu malam, ketika kami berjalan menyusuri tepi sungai, aku memintanya menceritakan pengalaman-pengalaman di sungai. Ia terdiam sejenak, lalu berkata, "Aku punya satu kisah. Mungkin kisah yang paling aneh dalam hidupku."
"Sungai ini," katanya, "tidak seperti laut. Laut itu kejam dan berisik, tapi jujur. Sungai itu diam, tenang, dan penuh rahasia. Airnya selalu mengalir tanpa suara, dan di dasarnya bersembunyi segala macam hal mengerikan. Kau tak pernah tahu apa yang ada di bawah permukaannya yang licin."
"Sekitar sepuluh tahun yang lalu, aku tinggal di sebuah rumah di tepi sungai. Suatu malam, aku mendayung pulang setelah makan malam di rumah seorang kawan. Aku membawa jangkar besar dan sebotol rum. Bulan bersinar indah, dan malam sangat tenang. Aku memutuskan untuk berhenti di tengah sungai, di dekat sebuah rumpun ilalang, untuk menikmati malam sambil merokok pipa."
"Aku melempar jangkar dan duduk tenang. Air sungai berkilauan, katak-katak berbunyi di tepi. Semuanya damai. Tapi tak lama kemudian, aku merasakan perahuku bergoyang sedikit, padahal tak ada angin. Aku mulai merasa aneh. Aku memutuskan pulang. Aku menarik tali jangkar, tapi jangkar itu tak mau terangkat. Aku menarik lebih kuat. Jangkar itu tersangkut sesuatu di dasar sungai."
"Aku menariknya dengan sekuat tenaga. Tak bergerak. Aku mencoba mendayung ke berbagai arah untuk melepaskannya. Tetap tak bisa. Tali itu kokoh dan kuat, dan aku tak membawa pisau untuk memotongnya."
"Malam makin larut. Kabut putih perlahan naik dari permukaan sungai, menyelimuti segalanya. Aku tak bisa lagi melihat tepi sungai. Aku hanya melihat perahuku dan air hitam di sekelilingnya. Katak-katak berhenti berbunyi. Sunyi sekali."
"Aku mulai ketakutan. Bukan ketakutan pada sesuatu yang nyata, tapi ketakutan yang aneh dan tak masuk akal. Aku membayangkan ada sesuatu di dasar sungai yang memegangi jangkarku. Aku membayangkan tangan-tangan dingin dan pucat. Aku membayangkan ada yang naik ke perahuku dari dalam air. Aku minum rum untuk menenangkan diri, tapi ketakutan itu makin menjadi."
"Aku berteriak minta tolong. Suaraku hilang ditelan kabut. Tak ada jawaban. Aku terus menunggu, gemetar, sepanjang malam. Kabut makin tebal, lalu perlahan menipis. Menjelang pagi, bulan tampak di balik kabut, dan kulihat pemandangan yang sangat indah, seperti negeri dongeng. Tapi hatiku masih dicekam ketakutan."
"Akhirnya, ketika fajar menyingsing, dua orang nelayan lewat dengan perahu mereka. Aku berteriak minta tolong. Mereka membantuku menarik jangkar itu. Kami bertiga menarik bersama-sama, dan perlahan-lahan, sesuatu yang berat terangkat dari dasar sungai."
"Jangkar itu tersangkut pada sesuatu yang hitam dan besar. Ketika benda itu naik ke permukaan, kami melihatnya dengan jelas."
Tetanggaku berhenti sejenak dan menatap air sungai yang tenang di depan kami.
"Itu jasad seorang perempuan tua, dengan sebongkah batu besar terikat di lehernya."